Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
130 Ingin Menjangkau


__ADS_3

Sayang, aku pulang. Jaga diri kamu baik-baik.


Vean menatap langit, yang sejajar dengan dirinya. Berpikir dulu dia dan Dhea juga seperti ini, berjalan beriringan dengan canda dan godaan dari gadis itu.


Vean tersenyum, menatap langit dari balik jendela pesawat.


Kamu seperti salju, tapi juga seperti awan.


Vean tiba di Jakarta, langsung pergi ke kosan yang lebih terasa ringan baginya.


"Bu, aku pulang," sapa Vean pada ibu kos. Pria itu memeluk dsn mencium punggung tangan ibu kos, yang bernama Dahlia.


"Aku bawa oleh-oleh untuk ibu."


Menjadi tempat curhat satu-satunya bagi Vean, membuat mereka akrab, layaknya ibu dan anak kandung sendiri.


"Ibu membuatkan makanan kesukaan kamu."


"Mana?"


Tanpa malu, Vean langsung menuju meja makan. Vean menyukai makanan ini, karena Dhea juga menyukainya.


Hanya telur dadar dengan irisan cabai dan bawang, dan kecap manis di atas nasi panas.


Vean mengusap air matanya.


Pasti ini akan sangat enak kalau ada kamu di sini. Sekarang aku bisa paham, kenapa kamu bisa selalu ceria. Hidupmu bebas, tidak perlu memikirkan keinginan orang tua yang tidak sesuai dengan hatimu.


"Nambah, Bu."


"Makan sayur. Jangan kering begitu."


"Enggak, ini pahit."

__ADS_1


"Dhea akan memakannya, sambil membayangkan wajah kamu. Katanya, pare ini tiba-tiba semanis madu kalau membayangkan kamu."


Vean tersedak makannya sendiri, lalu mendengus. Dia memakan pare itu, membayangkan wajah Dhea.


"Ini lebih manis dari madu."


Dahlia tertawa, dalam hati dia juga sangat merindukan Dhea. Ke mana gadis itu berada?


"Kamu pasti sangat lelah, habis makan istirahat saja. Ibu akan membuatkan singkong rebus untuk kamu."


Vean mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar Dhea. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur itu. Kasur yang bersepraikan gambar Cinderella, terasa sangat adem di tubuh Vean yang kokoh.


...💦💦💦...


Vean merasakan debaran di jantungnya. Pria itu memegang dadanya. Sejak bangun tidur tadi, dia sudah merasa gelisah, tapi apa penyebabnya, dia sendiri tidak tahu.


Arya hari ini ijin untuk tidak pergi ke perusahaan atau mendampingi pria itu ke mana pun. Vean tidak masalah, dia sendiri juga tidak terlalu sibuk hari ini.


Vean membuka pintu lemarinya, merasa bingung, pakaian apa yang sebaiknya dia pakai?


"Tidak."


Mereka sedang ada di rumah sakit, melakukan kunjungan dan rapat para petinggi rumah sakit.


Debaran jantung Vean semakin tak menentu.


"Vean, kamu kenapa? Kenapa terus memegangi dada kamu?" tanya Friska khawatir.


"Tidak apa, Ma."


Vean menatap ke sekeliling, seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Dia seperti mencium aroma yang dia rindukan.


Aroma itu semakin mendekat, dan Vean juga berusaha untuk menjangkau aroma itu.

__ADS_1


Sedikit lagi, jantungnya berdebar. Seluruh tubuhnya terasa bergetar.


Tidak, dia tidak ingin kehilangan lagi.


"Vean, kamu ini kenapa, sih? Kenapa jalan terburu-buru seperti itu?"


Vean tidak mendengar, langkahnya semakin cepat. Dia berusaha menjangkau aroma itu. Ingin menggapai dan menggenggam erat-erat ....


Bruk


Jantung Vean semakin berdetak, seseorang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat.


Dhea ....


Baru saja Vean inggin memeluk gadis itu, seseorang memanggil namanya dengan penuh rasa khawatir.


Arya?


Tunggu dulu, apa ini? Jadi mereka saling mengenal?


Tapi ... kalau mereka saling mengenal, maka ....


Vean menatap apa yang sedang dipegang oleh Arya.


Plastik obat.


Vean bingung. Kalau Dhea dan Arya saling mengenal, bahkan terlihat akrab, apa berarti Dhea tahu kalau Arya telah mendonorkan ginjal untuk dirinya?


Dia hanya bisa melihat Dhea dan Arya yang pergi, dengan tangan pria itu yang merangkul pundak Dhea.


Arya ... Arya ... Arya ....


Vean tersentak, merasa ada sesuatu yang dia lupakan.

__ADS_1


Nama yang seharusnya tidak asing baginya. Bukan karena dia mengenal Arya, tapi jauh sebelum itu, sepertinya nama itu pernah disebut-sebut.


__ADS_2