Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
235 Kenangan Di Pasar


__ADS_3

Juna menahan tawa saat melihat dokter Stevie. Penampilan dokter muda beranak satu itu, benar-benar luar biasa.


Luar biasa ingin ditertawakan oleh Juna, maksudnya.


Bukan, bukan jelek, bukan juga kampungan, atau tidak enak dipandang mata.


Sekarang mereka akan ke pasar, karena dokter Stevie begitu antusias.


Ini jam dua malam, bayangkan bagaimana dinginnya udara di luar. Dokter Stevie memakai sweater dan sepatu kets berwarna putih bersih, celana panjang putih bersih, jam tangan, dan tas branded.


Dhea baru saja ingin bicara, tapi mulutnya langsung dibekap oleh Juna, yang akhirnya mendapatkan pelototan dari Vean.


"Ayo, nanti keburu penuh marketnya!" ucap Juna, yang membawa masuk Dhea ke dalam mobilnya sebelum dia membongkar rahasia.


Dokter Stevie yang memang tidak tahu apa-apa, dengan antusias mengajak semuanya. Sebagai tuan rumah yang baik dan tidak sombong, Juna memaksa yang lainnya untuk ikut, demi menjaga nama baik gang itu yang katanya orangnya ramah-ramah dan gemar menolong.


"A ... apa ini?"


"Ini market. Ayo turun."

__ADS_1


Sepatu putih itu langsung menjadi hitam begitu menginjak lantai pasar yang becek. Aromanya sangat menyengat, bikin kliyengan.


"Ayo, Kak."


Dhea dan Arya sangat terampil masuk ke pasar itu. Tidak merasa jijik, atau kaku. Mereka memang sudah terbiasa, meski sekarang kehidupan mereka sudah jauh lebih baik, tapi bukan berarti mereka akan lupa daratan.


Keduanya kadang menawar, jika dirasa penjual itu memainkan harga. Tapi jika harganya masih wajar, mereka akan langsung membayar tanpa menawar. Dhea dan Arya juga pandai memilih belanjaan mereka, tahu mana yang bagus mana yang jelek.


Yang laki-laki bertugas membawa belanjaan. Dokter Petter dan dokter Stevie yang tadinya bingung, sekarang sudah merasa senang.


"Kita bisa bikin bubur untuk Faustin dan Yuki, Kak."


"Sekalian yang banyak, untuk penjaga kompleks dan petugas kebersihan."


Namanya juga pasar, pasti ada saja yang rusuh. Ada preman pasar dan jambret.


"Apa? Jangan macam-macam!"


"Eh, Bang Arya. Iya, Bang, gak macam-macam, kok. Sini kami bantu."

__ADS_1


Dhea mengacungkan dua jempolnya pada Arya. Yang lainnya hanya menghela nafas. Hidup yang penuh lika-liku, tentu saja membuat Arya dan Dhea sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Arya yang dulunya memang bekerja lapangan, juga tidak asing dengan kehidupan seperti ini. Mengenal preman-preman, dan orang-orang yang hidup dengan liar lainnya.


"Hapalkan wajah mereka baik-baik. Jika ada yang ke sini, jangan diganggu!"


"Siap, laksanakan, Bang."


Fio sudah merepet saja pada Juna. Dia takut dicoel oleh salah satu preman itu. Agar lebih cepat, akhirnya mereka membagi tugas. Rencananya memang akan masak besar, untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang. Adik-adik Dhea yang laki-laki, bertugas mengawasi para anak-anak orang kaya itu, yang memang tidak terbiasa dengan pasar seperti ini.


Dhea sendiri sangat cuek. Dia justru merasa sedang bernostalgia, saat dulu membantu ibu panti ke pasar.


Fio terus saja memegang ujung baju Juna atau Arya. Merinding saat melihat kakinya yang sudah sedikit hitam karena lumpur pasar.


"Makanya tadi gak usah ikut. Malah risih sendiri, kan! Yang namanya pasar tradisional, ya memang begini," ucap Arya dengan ketus.


Fio cemberut saja. Dia kan juga ingin tahu. Arya melihat ada kue-kue tradisional yang masih terlihat panas. Dia langsung memborong semuanya tanpa sisa, bahkan membayar lebih.


"Banyak banget, buat apaan?"


"Dhea suka sekali kue-kue ini. Dulu kami sangat ingin membelinya, tapi gak punya uang."

__ADS_1


Mereka yang mendengar itu memalingkan wajahnya, entah seperti apa kehidupan mereka dulu. Itulah sebabnya sekarang mereka sangat suka berbagi, karena tahu bagaimana rasanya ingin membeli sesuatu, tapi tidak punya uang. Dan karena Dhea dan Arya juga, lah, yang lain juga selalu dan rutin berbagi.


__ADS_2