
Tiga hari lagi mereka akan kembali ke Jakarta. Rencananya Dhea akan mengajak salah satu karyawannya yang bekerja di sini untuk ke Jakarta, dalam rangka dinas kerja.
"Ar, kenapa kamu duduknya gelisah terus?"
"Entahlah, aku merasa tidak enak saja."
"Kamu ambeien?"
"Gak lucu, Jun. Perasaanku tidak enak."
"Jangan terlalu banyak pikiran."
...💦💦💦...
Dhea memandang butiknya. Butik pertama yang dia dirikan dengan susah payah. Tadinya dia hanya menjual gaun-gaunnya di apartemen.
Dari hanya beberapa gaun saja hasil rancangannya sendiri, dan hanya dia saja yang bekerja di sini. Di bantu oleh Clara juga. Pembeli pertamanya juga sahabat-sahabatnya. Lalu mereka ikut mempromosikan gaun Dhea.
Di negara ini, aku mulai meniti karir. Meski akhirnya aku tidak jadi mewujudkan impian menjadi seorang dokter, tapi ternyata aku senang bisa melakukan ini.
Dhea mengusap meja kerjanya. Tempat di mana dia membuat design.
...💦💦💦...
Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta. Barang bawaan Dhea begitu banyak, tidak seperti saat dia pergi. Gadis itu membawa banyak coklat, selain untuk dirinya sendiri, juga akan dibagi-bagikan kepada anak-anak panti juga para pekerjanya di butik dan konveksi.
"Kalau memang kurang, kamu bisa memesan lagi. Anak buahku yang akan mengirimkannya."
"Iya, Kak."
Mereka berdoa saat pesawat mulai bergerak.
__ADS_1
...💦💦💦...
Tiba di Jakarta dengan cuaca yang begitu panas meski musim hujan—sedangkan sebaiknya mereka kedinginan karena salju, membuat kepala mereka nyut-nyutan.
"Sepertinya aku harus tidur seharian."
Bagas sudah menjemput mereka di bandara. Begitu juga dengan Erza dan dua orang sopir lainnya.
"Micella, kamu mau menginap di hotel, atau di kosan tempat karyawan konveksi?"
"Di kosan, Nona."
"Oke, kamu bisa ikut dengan Bram, Clara dan Fio."
Dhea sendiri bersama Vean, Arya dan Juna dengan disupiri oleh Erza.
"Cari makan dulu."
"Oh, oke deh, kalau begitu."
Dia jam lebih mereka baru tiba di rumah. Disambut oleh adik-adik yang yang sudah memasak. Selama mereka pergi, rumah mereka juga dibersihkan oleh adik-adik itu.
Micel hanya menatap heran pada mereka yang terlihat dekat satu sama lain.
"Ini Micella, nanti dia akan mengajari kalian lebih banyak lagi."
"Iya, Kak. Salam kenal, Kak Micella."
Micella menatap bingung makanan yang disajikan. Dia memang belum pernah ke Indonesia, bahkan makan makanan Indonesia saja, dia belum pernah.
...💦💦💦...
__ADS_1
"Ibu panti sakit, Kak."
"Apa? Sejak kapan?"
"Sudah satu mingguan."
"Kenapa tidak bilang?"
"Kan Bang Arya dan Kak Khea lagi di Swiss. Kami tidak mau menggangu."
"Ibu sakit apa?"
"Kelelahan mungkin, Kak. Faktor umur juga."
"Nanti aku cari orang deh, buat bantu-bantu di panti. Oya, kamu catat apa saja yang dibutuhkan di panti, biar nanti aku beli."
"Iya, Kak."
Sore harinya Dhea belanja ke supermarket kebutuhan panti, sendirian.
"Maaf," ucap Dhea saat tidak sengaja menabrak seseorang.
"Iya, Mbak. Tidak apa."
Pria itu menatap Dhea, lalu pergi. Saat Dhea melanjutkan langkahnya, pria tadi kembali menoleh ke belakang.
Apa dia orangnya?
Pria itu terus melihat. Dhea yang merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya, menoleh kiri kanan, bahkan menoleh ke belakang. Tapi pria itu sudah lebih dulu memalingkan wajahnya.
Apa perasaanku saja?
__ADS_1
Pria itu juga diam-diam memotret wajah Dhea dari samping, saat gadis itu sedang mengambil beberapa barang dari rak penjualan.