
Mereka terpaksa berhenti karena hujan turun dengan deras.
"Apa tidak bisa lanjut saja?"
"Tidak, Dhea. Sangat berbahaya melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti ini."
"Tapi aku mau melihat ibu untuk yang terakhir kalinya."
"Iya, aku sudah menghubungi Om kamu, agar jangan dulu memakamkan ibu sebelum kamu datang."
Satu jam kemudian, mereka baru melanjutkan perjalanan.
Kini mereka memasuki kawasan yang sangat sepi. Hanya ada hutan-hutan di sepanjang jalan. Tidak ada lampu penerangan selain lampu mobil. Jalanan yang licin karena tanah merah, berganti-ganti dengan jalanan berbatu. Mereka seperti mendengar suara-suara aneh, mungkin suara binatang liar.
Yang perempuan merapatkan duduk mereka. Mereka memang belum pernah pergi ke tempat seperti ini, apalagi tengah malam buta. Sudah tepat sekali keputusan Vean untuk membawa polisi dan para bodyguard.
Untung saja saat Dhea mendengar berita itu, ada kami di dekatnya. Kalau tidak ....
"Serem, ya."
Mereka hanya bisa menghela nafas melihat kondisi jalanan ini. Sepi, gelap, serem, dan kemungkinan besar banyak hewan buasnya.
Bruk
Mobil-mobil tiba-tiba saja berhenti.
"Ada apa?"
Yang lain saling bertanya, kenapa mereka tiba-tiba berhenti di tempat seperti ini.
__ADS_1
"Eng ... nggak mungkin perampok, kan?"
"Ada apa?" Teriak orang di belakang.
"Mobil paling depan jeblos. Kita harus membantu dulu."
Beberapa orang pria turun di tengah hujan. Mereka membawa alat-alat untuk mengevakuasi mobil. Sebagian lagi tetap diam di mobil, menjaga para perempuan.
Terdengar suara yang saling membantu, lalu teriakan seseorang.
"Ada apa?"
"Ada yang diserang binatang!"
"Dia digigit ular."
"Bagaimana kondisinya?"
Hingga menjelang pagi, mereka masih saja di sana.
"Ibu ...."
"Tenang saja, ibu akan dimakamkan setelah kamu datang."
"Apa kita bisa melanjutkan perjalanan?"
"Sebentar lagi. Ban masih belum terangkat sepenuhnya."
Dalam hati, Vean berjanji akan meningkatkan kampung ini.
__ADS_1
Mereka ... bersyukur karena Dhea tidak dibesarkan di sini. Ya meski bukan berarti mereka juga senang Dhea dibuang ke panti asuhan.
"Oke, kita bisa lanjut jalan sekarang!" teriak orang yang ada di depan.
Mobil kembali bergerak. Rombongan itu kini lebih berhati-hati sekarang. Dua jam kemudian mereka tiba di perkampungan itu. Air mata Dhea semakin menderas.
Dhea turun dengan kaki bergetar. Vean memegang pundak Dhea dengan erat, agar gadis itu bisa berdiri dengan tegak.
Di sana, terbaring tubuh yang sudah ditutupi dengan kain.
"Bu ... ibu!" Dhea berlari ke arah ibunya.
Dipeluknya tubuh yang sudah tak bergerak itu.
"Bu, kenapa ibu pergi? Kita baru bertemu dua kali, Bu!"
Mereka memalingkan wajah, tidak tega melihat gadis itu yang meraung memeluk ibunya.
Benar, baru dua kali mereka bertemu, bahkan tanpa saling bicara.
"Bu, bangun, bangun!"
Rasanya sakit sekali. Setelah bertahun-tahun menunggu, mencari dan berharap. Diberi kesempatan untuk bertemu, namun hanya saling bertatap muka saja. Belum ada pelukan hangat. Belum ada usapan lembut.
"Ibu bahkan belum memelukku! Ibu belum mencerminkan semuanya kepadaku, Bu. Kenapa, kenapa pergi begitu saja? Kenapa? Jawab aku, jawab aku!"
Vean mengusap air matanya. Dia tahu, bahkan sangat tahu apa yang Dhea rasakan saat ini.
Mungkin jika Tuhan tidak berbaik hati pada Vean, dialah yang dulu akan seperti ini. Menangisi kepergian Dhea tanpa salam perpisahan, tanpa penjelasan dan tanpa kata maaf.
__ADS_1
Ibu Wati pergi begitu saja, meninggalkan duka untuk Dhea.
Bertemu untuk kembali ditinggalkan ....