
Sudah dua jam mereka melakukan perjalanan.
"Ck, nanti aku akan membuat klinik dan rumah sakit di sini. Juga tempat makan."
Tidak ada apa-apa di sana. Hanya hutan-hutan di kanan kiri mereka. Ada juga sungai kecil dengan air jernih.
Dhea menghela nafas, kalau saja bukan karena pekerjaan mereka yang mendesak, ingin sekali dia tetap berada di sini.
Tapi ketiga pria yang ada bersamanya saat ini pun, tidak mengijinkan dia tetap berada di sini sendirian. Takut terjadi apa-apa. Jauh dari kota daerah setempat, fasilitas umum, juga keadaan lingkungan yang seperti itu.
"Kita bisa membawa dokter dan perawat ke sini, Dhea. Juga stok kebutuhan sehari-hari. Baju-baju, dan apa pun yang dibutuhkan."
"Nanti aku akan membawa alat-alat medis ke sini. Untuk saat ini kita harus kembali dulu. Setidaknya sekarang kita sudah tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sini."
"Benar. Aku juga sudah menyuruh Erza untuk merenovasi rumah bu Wati dan Bu Ana. Om Bram bisa mendirikan puskesmas."
"Iya, aku tahu. Aku hanya tidak tega saja meninggalkan ibu seperti itu. Seharusnya kita bisa membawa dia, kan?"
"Iya. Nanti akan ada ambulans juga yang ke sini."
Mereka akan memberikan apa yang mereka bisa berikan.
__ADS_1
"Sepertinya memang begitu ...," ucap Dhea.
"Apanya?"
"Ayahku. Mungkin dia memperkosa ibuku? Hingga menghasilkan aku?"
Mereka diam saja. Mau mengatakan jangan berpikiran jelek, tapi jujur saja, dalam hati masing-masing memang ada pemikiran seperti itu juga.
"Saat belum bertemu dengan ibu, aku pikir aku akan memeluk dirinya, atau berteriak marah, atau langsung bertanya kenapa—kenapa membuangku. Juga sedikit membalasnya dengan tidak mau mengakuinya. Tapi yang terjadi justru kebalikannya. Aku malah diam di tempat. Menyentuh tangannya sebentar saja, aku sudah tidak sanggup. Apa aku anak durhaka?"
"Tidak," jawab mereka bertiga.
"Wajar, Dhea. Apa yang kita rencanakan dan pikirkan, belum tentu akan seperti itu kenyataannya. Aku juga ... kalau nanti aku bertemu dengan keluargaku, mungkin aku akan langsung memalingkan wajahku. Kadang pikiran jahatku ingin menunjukkan, kalau aku bisa hidup lebih baik dari mereka."
"Siapa?"
"Ayahku. Aku tidak akan mencarinya. Om dan Tante saja tidak ada yang mengatakannya. Entah tidak tahu atau memang tidak mau mengatakan kebenaran itu. Setidaknya sudah ada yang aku temui—cukup ibu saja—yang menghilangkan rasa penasaranku.
Mobil terus berjalan, dalam hati Arya berharap, semoga mereka tidak kehabisan bensin.
Pemukiman penduduk mulai terlihat. Tempat yang memang masih sepi, terlihat semakin sepi karena sudah larut malam.
__ADS_1
"Kita cari hotel saja."
"Hotelnya yang benar, jangan nanti malah dikira mau macam-macam."
Arya lalu menghentikan mobilnya di depan penjual makanan.
"Masih ada, Pak?"
"Masih."
"Empat porsi."
Mereka makan dengan cepat, karena sudah merasa sangat lelah. Setengah jam kemudian, mereka menemukan hotel pinggir kota.
...💦💦💦...
Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dhea terus bekerja dengan cepat, agar bisa segera menemui ibunya. Dia sudah menyiapkan banyak kebutuhan untuk di sana. Baju-baju dan makanan.
"Seperti apa kondisi di sana?"
"Tidak baik. Jauh dari keramaian, mau apa-apa serba susah."
__ADS_1
"Mungkin kurang perhatian dari pemerintah setempat."
Di tempatnya, Dhea memikirkan Bu Wati. Menghubungi omnya suka susah sinyal. Omnya itu hanya sesekali saja pergi ke kota untuk bekerja saat hasil panen tidak terlalu memuaskan. Dia juga sudah menyiapkan ponsel baru untuk bu Ana, agar bisa berkomunikasi dengan dia.