Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
138 Darah


__ADS_3

...Flashback On...


Dhea pergi dengan taksi ke tempat pertunangan Fio dan Vean. Dia ingin melihat untuk yang terakhir kalinya mereka, dan memberikan doa meski dari jarak jauh.


"Loh, Dhea, kamu ke sini bawa koper?" tanya pak Revan, kepala sekolah Dhea.


"Iya, Pak. Biar nanti sekalian ke bandara. Pak, jangan bilang-bilang sama Fio saya ada di sini, ya."


"Tapi ...."


"Tolong, Pak."


"Baiklah. Saya pesankan kamar untuk kamu. Ma, tolong pesankan kamar untuk Dhea, ya. Biar sekalian dia bisa istirahat di sana."


"Iya, Pi. Ayo Dhea."


Dhea masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan oleh Aira, istri Revan.


Setelah meletakkan kopernya, Dhea langsung menuju tempat pertunangan Fio.


Di berdiri di dekat pintu, melihat keduanya dari jarak jauh.


Saat cincin akan di pasangkan ke jari Fio, Vean menoleh ke pintu, dan Dhea langsung bersembunyi.


Dhea menggigit bibirnya saat Vean memasangkan cincin itu. Air matanya keluar tanpa bisa dia cegah.


Semoga kalian bahagia, aku ikhlas.

__ADS_1


Dhea langsung berlari ke taman. Duduk sendiri di sana, menatap langit yang cerah.


Aku akan menangis sepuasnya hari ini. Setelah itu, aku akan kembali tersenyum. Bahagia lah kalian. Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, aku harap kita semua sudah bahagia dengan jalannya masing-masing.


Berjam-jam Dhea duduk di taman itu. Ingin menikmati hari terakhirnya berada di kota ini. Setelah merasa puas, dia lalu ke kamarnya.


Pintu kamarnya diketuk, dia membuka pintu dan melihat guru dan kepala sekolahnya, juga para istri mereka sudah menunggu.


"Ayo, sudah waktunya kita pergi."


Mereka semua memasuki mobil. Akan mengantar Dhea, bukan hanya sampai bandara saja, tapi juga Amerika.


Ini adalah pertama kalinya Dhea ke luar negeri, mana mungkin mereka melepaskan Dhea begitu saja, meski mungkin Dhea bisa sendiri dan mandiri.


Acara pertunangan sudah selesai berjam-jam yang lalu, dan Dhea menatap hotel itu untuk yang terakhir kalinya.


Jantung Dhea berdebar, dia merasa cemas.


Mungkin karena aku akan ke luar negeri dalam waktu lama.


Jalanan mulai sedikit tersendat.


"Ada apa, sih?"


"Mungkin ada kecelakaan."


Perasaan Dhea semakin tak karuan. Gadis itu lalu keluar dari mobil, seperti ada sesuatu yang menggerakkan kakinya.

__ADS_1


"Dhea, kamu mau ke mana? Cepat kembali ke mobil!" teriak Danar, gurunya.


Deg


Jantungnya berdetak kencang. Dia tahu, bahkan sangat hapal dengan mobil yang terbalik itu.


Orang-orang sudah mengeluarkan kedua korban dari mobil putih itu.


Kaki Dhea langsung gemetaran. Dia menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kak ... Kak Vean!" Dhea menangis, memeluk tubuh Vean yang bersimbah darah.


"Bangun, Kak!"


"Fio! Bangun Fio, bangun!"


Dhea memeluk keduanya bergantian. Gaun putihnya kini penuh darah.


"Maafkan aku, maafkan aku. Tolong bangun! Jangan tinggalkan aku. Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendiri! Kak ... bangunnn!" Gadis itu menjerit, memeluk dan mengusap darah yang ada di wajah Vean.


"Bangun, Kak. Jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Bangun, Kak. Bangun, Fio!"


Orang-orang bahkan ikut menangis melihat kejadian itu. Bisa mereka rasakan bagaimana kesakitan yang gadis itu rasakan. Bukan sakit fisik, tapi perasaan yang takut melihat kedua orang yang sepertinya sangat berarti baginya itu kini tak berdaya."


"Bangun ...!"


Dhea kembali memeluk mereka. Kini bukan hanya baju putihnya yang bersimbah darah, tapi juga wajah dan rambut gadis itu. Tangannya bergetar memeriksa nafas dari keduanya.

__ADS_1


__ADS_2