Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
TO Episode.20


__ADS_3

Saat Jani baru ingin melangkah ke tukang bakso. "Lah,lo ngapain ikut keluar juga?" tanya Jani dengan wajah bingung melihat Revin yang ikut keluar dari dalam mobil.


"Emang ada larangannya kalo gw nggak boleh keluar mobil?" tanya Revin.


"Terserah lo," ucap Jani memutar bola mata malas. Ia pun melangkahkan kakinya menuju tukang bakso.


"Mang,baksonya satu ya." pinta Jani pada Abang bakso.


"Baksonya dua." ucap Revin.


Mendengar ucapannya,Jani menatap wajah Revin. "Lo makan bakso juga?" tanya Jani memastikan. Karena jujur saja,ia tak percaya dengan yang Revin ucapkan tadi.


"Iya. Emangnya lo doang yang masih laper. Gw juga masih laper kali." ucap Revin sambil duduk di bangku yang sudah di sediakan oleh Abang baksonya.


"Neng Jani kemana aja? Kok baru keliatan nih?" tanya Abang baksonya yang sedang meracik bakso pesanan Jani.


"Iya nih. Lagi sibuk sekolah Mang." jawab Jani.


Tempat pangkalan bakso itu memang sudah jadi tempat langganan Jani saat ia belum lama tinggal di Indonesia. Maka dari itu Abang baksonya sudah mengenal Jani. Bahkan Jani memanggil Abang bakso itu dengan sebutan Mamang. Ia sudah menganggap Abang bakso itu seperti Pamannya sendiri. Bahkan sebaliknya,Abang bakso itu menganggap Jani itu seperti Ponakkannya sendiri.


"Ini pacarnya Neng Jani ya?" tanya Abang bakso yang sudah selesai dan memberikan pesanan baksonya pada Jani dan juga Revin.


"Eh. Bu..." ucapan Jani terpotong oleh Revin yang menyela omongannya.


"Iya Bang." ucap Revin santai. Jani menatap Revin dengan tatapan tajam.


"Waahhh.. Kalian pasangan yang sangat serasi. Konon kata orang dulu. Kalo wajah pasangan kita mirip dengan wajah kita. Maka bisa di bilang kalau kita akan berjodoh sama pasangan kita itu." jelas Abang bakso dengan wajah bahagia.


Mereka berdua yang mendengar penjelasan Abang bakso itu,hanya menanggapi dengan senyuman. Setelah itu mereka makan baksonya masing-masing.


"Kalo Mamang boleh tau. Nama pacarnya siapa Neng?" tanya Abang bakso pada Jani.


Jani yang lagi menikmati baksonya,ia tersedak mendengar pertanyaan Abang bakso itu. Revin yang berada di sebelah Jani,dengan cepat ia memberikan minuman pada Jani. Jani pun mengambil minuman pemberian Revin dan ia minum hingga sisa setengah.


"Panggil Revin aja Bang." jawab Revin sambil melihat Abang bakso itu.


"Owh,Revin. Nak Revin panggil saya Mamang aja,seperti Neng Jani." pinta Abang bakso.


"Iya Mang," kata Revin.


Si Abang bakso pun melanjutkan meracik baksonya untuk pelanggan yang lain.


Saat di tengah mereka sedang makan menikmati baksonya masing-masing. Tiba-tiba datanglah seorang pengamen dan bernyanyi di depan Revin dan Jani.

__ADS_1


"Permisi Kak," ucap sopan pengamen itu dan ia langsung memainkan gitarnya,lalu bernyanyi.


Menatap indahnya senyuman diwajahmu


Membuat ku terdiam dan terpaku


Mengerti akan hadirnya cinta terindah


Saat kau peluk mesra tubuhku


Mendengar lirik itu Revin menatap wajah Jani dan ia teringat dimana saat pertama kali Revin melihat senyuman Jani meski hanya sebentar. Revin juga mengingat dimana Jani memeluk dirinya untuk pertama kalinya dan menangis di pelukkan Revin. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik dan terbentuklah sebuah senyuman. Lain halnya Jani masih menikmati baksonya.


Banyak kata


Yang tak mampu ku ungkapkan


Kepada dirimu


Senyumannya seketika luntur saat pengamen itu melanjutkan nyanyiannya. Di lirik lagu itu membuat ia teringat akan masa lalunya yang belum ia selesaikan.


Aku ingin engkau slalu


Hadir dan temani aku


Yang meyakiniku


Kau tercipta untukku


Sepanjang hidupku


Tak ingin berlarut dalam ingatannya,Revin pun memberikan selembar uang pada pengamen itu. Saat Revin ingin memberikan uang,Jani pun bersamaan memberikan uang pada pengamen itu. Setelah memberikan uang,pengamen itu pun mengucapkan terimakasih dan berlalu pergi meninggalkan dua insan itu.


Saat Jani ingin membayar. "Ini..." omongan Jani terpotong saat ada sebuah tangan kekar dari sebelahnya memberikan selembar uang pada Abang bakso. Jani menoleh pada seseorang di sampingnya.


"Nih Mang. Kembaliannya ambil aja." ucap Revin pada Abang tukang bakso itu.


"Terimakasih Nak Revin." ucap Abang baksonya seraya tersenyum. Revin hanya membalas dengan senyuman.


Setelah selesai membayar baksonya,Revin berjalan menuju mobilnya.


"Lo ngapain di situ?" tanya Revin pada Jani yang masih setia berdiri di pinggir jalan.


"Nunggu ojek online." jawab Jani datar.

__ADS_1


Revin menaikkan sebelah alisnya. "Pulang sama gw," ajak Revin.


"Tapi..." omongan Jani terpotong saat tangannya di gandeng dengan Revin.


"Masuk," pinta Revin yang sudah berada di depan pintu mobilnya.


"Terus ojek onlinenya?" tanya Jani pada Revin. Karena ia sudah memesan ojek online.


"Cancell aja," jawab Revin singkat.


Jani menurut omongan Revin dan ia masuk ke dalam mobil milik Revin. Revin pun masuk ke mobilnya dan memakai sabuk pengaman. Revin melihat ke arah Jani,ia mendekatkan tubuhnya pada Jani. Jani yang melihat itu dengan reflek ia memundurkan tubuhnya ke samping sampai tubuhnya terbentur oleh pintu mobil.


"Lo mau ngapain?" tanya Jani dengan wajah panik dan tangannya menahan tubuh Revin agar tidak lebih dekat lagi dengan tubuhnya.


Revin menaikkan sebelah alisnya. "Kalo naik mobil jangan lupa pakai sabuk pengamannya." ucap Revin yang mengulurkan tangannya untuk memakaikan sabuk pengaman ke tubuh Jani.


Jani yang mendengar ucapan Revin seketika wajahnya memanas dan bisa di pastikan pipinya sudah merona merah karena malu. Setelah itu Revin menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Di dalam mobil mereka hanya terdiam tidak ada yang membuka suara. Jani yang sibuk dengan handphonenya untuk mengalihkan rasa malunya dan Revin yang fokus menyetir mobil. Sekitar lima belas menit di jalan. Mobil Revin sampai di area depan rumah Jani. Jani yang masih sibuk menatap handphonenya,ia sampai tak sadar kalau mobil Revin sudah sampai di depan rumahnya.


"Turun," ucap Revin yang melihat Jani tak juga beranjak dari duduknya.


"Eh," seketika Jani menoleh ke arah Revin. "Lo turunin gw? Ya ampun Rev. Tadi gw mau pesan ojek online,lo ngelarang gw. Sekarang lo turunin gw di sini. Sebenarnya mau lo itu apa sih?" tanya Jani dengan wajah marah.


Revin yang mendengar ocehan Jani,ia mengerutkan keningnya. "Lo nggak mau masuk ke dalam rumah lo?" tanya Revin.


"Rumah?" tanya Jani dengan wajah bingung.


Revin memberi kode dengan dagu yang di majukan. Seketika Jani berbalik melihat arah yang Revin tunjukkan.


"Lo masih kangen sama gw ya? Sampe lo nggak mau balik ke rumah sendiri." ucap Revin menggoda Jani.


Jani yang mendengar ucapan Revin,ia merasakan wajahnya yang memanas dan bisa di pastikan pipinya sudah bersemu merah.


"A-apaan sih lo. I-ini juga gw mau keluar." ucap Jani gugup.


Dengan gerakan cepat Jani membuka sabuk pengaman.


"Makasih," ucap Jani singkat tanpa menunggu jawaban dari Revin. Ketika Jani ingin keluar dari mobil,tangannya di gapai Revin.


"Gw harap,kita bisa lebih akrab kedepannya." ucap Revin dengan wajah serius seraya tersenyum sambil menatap wajah Jani.


Jani melepaskan tangan Revin dari tangannya. Tanpa berkata ataupun tersenyum,Jani langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Revin yang melihat kepergian Jani,ia hanya tersenyum miring. "Sedingin apa pun lo ke gw. Gw nggak akan pernah menyerah untuk bisa mendapatkan lo. Tunggu gw Jan. Tunggu gw untuk menyelesaikan masa lalu gw." gumam Revin. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


__ADS_2