
Seperti sedang di-PHP-in, bahkan lebih buruk lagi dari itu. Sakit tak berdarah, denyutnya lebih menyakitkan daripada apa pun.
Suara Dhea sudah tertelan di tenggorokannya. Dia mencoba mengatur nafasnya, yang terasa berat dan terhimpit.
Vean tidak akan mengatakan apa pun pada gadis yang dia cintai itu.
Tidak akan berkata sabar
Ikhlaskan saja
Ini sudah takdir
Memang sudah jalannya
Karena dia sendiri juga tidak akan sanggup. Dia juga akan mendelik kesal pada orang yang berkata seperti itu padanya, jika dia kehilangan Dhea.
Yang bisa Vean lakukan saat ini hanyalah memeluknya, dan berkata, "Ada aku di sisi kamu."
Fio dan Clara mencoba mengangkat Dhea, agar menjauh dari jasad bu Wati.
"Di mana ibu kamu akan dimakamkan?" tanya Bu Ana.
__ADS_1
Dhea menoleh pada bu Ana.
"Sebagai anaknya, kamu berhak menentukan di mana ibu kamu mau dimakamkan. Apa kamu ingin memakamkannya di kota?"
"Tidak, di sini saja. Ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit, mungkin karena tidak mau jauh dari rumah san kampung halamannya. Makamkan saja ibu di sini. Ibu pasti lebih suka begitu."
Ya, walaupun akan sangat susah untuk Dhea berziarah nanti, tapi dia ingin tetap memakamkan ibunya di sini.
"Mungkin tempat ini penuh kenangan untuk ibu. Mungkin di sini dulu ibu bertemu dengannya."
Bram melihat jasad ibu Wati, berpikir, dan merasa pernah melihat perempuan itu, tapi di mana?
Beberapa saat berlalu, setelah semuanya siap, mereka segara membawa Bu Wati untuk dimakamkan.
"Yah, kenapa diam saja? Ayo," ucap Bianca.
Dokter Bram mengangguk, lalu mengikuti iring-iringan pelayat itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di pemakaman, hanya berjalan kaki lima belas menit saja.
Dhea hanya bisa melihat jasad bu Wati yang perlahan mulai dimasukkan ke liang lahat. Vean mengusap punggung Dhea. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat, agar isak tangisnya bisa tertahan.
Tanah pertama dimasukkan.
__ADS_1
Ibu, aku memaafkan ibu.
Tanah kedua
Beristirahat lah dengan tenang.
Dhea mengatur nafasnya berkali-kali.
Tuhan memberikan aku kesempatan untuk tetap hidup, agar bisa bertemu dengan ibu di sini. Meski hanya bisa sebentar saja, tapi aku tetap harus mensyukurinya, kan?
Terima kasih, karena telah melahirkan aku.
Terima kasih, karena telah menitipkan aku di panti asuhan, bukan menggugurkan aku sejak masih dalam kandungan.
Aku mulai mengerti, kenapa ibu lebih memilih melepaskan aku, mungkin agar aku tidak hidup susah. Ibu wanita yang kuat, yang tetap bertahan hingga saat ini. Bertahan dengan segala keterbatasan.
Beristirahatlah dengan tenang, aku akan baik-baik saja di sini. Maafkan aku yang belum sempat berbakti pada ibu. Maafkan aku yang belum bisa menyenangkan ibu lebih banyak lagi.
Bu, haruskah aku mencari ayah? Tidak, rasanya itu tidak perlu. Aku tidak mau lagi kecewa dan sakit hati. Semangat aku untuk bertemu dengan pria itu, memudar. Melihat ibu yang sendirian seperti ini, sedikit menjelaskan padaku kalau dia mungkin bukan pria baik. Maafkan aku kalau berburuk sangka padanya, tapi ini adalah pilihanku. Aku tidak akan lagi berpikir tentang dirinya.
Dhea menaburkan bunga di atas makam ibunya yang telah tertutup tanah sepenuhnya. Gadis itu mengusap air matanya lagi.
__ADS_1
Memandang langit, dan kembali air mata itu menetes.