
"Aku ... juga ingin bersama dengan mereka ... di sana."
Mata Dhea menatap jendela, seolah sedang menerawang jauh, ke sesuatu yang tak terlihat tapi sangat dirindukan.
Tidak selamanya, mendapatkan pengorbanan dari orang lain itu menyenangkan. Mungkin orang lain akan merasa bangga, merasa senang, tapi tidak bagi Vean.
Bukan kebahagiaan yang dia dapat. Bukan kesenangan yang dia rasakan, tapi kehampaan dan kesakitan.
"Maafkan aku, tapi ... aku senang sudah menjadi bagian dari diri Kak Vean. Dengan begitu, aku akan ada di mana pun Kakak berada, meski bukan dengan raga yang utuh."
Mata Dhea mengerjap lelah.
Ya, kini Dhea adalah bagian dari diri Vean, tidak bisa lagi dihindari, dan terlalu terlambat untuk menolak.
"Aku senang, salah satu impianku sudah terwujud ...." Dhea tersenyum, senyuman kebahagiaan dan kelegaan.
Tidak ada lagi yang Dhea harapkan saat ini. Dia rasa, semua impian terdalamnya sudah dia raih. Meski tidak bisa bersama dengan Vean sebagai sepasang kekasih apalagi suami istri, tapi ini sudah cukup bagi Dhea.
Hanya tinggal bertemu dengan keluargaku saja ....
Semua terlihat abu-abu dalam pandangan Dhea saat ini. Dia berusaha untuk tetap membuka matanya di tengah rasa kantuk yang melanda. Dia tidak ingin Vean pergi di saat dia telah terlelap.
"Kakak tidak perlu membalas apa-apa padaku. Cukup berbahagia dan tertawa."
Apa aku harus berbahagia dan tertawa di atas penderitaan kamu, Dhea? Tapi bukankah sejak dulu aku dan Fio sudah sering melakukannya? Berbahagia dan tertawa di atas kesedihan dan penderitaannya? Aaarrggghh!
Vean sendiri juga tidak tahu, apa setelah semua ini hidupnya masih akan baik-baik saja.
Tidak, dia tahu—sangat tahu—kalau hidupnya akan tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Vean ikut menatap ke luar jendela. Seketika bayangan masa lalu, lagi-lagi menghampiri.
Flashback On
Saat itu Vean sedang berdiri di depan halte. Dhea yang melihat pria yang disukainya, langsung berlari menghampiri.
"Kakak nungguin aku, ya?"
"Pede banget kamu!"
"Kalau enggak pede, enggak hidup, Kak."
Vean langsung menoleh mendengar perkataan gadis itu.
"Emangnya bisa, bertahan hidup mengandalkan gengsi?"
"Kalau aku gengsi, aku gak bakalan nyari kerja Kak, terus gak bisa makan, mati deh!" Dhea tersenyum saat mengatakannya.
"Kakak kedinginan?"
Vean diam saja, menghela nafas saat gadis itu terus saja bicara.
"Sini aku peluk, biar hangat."
Vean langsung mendelik.
"Kamu masih kecil, jangan centil-centil."
Bukannya marah, Dhea malah cekikikan.
__ADS_1
"Aku juga dingin, peluk dong, Kak."
Vean mengusap wajahnya kasar, heran dengan gadis di sebelahnya itu.
Dhea semakin tertawa, dia sangat suka menggoda pria ini. Melihat wajah datarnya yang kesal, justru semakin terlihat tampan di mata Dhea.
"Romantis ya, Kak, berdiri berdua memandangi hujan."
"Enggak."
"Romantis."
"Enggak."
"Dingin?"
"Enggak."
"Mau peluk?"
"Enggak."
"Mau aku tinggalkan sendirian di sini?"
"Enggak."
Dhea semakin tertawa, sementara Vean seperti orang yang mati kutu. Kenapa dia dikerjai oleh bocah ingusan ini?
"Setiap kali hujan, Kakak harus selalu ingat aku. Eh, tidak-tidak, akan ada banyak hal yang akan selalu mengingatkan Kakak padaku ...."
__ADS_1
Dan tanpa sadar, perkataan itu benar-benar terjadi, ada banyak hal yang akan selalu mengingatkan Vean pada Dhea.