
Dhea terbangun dari tidurnya, dan langsung menahan tawa saat melihat ketiga pria itu tidak saling berpelukan, dengan posisi Arya yang di tengah-tengah, dipeluk oleh Vean dan Juna.
Gadis itu lalu mengambil ponselnya, dan memfoto mereka. Dhea merapatkan duduknya, bukan karena kedinginan, karena di Swiss lebih dingin lagi. Dia melihat ke sekeliling rumah ini. Memang terlihat sangat sederhana, jauh dari kata mewah. Dhea melihat jam tangannya, masih jam dua malam.
"Kak, bangun!" Dhea mengguncang tubuh Vean, tidak bangun juga.
"Kak, bangun!" Kali ini dia membangunkan Arya.
"Hm?"
"Bangun, Kak!"
"Kenapa? Kamu lapar?"
"Kak, aku mau buang air."
"Ayo kita cari."
"Kalian mau ke mana?" tanya Juna.
"Cari kamar kecil."
"Aku juga ikut."
"Vean dibangunin gak, tuh? Biar sekalian."
"Dah biarin saja, sekalian kita tinggal ke Jakarta."
Tega memang si Juna itu.
"Ini kamar kecilnya di luar?"
"Coba aja cari ke luar. Bawa ponsel."
Vean membuka matanya, dan melihat ketiganya yang mau pergi. Vean tidak berkata apa-apa, hanya diam mengikuti dari belakang.
"Di mana, sih?"
__ADS_1
"Mana aku tahu."
"Coba balik lagi ke depan."
"Aaaa!"
Mereka berempat berteriak, sama-sama kaget.
Saat berbalik, Dhea menjerit karena melihat wajah Vean yang tersorot lampu ponsel.
"Kak Vean! Mau bikin aku jantungan?"
"Aku juga kaget. Kalian ngapain, nyari apa?"
"Kamar kecil, aku mau buang air, Kak."
"Ketemu?"
"Enggak."
"Kita ke rumah bu Wati saja. Ke toilet di sana."
"Terus gimana? Ingat, jangan ditahan, Ghea. Kamu pernah sakit ginjal."
"Mau pakai botol saja?"
"Sembarangan!"
"Di balik pohon?"
"Jangan ngadi-ngadi. Mau nanti ketempelan?"
"Heh, jangan bicara sembarangan!"
"Kalian sedang apa?" tanya Bu Ana tiba-tiba.
"Bu, mau ke kamar kecil."
__ADS_1
"Oh, ayo." Bu Wati berjalan ke arah yang berlawanan.
"Ini, di sini."
Mereka melihat kamar kecil dengan tembok batu. Ada pancuran air yang terbuat dari bambu yang disumbat dengan kain. Jika kain itu dilepas, maka air akan mengalir.
Dhea menoleh ke atas, aman! Atasnya benar-benar tertutup.
"Ayo, Kak. Airnya dingin juga, ya."
"Maaf ya, keadaan di sini memang seperti ini."
"Iya, Bu. Tidak apa-apa."
"Untung saja di sini ada listrik. Sinyal ponsel juga kadang ada, kadang hilang. Kalian tidur lagi saja, masih malam."
Bu Ana lalu melihat keadaan Bu Wati, lalu menyelimuti dengan kain yang tidak terlalu tebal.
"Gimana caranya kita bicara dengan Bu Wati? Keadaannya saja seperti ini."
Tidak ada yang menjawab, yang lain juga bingung. Bu Wati mungkin bisa mendengar, tapi untuk bicara susah.
Dhea kembali membaringkan tubuhnya di lantai. Dia memejamkan matanya dan tidur.
...💦💦💦...
Sinar matahari masuk di celah-celah dinding bilik. Mereka bertiga bangun, dan melihat Dhea yang tidur meringkuk.
"Dhea."
Dhea membuka matanya, dan melihat mereka.
Pandangan mata Dhea beralih pada sosok perempuan yang tubuhnya kurus kering. Tidak ada rambut sehelai pun di kepalanya.
Dhea bangkit, mendekati Bu Wati untuk yang pertama kalinya.
Diulurkan tangan itu, menyentuh kulit kering keriput. Tangan Dhea gemetaran saat menyentuh Bu Wati. Air mata Dhea menetes melihat kondisi Bu Wati. Kenapa mereka harus dipertemukan dengan keadaan seperti ini?
__ADS_1
Bu Wati membuka matanya, dan pandangan keduanya bertemu. Tidak ada yang bicara. Mereka sama-sama diam.
Dhea ingin memanggil ibu, tapi rasanya sangat berat. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Inginnya berteriak, bertanya kenapa dia dibuang. Tapi apa dia masih akan bertanya lagi?