
Saat ini, Vean, Arya dan Juna sedang berada di ruangan kerja Arya. Mereka membicarakan tentang pria yang menemui Dhea kemarin pagi.
"Coba kamu telepon dia."
Arya lalu mendial nomor ponsel itu, dan me-loud speaker.
"Halo?"
"Halo, apa benar Anda yang menemui adik saya kemarin pagi?"
"Adik?"
"Dhea."
"Oh, benar. Ini dengan siapa, ya? Apa Dhea bisa bertemu dengan ibunya?"
"Saya Arya. Bisa kita bicara secara langsung."
"Baik."
"Nanti saya akan mengirimkan alamatnya kepada Anda. Kalau begitu, saya tutup dulu."
Arya lalu mengirimkan alamat tempat mereka akan bertemu. Setengah jam sebelum pertemuan, Arya, Vean dan Juna pergi ke restoran. Vean dan Juna tidak memasuki ruangan yang sama dengan Arya. Mereka berdua ada di ruangan sebelahnya. Memasang perekam pada Arya, agar bisa mendengar langsung apa yang pria itu katakan.
"Gimana, gambarnya jelas?"
"Jelas. Kita bisa melihat secara jelas wajah pria itu."
__ADS_1
"Suara, gimana suara?"
"Ar, coba kamu ngomong!"
"Hm."
"Heleh. Tapi lumayan jelas juga."
Mereka bisa mendengar suara pintu yang dibuka.
"Selamat siang."
"Ya, silahkan duduk, Pak."
Arya melihat pria itu secara langsung, memberikan penilaian padanya.
Begitu juga dengan Vean dan Juna. Mereka memang membiarkan Arya yang tampil di muka, karena pria itu besar bersama Dhea.
"Adik?"
"Saya dan Dhea besar di panti asuhan yang sama. Dhea sudah seperti adik saya sendiri."
"Oh, jadi begitu. Benar, saya sudah beberapa waktu ini, mencari informasi tentang anak dari kakak ipar saya."
"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?"
"Kakak ipar saya itu, dulu punya masalah. Untuk masalahnya sendiri, saya rasa saya tidak punya hak untuk menjelaskan. Biar nanti dia sendiri yang menceritakan semuanya. Namanya Wati, sekarang dia sedang sakit. Dia baru menceritakan tentang anak yang dulu dia letakkan di depan pintu panti. Sekarang dia ingin menemui anaknya. Kalau saja sejak dulu dia bercerita di mana dia meletakkan anak itu, mungkin istri saya sudah meminta saya untuk mencari Dhea."
__ADS_1
"Ayahnya?"
"Biar nanti Wati yang menceritakan semua."
"Apa tidak ada keluarga lain?"
"Tidak ada. Istri saya dan kakaknya lun, sebenarnya hanya saudara tiri dari bawaan orang tua masing-masing. Tapi hubungan keduanya cukup baik."
"Apa Dhea tidak memiliki saudara lain? Kakak, atau adik, mungkin?"
"Tidak ada. Dhea adalah anak satu-satunya."
Arya mengangguk.
Arya ingin bertanya, apa pekerjaan ibunya Dhea—Wati, tapi dia juga tahu kalau itu tidak sopan. Biar nanti Dhea sendiri yang bertanya.
Bukan hanya Dhea saja yang kemarin merasa jantungnya berdetak kencang. Sekarang, Arya, Vean, bahkan Juna pun, ikut deg-degan.
"Di mana ibu Wati tinggal?"
"Ada di pinggiran kota."
"Silahkan di makan, Pak."
Seorang pelayan menghidangkan makanan di meja mereka. Arya, Vean dan Juna, melihat penampilan pria itu yang biasa-biasa saja. Tidak terlihat seperti orang berada.
Mungkin memang benar, kalau keluarga Dhea bukan berasal dari keluarga berada. Apa mungkin karena faktor ekonomi, ditinggalkan suami saat hamil dan stres karena biaya hidup untuk anaknya nanti?
__ADS_1
Berbagai macam pikiran, sibuk menerka-nerka, dan juga khawatir. Mereka jadi seperti Dhea saat itu.
Mereka khawatir, apa yang Dhea takutkan, benar-benar menjadi alasan utamanya dia dibuang. Anak mana yang sanggup menerima kenyataan kalau dia anak hasil hubungan diluar pernikahan?