Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
115 Rasanya Beda (Jantung Yang Deg-degan)


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Vean sering mendapatkan coklat dari Dhea.


"Kamu ngapain ngasih aku coklat terus? Kan MOS sudah selesai"


"Kan hatimu masih tetap menyukai Kakak."


"Hah?"


"Aku benar-benar suka sama Kak Vean. Kakak suka gak, sama aku?"


"Enggak."


"Ish, jujur amat. Jadi tambah cinta."


Bukannya marah, Dhea malah tertawa. Vean menatap mata gadis itu, yang menurutnya sangat indah, dan tidak pernah menunjukkan kesedihan.


Hair ini, Vean datang ke kafe untuk bertemu dengan teman-temannya.


"Mau pesan apa, Kak?"


"Dhea?"


"Kak Vean? Ini nih, yang namanya jodoh ...."


"Jangan mulai lagi, deh. Kamu ngapain di sini?"


"Ya kerja, Kak. Nyari uang."


Tetap saja gadis itu tersenyum. Tidak merasa malu apalagi minder menjadi anak yatim piatu, hidup kekurangan dan bekerja di saat dirinya masih SMP.


SKIP


"Kak, aku suka Kakak."


"Ya ampun, kamu itu masih bocil. Jangan mikirin pacaran."


Vean memalingkan wajahnya, menahan senyum, dan merasakan debaran jantungnya.

__ADS_1


Jadi begini ya, rasanya ditembak sama cewek? Ish, tapi dia masih bocil. Perjalanannya masih panjang.


Vean menghela nafas kesal.


Di saat Vean memalingkan wajahnya, dan menutupi senyumannya, Dhea pun menghela nafas. Berpikir kalau sekali lagi dia ditolak. Merasa sedih pria di sebelahnya itu selalu memalingkan wajahnya saat dia menyatakan perasaannya.


Di rumah


Vean, setiap habis bangun tidur atau pulang sekolah, atau pulang dari pergi ke mana saja, selalu memeriksa kulkas. Memastikan apakah coklat-coklatnya masih utuh atau tidak."


"Vean, kenapa ada banyak coklat di dalam kulkas? Kenapa tidak kamu makan? Lama-lama coklat itu bisa rusak. Kalau tidak dimakan, lebih baik kamu kasih orang saja."


"Jangan. Semua coklatku, jangan ada yang makan."


"Memangnya coklat dari siapa, sih?"


Vean diam saja, dia langsung naik ke lantai atas, menuju kamarnya.


Vean membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar, dan tidak lama kemudian tertidur.


"Vean, aku suka sama kamu."


"Aku enggak suka sama kamu. Jauh-jauh, sana."


Vean meninggalkan gadis yang baru saja menyatakan perasaannya padanya.


Rasanya beda saat Dhea yang mengatakannya.


Gadis yang baru saja menyatakan perasaannya itu, bukan Dhea. Dan Vean merasa risih dan kesal. Berbeda saat Dhea yang mengatakannya, jantungnya berdetak tak karuan, dan tentu saja merasa senang.


Jadi kangen Dhea. Dia lagi apa ya, sekarang?


Skip


Vean berdiri di depan halte.


"Kak Vean, nungguin aku ya?" tanya Dhea.

__ADS_1


"Enggak usah PD."


Iya, aku nungguin kamu.


Vean galau. Di satu sisi, dia merasa Dhea iri masih terlalu kecil. Apa jadinya kalau orang-orang tahu dia ditembak oleh anak kelas satu SMP.


Bagaimana pun juga, Dhea masih terlalu muda.


Masih labil


Dia tidak mau seperti teman-temannya yang setiap hari curhat tentang pacar mereka. Yang putus sambung, putus sambung.


Dia tidak mau seperti itu.


Belajarlah duku yang rajin, Dhea. Tunggu kamu dewasa dulu.


"Kakak kedinginan?"


"Mau aku peluk?"


Mau


"Enggak."


"Kau kedinginan, mau dong Kak, dipeluk."


Ya ampun, kuatkan imanku. Masih kecil sudah begini, gimana nanti kalau dia lebih dewasa? Gawat, jangan sampai Dhea-ku yang imut dan menggemaskan ini digodain cowok lain.


Wajah Vean terlihat kesal, dan Dhea menunduk, berpikir kapan Vean akan menatap dirinya dan menyukai dia?


Saat ada petir, Dhea menggandeng lengan Vean karena kaget.


Sedangkan Vean ....


Jantungnya sudah jungkir balik tak karuan.


Calon istri, kamu bikin aku deg-degan ....

__ADS_1


__ADS_2