
Yuki masih saja sesenggukan meski sudah tidur. Dia masih merasa kesal karena adik bayinya yang ada di perut Dhea gak mau keluar. Yang diberikan Juna juga gak bisa apa-apa selain menangis dan minum.
Vean bernafas lega setelah membaringkan tubuh kecil Yuki. Anaknya itu sangat menggemaskan dengan segala tingkahnya. Banyak saking lucunya, sudah banyak tawaran untuk syuting iklan, mengisi acara, model, bahkan bermain film dan sinetron. Tapi tentu saja Vean menolaknya. Acara yang dilakukan oleh Yuki hanya syuting dengan Faustin dan satu lagi dengan para anak-anak konglomerat itu.
Cukup dua acara itu saja. Bukannya ingin menghalangi hobi anaknya, tapi tidak mau bersikap seolah mengeksploitasi anak.
Tengah malamnya, Yuki terbangun. Dia langsung menatap boneka bayi yang membuat dirinya kesal. Dibukanya empeng bayi itu, yang seketika langsung menangis. Vean yang kaget tentu saja langsung terbangun. Dia membawa Yuki dan Yoko—nama bonekanya, ke kaur kamar, karena takut membangunkan Dhea.
"Ayo, ayo."
"Ayo ke mana, Yuki?"
"Lumah Una."
"Mau apa? Ini masih tengah malam buta."
"Ayooo."
Tidak mau Yuki menangis lagi, Vean menurut saja. Sampai di depan rumah Juna, Yuki langsung berhenti.
Arya yang masih belum tidur karena banyak pekerjaan, mendengar suara langkah kaki. Dia mengintip dari balkon, siapa tahu saja maling, kan.
"Yuki mau tidur di rumah papi Juna?"
"Bayikin aja ini."
Yuki melempar kesal boneka itu, lalu menepuk-nepuk kencang, kemudian melepaskan empengnya. Suara tangis bayi botak di tengah malam, membuat suasana menjadi mistis. Vean yang matanya masih merem melek, tentu saja panik. Dia langsung berlari sambil menggendong Yuki.
Suara bayi itu melengking tinggi. Tidak mau berhenti selama tidak ada yang memasangkan lagi empeng di mulutnya, atau memberikannya minum.
Masalahnya, siapa yang mau memasangkan empeng atau memberi minum? Tahu aja, enggak!
__ADS_1
Yuki sih girang-girang aja digendong oleh Vean, kalau perlu sampai ke gerbang komplek.
Juna, yang kamarnya tepat ada di atas, langsung bangun.
Merinding!
"Kenapa ada suara bayi? Apa Dhea sudah lahiran?"
Padahal itu gak mungkin, karena usia kehamilan Dhea baru empat bulanan.
"Aku kan belum punya anak."
Ya, itu lebih enggak mungkin lagi.
Arya menahan tawanya, meski memang dia akui, ini cukup serem juga. Bayangkan saja, tengah malam ada suara bayi. Bayi siapa, coba?
Di panti, tidak ada bayi. Yang paling kecil saja, usianya di atas Yuki.
Vean sampai ngos-ngosan, bahkan berkeringat.
"Kamu iseng banget. Mau nakut-nakutin papi Juna?"
"Bayikin bayinya."
"Iya, deh."
"Kalian berdua dari mana?" tanya Dhea tiba-tiba.
"Dari dapur."
"Kaya ada yang nangis, ya?"
__ADS_1
"Gak ada, perasaan kamu aja, tuh."
Bukan hanya Dhea, tapi setiap penghuni di rumah lain juga ikut merinding. Mereka jadi gak ada yang bisa tidur.
Yang doa ya doa, yang tutup telinga ya tutup telinga.
"Bayi siapa ya, Bang?" tanya salah satu sekuriti.
"Kita cek aja."
"Gak ah, takut."
"Kita ini sekuriti, masa takut."
"Beda atuh, Bang. Kalau orang jahat, masih bisa kita lawan dengan tenaga. Lah kalau hantu, nanti bisa kesurupan atau ngikuti kita sampai ke rumah."
"Doa, lah."
"Ini dari tadi juga udah doa dalam hati, tapi masih aja ada."
"Mungkin keimanan kamu kurang."
"Emang Abang gak baca doa?"
"Baca, lah."
"Berarti keimanan Abang juga kurang."
Ya, mereka gak tahu aja, ini bukan masalah iman. Cuma masalah empeng yang lepas.
Mau doa sepanjang malam, kalau gada yang mengembalikan empeng itu ke pemiliknya, atau baterainya belum habis, tangisan itu akan terus menghantui mereka sepanjang malam.
__ADS_1
"Kenapa gang ini jadi horor?"