
Di rumah sakit, mereka melihat berita yang sedang viral. Tentang video tidak kekerasan yang dialami oleh Dhea, juga penangkapan Mila.
Kedua orang tua Vean yang sedang ada di rumah langsung menuju kantor polisi untuk mendampingi calon besan mereka.
Vean dan Arya saling tatap, namun tidak ada yang mengatakan apa pun.
Vean lalu masuk ke dalam ruang ICU Dhea. Ditatapnya gadis itu, yang masih betah memejamkan matanya. Wajahnya masih terlihat pucat, dengan selang infus dan alat bantu pernapasan.
Vean duduk di sisi brankar, menatap lekat mata Dhea dengan bulu mata lentiknya.
Vean kembali keluar, duduk memisahkan diri dari yang lain. Matanya tertutup rapat, dan tidak lama kemudian pintu kembali terbuka dengan orang-orang yang tergesa-gesa masuk ke dalam.
"Arya, tolong cabut laporan kamu kepada mamaku," ucap Fio dengan memelas.
Flashback On
"Siapa yang melaporkan masalah ini?"
"Saudara Arya."
"Arya?"
Selagi Vean rapat, Arya memang langsung pergi ke hotel untuk mengambil bukti dan melaporkan kepada polisi. Dia tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti Dhea lolos begitu saja, tidak peduli siapa yang akan dia lawan. Dia bertindak sangat cepat sebelum ada yang menghapus CCTV itu. Bisa saja Ronald meminta lebih dulu rekaman CCTV itu dihapus, apalagi dia adalah calon besan dari pemilik hotel ini.
Tidak lama setelah Arya pergi, Vean datang ke hotel itu untuk melihat CCTV juga.
__ADS_1
Flashback off
"Arya, tolong cabut laporan itu, kasihan mamaku."
"Tapi aku tidak kasihan pada mama kamu. Aku lebih sayang pada Dhea daripada dia."
"Ar, Dhea juga pasti akan memaafkan mama, dia ...."
"Jangan menjadikan kebaikan Dhea untuk membujuk aku. Aku tidak sebaik Dhea yang mengalah begitu saja hanya demi kalian. Dengar, aku yang besar bersama Dhea. Aku memang sangat tahu bagaimana dia. Kali ini, aku tidak akan membiarkan dia dimanfaatkan lagi!"
"Arya, tolong selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan saja," harap Ronald.
Arya mencibir.
"Jangan mimpi!" Arya memalingkan wajahnya.
Vean sendiri tahu bagaimana Arya. Arya sama seperti dirinya, memiliki sikap keras. Kalau dia sudah bertindak, maka tidak ada yang bisa mencegahnya.
"Arya, ayo kita bicarakan baik-baik. Kita selesaikan secara kekeluargaan, dan fokus pada kesehatan Dhea," ucap Candra, berusaha ikut membujuk Arya.
Arya malah memejamkan matanya, Menulikan diri atas permintaan mereka.
"Arya ...."
"Kalau aku yang menyakiti putrimu, apa kamu akan menerima jalur kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah ini?"
__ADS_1
"Apa?"
Arya lalu maju, mendekati Fio dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Jangan sakiti putriku!"
Mendengar itu, Arya langsung terkekeh.
"Kalau aku menyakiti dia, apa kalian mau melepaskan aku begitu saja?"
Jawabannya tidak, tapi hanya bisa dikatakan dalam hati saja.
"Tidak mungkin, kan?" tanya Arya mengejek.
"Dan kamu, jangan pernah lagi menemui Dhea! Dhea masih bisa memiliki teman yang lebih layak dari kamu. Kamu turuti saja keinginan ibu kamu itu yang melarang Dhea untuk bertemu dengan kamu. Mengenal kalian hanya membuat hidup Dhea rugi dan hancur saja!"
Vean langsung menoleh dan menatap Arya.
Ya, apa yang Arya katakan memang benar.
Mengenal Vean dan Fio hanya membuat Dhea menderita.
Sejak awal Vean bisa tahu kalau Arya sangat peduli pada Dhea.
Apa Arya menyukai Dhea? Atau itu kasih sayang sebagai seorang kakak kepada adiknya? Mengingat mereka sudah bersama sejak kecil.
__ADS_1
Teman-teman Dhea yang ada di sana juga tidak peduli dengan Fio atau mamanya. Mungkin ini bisa menimbulkan efek jera untuk Mila.