Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
134 Terasa Hangat


__ADS_3

"Aaaa ... aarrgghh ... Dhea."


"Vean, sudah."


"Jangan pergi, Dhe."


Mereka mencoba melepaskan Vean dari Dhea, tapi pegangan pria itu sangat kencang.


Hingga akhirnya Vean sudah tidak bisa lagi menjerit, hanya air mata yang keluar.


"Ikhlas kan, Vean. Dhea juga tidak mau kamu seperti ini."


Yang sudah pergi, biarkanlah pergi. Menangislah satu dua hari. Dan berdoalah agar nanti dipertemukan lagi.


Cengkraman itu sangat kuat, wajah Vean memucat, lalu sedikit membiru. Pria itu merasakan nyeri di bagian dadanya.


Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya, hanya keringat dingin besar-besar yang mengalir dari tubuh pria itu.


"Vean!" teriak mereka


Pria itu jatuh dengan wajah membiru.


Bram segera memeriksa keponakannya itu, membuka kancing kemeja Vean.


"Dia mengalami henti jantung!"


Bram menekan dada Vean, mencoba mengembalikan detak jantungnya.


Friska memegang dadanya, dan langsung pingsan melihat anaknya yang tiba-tiba seperti itu.


Juna ikut membantu, sementara yang lain disuruh keluar.


Dhea ... Vean ... kenapa kalian jadi seperti ini. Tuhan, aku mohon, berilah keajaiban itu.


Di luar, mereka hanya bisa menangis. Fio duduk di lantai dengan keadaan kacau.

__ADS_1


Tuhan, aku mohon berilah keajaiban.


Yang lain pun, tak berbeda keinginannya.


Bagaimana bisa mereka mengatakan pada Vean untuk ikhlas, tapi di dalam hati juga ikut merasakan kehancuran. Tetap berdoa agar keajaiban itu ada.


...💦💦💦...


"Kak Vean, Kak Vean ...."


"Dhea, maafkan aku."


"Kak Vean ...."


"Dhea ...."


Vean melihat di depannya, wajah cantik berwajah sedikit pucat, dan selalu cantik.


Vean menatap wajah itu, yang tersenyum padanya. Pandangan mata gadis itu meneduhkan, dan Vean tidak ingin semuanya menghilang.


"Dhea, maafkan aku. Aku menyayangi kami, sangat sayang."


Wajah cantik itu sedikit memerah.


Vean mencoba mendekati Dhea ....


Bugh


"Aduh!"


"Aw!"


Dhea terhuyung ke belakang, dan ditahan oleh Arya.


Vean memegang keningnya yang terasa sakit, karena terbentur kening gadis itu.

__ADS_1


Tunggu dulu ....


Ini, sakit?


Kalau sakit, bukankah berarti ini nyata?


Vean melihat ke sekelilingnya.


Di depannya, penuh dengan sebaik yang sedang memperhatikan dirinya. Ada orang tuanya yang menangis, ada dokter Bram, Tante Bianca dan Juna yang tersenyum, ada Fio dan kedua orang tuanya, ada sahabat-sahabat Dhea, bahkan ada juga Arya dan Erza.


"Ini ... di mana?"


"Baguslah kamu sadar, tadinya aku berpikir untuk menyiapkan tahlilan untuk kamu," ucap Juna, yang langsung mendapatkan jitakan dari Bianca.


"Ini di mana?" tanya Vean lagi, terdengar lebih menuntut, tapi pandangan matanya tidak pernah lepas dari Dhea.


"Yang jelas masih di dunia, malaikat maut mengembalikan kamu ke sini, katanya dirijek dirijek dirijek aja ...."


Sekali lagi, dokter tengil itu mendapatkan jitakan, kali ini dari dokter Bram.


Vean tidak mempedulikan perkataan Juna, dia meraih tangan Dhea, masih dengan suhu tubuh yang sama, yang dia rasakan di kulit itu.


Bram segera memeriksa Vean menggunakan stetoskopnya.


"Istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran!"


Vean masih terdiam. Apa dia kembali berhalusinasi?


"Apa tidak ada yang mau menjelaskan sesuatu padaku?"


"Istirahatlah, Vean."


Vean akhirnya memejamkan mata, mungkin karena efek obat yang diberikan oleh dokter Bram. Tapi tangan pria itu masih tetap menggenggam tangan Dhea.


Mana mungkin aku melepaskannya ....

__ADS_1


__ADS_2