Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
150 Tidak Mau Merebut


__ADS_3

Vean menyuruh Erza untuk memesan kebutuhan konveksi dalam jumlah yang besar, dengan kualitas terbaik.


"Ada lagi, Tuan?"


"Untuk kebutuhan kosan juga. Oya, berikan santunan untuk anak-anak panti. Beasiswa untuk mereka juga jangan lupa."


"Baik, Tuan."


Erza langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bosnya. Sedikit banyak dia mulai memahami bagaimana sikap bosnya kepada Dhea.


Bosnya kini terlihat lebih bersemangat, meski tetap saja datar.


Di lain tempat, Arya dan Juan sedang makan siang bersama di rumah sakit.


"Kamu masih mencari keluarga kamu?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Malas. Lagipula, kalau memang ditakdirkan untuk bertemu, nanti juga bertemu."


Juna menghela nafas.


Ya, kalau memang ditakdirkan bertemu, nanti juga bertemu, batin Juna.


"Lagipula, aku sibuk dengan adik-adik kami. Ibu panti sudah semakin tua, jadi ... ya seperti itulah."

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa, katakan saja padaku dan papa, juga pada Vean."


"Dokter Bram baik banget padaku. Kamu beruntung memiliki ayah seperti dokter Bram."


Juna hanya mengangguk saja. Dia tahu papanya itu menjadi donatur di beberapa panti asuhan, tapi tidak ada yang sedekat ini dengan papanya kecuali Arya dan Dhea.


...💦💦💦...


Beberapa anak panti sudah pindah ke kosan Dhea. Bukannya Dhea tidak mau mereka tinggal bersama dirinya, tapi rumahnya memang tidak cukup besar untuk mereka semua tinggal di sana.


Gadis itu juga sudah menyiapkan guru untuk mengajari mereka membuat pola, menjahit, menggunting bahan dengan cara yang benar.


"Dhea," sapa Vean di depan pintu ruangan Dhea di butik.


Vean tersenyum melihat wajah Dhea. Yang selalu terlihat cantik dengan mata bulat dan bening. Meski masih ada lingkaran hitam di sekitar mata itu, tapi Vean cukup bersyukur Dhea masih ada bersama dengan dirinya.


Dhea melihat ke belakang Vean, tidak ada siapa-siapa di sana.


"Fio mana?"


"Kenapa nyari Fio?"


"Kan biasanya kalian selalu bersama."


"Aku dan Fio tidak ada hubungan apa-apa lagi."


"Hah? Ke ... kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku mencintai kamu."


"Kak, jangan begitu. Sudah aku bilang berkali-kali, tidak perlu berterima kasih padaku. Tidak perlu merasa bersalah atau apa pun itu."


"Aku memang tidak akan berterima kasih padamu, bukan karena aku tidak tahu terima kasih. Tapi karena aku tidak mau kamu yang sakit, tidak mau kamu yang menderita dan tidak mau kamu yang malah kehilangan satu ginjal kamu. Dan memang, aku memang merasa bersalah. Kalau bukan karena aku, pasti kamu sudah menjadi dokter, pasti kamu tidak akan sakit. Tapi perasaanku saat ini, bukan karena ginjal. Ini sudah sangat lama, Dhea. Sudah sangat lama aku diam-diam menyukai kamu. Sudah sejak kamu memakai baju SMP."


Dhea masih mencerna semuanya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa percaya begitu saja.


Melihat Fio yang menatapnya saat sedang bersama Vean, Dhea menyadari satu hal ....


"Kalau kalian putus, berarti Kak Vean memutuskannya sepihak, ya? Aku yakin, Fio masih sangat mencintai Kakak."


"Tidak, ini kesepakatan kami bersama."


"Ya, kesepakatan bersama, tapi mungkin dia terpaksa. Karena rasa berterima kasih atau rasa bersalah."


Vean menghela nafas.


"Kamu bisa tanyakan sendiri pada Fio."


Ya mana mungkin juga aku yang bertanya tanpa dia yang cerita lebih dulu. Bisa-bisa dia tersinggung. Apalagi ini ada hubungannya dengan aku.


"Pokoknya mulai sekarang, kamu pacar aku. Enggak boleh apa-apa minta tolong sama Arya atau Juna, atau pria lainnya. Harus aku duluan yang kamu cari."


"Mana bisa begitu, aku tidak mau merebut pacar sahabatku sendiri."


"Bukan kamu yang merebut, tapi dia yang merebut."

__ADS_1


__ADS_2