Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
248 Dua Bocah Menggemaskan


__ADS_3

Vean turun dari mobil, dengan membawa dia anak kecil yang menggemaskan. Tangan kanannya menggenggam tangan Yuki dan di sisi yang lain, Faustin juga menggenggam tangan bocah perempuan itu.


"Wah, anak laki-laki itu siapa? Tampan sekali."


Di sebelahnya, Erza membawa tas Vean, Yuki dan Faustin. Erza sudah seperti baby sitter, yang membawa tas bergambar putri salju sedangkan tas Faustin bergambar robot.


Yuki jalan sambil berloncatan, berceloteh sana sini membuat Vean tersenyum.


Mereka tiba di lantai atas, dan Vean segera meminta office boy untuk menyiapkan makan dan minuman yang sudah dibawa.


"Faustin dan Yuki main di sini, ya."


"Ya, uncle."


Yuki langsung mengambil boneka-bonekanya yang memang ada di dalam ruangan Vean. Faustin juga mengeluarkan robot-robot miliknya dan mereka main bersama.


Beberapa orang masuk ke dalam ruangan Vean, melihat dua anak balita yang main bersama.


Kedua anak itu sama sekali tidak menggangu pekerjaan Vean, benar-benar anak yang pintar.


Yuki mendekati Vean, lalu mengambil dua kue yang ada di atas meja. Dia kembali ke tempat Faustin dan memberikan satu kue itu untuk Faustin. Orang-orang itu lalu tertawa pelan. Kagum akan sikap Yuki yang peduli dengan temannya.

__ADS_1


"Pak Vean, anaknya saya bawa pulang saja, ya."


"Enak saja."


Mereka kembali tertawa. Melihat kedua anak itu, sama sekali tidak menggangu pembicaraan bisnis itu. Justru memberikan semangat untuk mereka.


"Yang laki-laki anaknya siapa, Pak?"


"Anaknya dokter Petter, sahabat kami."


Mereka kembali melanjutkan meeting. Erza melirik Faustin yang mengusap-usap rambut Yuki yang sedang berbaring sambil meminum susu dari botol.


Kapan aku punya anak?


"Ayo kita makan siang bersama," ajak Vean.


Dia mengajak Faustin dan Yuki makan siang juga. Mereka tiba di restoran seafood.


"Tidak repot, Pak, mengajak dua anak kecil?" tanya salah satu pria.


"Tidak sama sekali. Mereka pintar-pintar."

__ADS_1


Yuki makan bubur seafood yang dipesan oleh Vean. Sedangkan Faustin memakan seafood dan memberikannya pada Yuki.


"Ya ampun, mereka menggemaskan sekali. Saya jadi kangen dengan cucu saya."


"Iya, saya juga jadi kangen dengan anak saya."


"Sekali-kali Anda semua bisa mengajak anak cucu ikut kerja. Itu benar-benar menyenangkan. Atau begini saja, nanti kalau ada meeting lagi, kalian bisa mengajak mereka. Saya juga akan mengajak Yuki dan Faustin."


Mereka mengangguk senang.


"Benar juga, sekalian mengenalkan mereka pada bisnis."


Setelah makan bubur, Yuki makan sop seafood. Faustin membantu Yuki minum jus buah naga.


Kedua anak itu menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan ada yang merekamnya dan mengunggah di sosial media. Tidak berpikir apakah nanti akan menjadi masalah besar untuknya atau tidak.


Erza juga memperhatikan kedua anak itu, apakah membutuhkan sesuatu atau tidak.


Selesai makan, Vean, Yuki, Faustin dan Erza kembali ke perusahaan. Mata Yuki kembali merem melek karena mulai mengantuk. Erza juga menggendong Faustin.


"Tidur di sini, ya," ucap Vean ada Yuki dan Faustin. Yuki memeluk boneka putri salju miliknya. Sedangkan Faustin memeluk boneka robot yang dibawa dari rumah.

__ADS_1


Vean tersenyum, dan memfoto mereka. Mengirimkannya ke Dhea dan dokter Petter. Di sana, dokter Petter tersenyum. Dia senang karena Vean juga menyayangi anaknya seperti anak sendiri. Dia jadi merasa beruntung bisa dipindah tugaskan ke negara ini dan bertemu dengan orang-orang itu.


__ADS_2