Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
223 Mirip Siapa


__ADS_3

Bayi itu masih saja menangis kencang. Dokter ingin membawa bayi perempuan itu, tapi langsung dicegah oleh Vean.


"Jangan pisahkan anakku dari mommy-nya!"


"Tapi ...."


"Diam!"


Mereka ingin menggendong anak itu, tapi Vean mencegah, dengan menggendong anaknya.


Tidak mungkin juga mereka berebutan dengan cara yang kasar, apalagi menyakiti bayi yang belum ada satu jam dilahirkan itu.


"Vean, kamu bisa membahayakan anak kamu. Ingat bagaimana pengorbanan Dhea untuk anak kalian!" ucap Candra dengan keras.


Mendengar itu, bukannya membuat Vean tenang, malah semakin membuat Vean kesal. Dia kembali meletakkan bayinya di atas tubuh Dhea.


"Jangan meminta orang lain untuk menyayanginya, Sayang, kalau kamu saja tidak mau menyayangi dia."


Bayi mereka bergerak-gerak gelisah dan menangis di atas tubuh Dhea.


"Vean, kasihan ...."


Terdengar suara lenguhan pelan, dan Vean mengangkat wajahnya.


"Yang?"


Dokter segera mengangkat bayi itu dan memberikan kepada perawat untuk dipindahkan. Dokter itu sendiri menyuruh mereka semua keluar, dan para pria saling bekerja sama untuk menarik Vean.


Buk


Vean pingsan setelah mendapat pukulan di tengkuknya, yang dilakukan oleh Arya.


"Arya!"


"Daripada dia memberontak terus, nanti juga sadar."

__ADS_1


Mereka menghela nafas. Mau marah pada Arya, tapi mereka juga sadar kalau itu satu-satunya cara terbaik untuk membuat Vean diam.


...💦💦💦...


"Yang?"


Vean perlahan membuka matanya.


Bugh


"Aw!"


"Yang?"


"Kamu enggak apa?"


Seperti dejavu, Vean melihat wajah Dhea yang pucat, yang memandang dirinya sambil tersenyum.


"Kamu sadar? Kamu enggak ninggalin aku, kan? Aku ... anak kita ... kita sudah nikah, kan? Kita sudah punya anak, kan?"


Vean menangis lega. Dia menangkup wajah istrinya, lalu mengecup kening dan memeluk Dhea dengan penuh perasaan lega.


"Kamu, pasti perut kamu masih sakit, kan, setelah tadi malam melahirkan?"


"Bukan tadi malam, tapi dua malam yang lalu," ucap Juna.


"Hah? Dua malam yang lalu?"


"Iya, kamu pingsan kaya orang mati." Arya menggelengkan kepalanya.


"Itu karena Arya yang terlalu kuat memukul Vean."


"Ck, bukan karena pukulan aku, tapi karena dia kelelahan dan terlalu stres."


Vean tidak peduli dengan omongan mereka, dia masih mengelus dengan lembut wajah Deka yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


"Tapi kondisi Dhea bagaimana?"


"Dia sudah baik-baik, tinggal pemulihan saja. Jangan banyak pikiran dan kelelahan. Luka bekas operasinya juga harus dijaga dengan baik."


"Sekarang kalian berdoa istirahat."


Vena bari sadar kalau di sebelahnya ada satu brankar lagi, yang ternyata untuk Dhea.


Pagi harinya, perawat datang membawa bayi mereka. Vean dan Dhea tersenyum bahagia melihat bayi mungkin yang sangat cantik itu. Kulitnya yang putih mulus dengan pipi tembem meski lahir dengan prematur. Tidak ada kurang sedikit pun.


"Kondisi anak kalian sangat stabil, dia ternyata sangat kuat dan sehat. Tidak ada masalah dengan anak ini, jadi jangan khawatir."


Vean dan Dhea bernafas lega.


Buku mata anak mereka sangat lentik, dengan rambut tebal meski baru lahir.


"Mirip banget sama kamu, Yang," ucap Vean dengan mata berbinar.


"Enggak, mirip banget sama Daddy-nya."


"Mirip kamu."


"Enggak, mirip kamu."


"Enggak mirip kalian, tapi mirip aku," ucap Fio.


"Sembarangan!" ucap Arya dan Juna.


"Amit-amit," ucap Vean.


Fio langsung cemberut, tapi katanya langsung berbinar saat melihat bayi cantik itu.


"Aku harus cepat-cepat nikah, biar nanti anak kita besarnya sama-sama."


"Jadi, siapa nama anak kalian?"

__ADS_1


"Namanya ...."


__ADS_2