Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
143 Merasa Iri


__ADS_3

"Kita sudah bisa pulang dua hari lagi."


"Benar, Dok?"


"Iya."


Dhea bernafas lega. Dia sudah bosan berada di sini. Banyak pekerjaan yang menantinya.


"Kita akan pulang menggunakan Jet pribadi, jadi kamu bisa lebih nyaman.


Ya ampun, berlebihan sekali.


Dhea tidak tahu saja, kalau dulu saat dibawa ke sini, mereka juga menggunakan jet pribadi dengan beberapa orang dokter dan perawat yang mendampingi.


"Ayo makan." Vean menyodorkan makanan ke mulut Dhea.


Ditodong dengan makanan langsung di depannya, membuat gadis itu mau tidak mau membuka mulutnya.


Satu suap, masuk ke mulut Dhea.


Suapan berikutnya, masuk ke mulut Vean.


Dhea melebarkan matanya melihat tingkah Vean yang seperti itu.


Vean memberikan minum untuk Dhea. Setelah Dhea minum, Vean meminum air itu di sisi gelas yang sama.


"Kita kaya lagi ciuman ya, Dhea."


Dhea menunduk malu, lalu langsung melempar bantal ke arah Vean.

__ADS_1


Dulu kan, aku yang begitu. Kenapa dia masih ingat? Seharusnya tidak ada hal yang bisa dia ingat tentang aku, selain hal yang bagi dia menyebalkan, kan? Apa dulu aku terlalu menyebalkan sampai dia ingat hal ini?


Aku akan mengingatkan kamu lagi, tentang masa-masa yang indah itu, Dhea.


Melihat semua itu, Fio hanya bisa menghela nafas berat.


"Vean bisa romantis juga ya, ternyata," celetuk Fio.


Wajah Fio terlihat cemberut. Dia terlihat kesal dan iri. Gadis itu menghela nafas berat, dan tidak sadar semua orang memandang dirinya.


Apa-apaan dia itu? Ingin bersikap seolah dia adalah korban dan Dhea adalah perebut tunangannya? Awas saja kalau dia dan mamanya kembali berulah, batin Arya.


Vean terlihat tidak peduli pada perkataan Fio. Masih banyak yang harus dia lakukan dan lebih penting daripada mengurusi perasaan gadis itu.


Clara, Aila dan Sheila memandang singit pada Fio. Seharusnya Fio dan kedua orang tuanya pergi saja, kan. Untuk apa datang ke sini? Apa untuk membuat Dhea tertekan lagi?


Hari ini adalah hari kepulangan mereka. Meskipun Dhea belum sembuh total, tapi sudah sedikit membaik. Wajahnya masih pucat, tapi sudah boleh melakukan beberapa aktivitas ringan.


Dhea duduk di sisi jendela, melihat pemandangan di luar sana, sampai-sampai dia tidak sadar kalau Vean duduk di sebelahnya.


Akhirnya, kita bisa menatap langit yang sama, Dhea. Duduk sejajar dan berpegangan tangan.


Dhea menoleh saat merasakan tangannya ada yang menggenggam. Dia berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Vean, tapi pria itu mana mau melepaskannya.


Fio berdecak kesal melihat itu. Dia terlihat sangat iri.


"Enggak usah sirik dengan kebahagiaan orang lain! Awas kalau berani macam-macam sama Dhea. Bukan hanya mama kamu saja yang pernah aku jebloskan ke kantor polisi, tapi kamu juga!" ucap Arya pelan.


"Enggak, kok. Aku senang melihat Dhea senang."

__ADS_1


Tapi juga iri.


"Kamu juga akan berhadapan dengan kami, Fio," ucap Clara, yang diangguki sahabat-sahabatnya.


Fio menoleh pada Juna, berharap pria itu tidak berburuk sangka padanya. Tapi Juna juga mengalihkan pandangannya. Dibandingkan Fio, tentu saja dia lebih mendukung keputusan saudaranya. Toh mereka juga baru bertunangan, kan?


Lebih baik ditinggal saat masih tunangan, daripada ditinggal setelah menikah. Lagipula, Vean tidak pernah menyukai Fio, tapi dipaksa oleh mamanya.


Apaan sih mereka ini, bersikap seolah aku ini penjahat saja!


Dhea akhirnya memejamkan matanya. Dokter Bram sudah memberikan dia obat, agar bisa istirahat di dalam pesawat.


Vean menarik pelan kepala Dhea agar bersandar di pundaknya. Pria itu tersenyum.


Pluk


"Modus aja!" ucap Juna setelah menepuk lengan Vean.


Vean mendelik kesal pada Juna. Arya duduk di sebelah Juna, lalu mereka sama-sama memejamkan mata.


Vean tidak tidur. Dia ingin menikmati saat-saat ini, waktu yang sudah terlewati cukup lama.


Kalau dulu kita jadi menikah, mungkin sekarang kita sudah memiliki anak yang lucu. Kamu menjadi dokter, dan aku bekerja di perusahaan.


Tapi tidak ada gunanya menyalahkan dan menyesali takdir.


Mungkin dengan kejadian ini, Vean semakin sadar, bagaimana cara Dhea mencintai dirinya. Bagaimana Vean tahu kalau Dhea benar-benar tulus, dan Vean tidak akan menyakiti hati gadis itu sampai kapan pun.


Terima kasih, sudah sangat mencintai aku yang serba kekurangan ini ....

__ADS_1


__ADS_2