
"Bang Ferooo.!!" panggil Fano yang baru keluar dari dalam rumah sambil berlari.
"Ckk. Kecebong pake keluar lagi." gumam Fani.
Perasaan Fani sudah tidak enak. Karena kemungkinan besar akan ada masalah yang di buat oleh Adiknya itu.
"Abang udah lama nggak main ke sini. Emang Abang nggak kangen apa sama aku yang keren and imut ini." ucap Fano yang sudah berada di hadapan Fero dan Fani.
"Idih pede banget." ucap Fani tertawa sambil mendorong bahu Fano.
"Apa sih ka sirik aja." ucap Fano kesal. "Abang main yuk.!" ajak Fano pada Fero.
"Mau main kemana.?" tanya Fero.
"Ke taman depan aja bang. Di sana lagi ada pasar malam." jawab Fano. "Tapi kita jalan kaki aja bang." lanjut Fano.
"Kuylah."
Saat Fano baru saja melangkahkan kakinya. Belakang bajunya di tarik oleh Fani.
"Apa sih ka tarik-tarik baju aku." ucap Fano kesal sambil melepaskan tangan kakaknya dari belakang bajunya.
"Kamu pengen pergi-pergi aja. Emangnya kamu udah izin sama papah.?" tanya Fani.
"Papah,,aku izin mau jalan-jalan sama bang Fero ya.!" seru Fano.
"Iya." jawab sang Papah dari dalam rumah.
"Sumpah berasa tinggal di hutan gue." gumam Fani sambil menutup kedua telinganya. "Yaudah sono pergi. Jangan malam-malam pulangnya." lanjut Fani.
Saat Fani ingin masuk ke dalam rumah. Fero melirik ke Fano memberi kode.
"Papah,,aku sama ka Fani berangkat ya. Assalamu'alaikum." seru Fano lagi.
"Wa'alaikumsalam."
Seketika langkah Fani terhenti dan berbalik melihat Fano. "Eh kecebong siapa juga yang mau ikut kalian." ucap Fani kesal.
"Cepat ka jangan lamban." seru Fano yang sudah jalan duluan.
Fero hanya menahan tawa melihat kelakuan Adik dan Kakak yang selalu saja ribut. Entah kapan mereka akurnya. Mungkin hanya pada waktu mereka tidur saja.
Fani mendelik ke Fero. "Apa lu. Ini semua gara-gara lu." sungut Fani kesal.
Fero hanya memasang wajah cuek dan mengangkat bahunya. "Cepat jalan jangan lamban." ucap Fero yang jalan duluan menyusul Fano.
"Dasar mantan nggak ada akhlak." umpat Fani kesal. Mau tidak mau Fani ikut dengan mereka.
__ADS_1
Fero hanya tersenyum mendengar umpatan Fani.
Fero dan Fano sudah berjalan di depan cukup jauh. Sedangkan Fani masih di belakang dengan langkah malas.
"Ckk.. Bisa-bisanya gue nurut sama mereka jalan kaki ke taman. Di kata taman depan dekat kali ya." gumam Fani kesal karena harus berjalan kaki ke taman depan yang lumayan jauh.
"Benar-benar dah adik sama mantan nggak ada akhlak. Mereka yang ngajakin gue. Mereka juga yang ninggalin gue." sungut Fani yang di tinggal Fero dan Fano.
Tiba-tiba ada dua orang pria menghadang jalan Fani
"Mau kemana neng malam-malam jalan sendiri.?"
"Kepo banget lu. Minggir gue mau lewat." kata Fani.
"Ckk.. Cantik-cantik kok galak sih. Jangan galak-galak dong neng,nanti cantiknya hilang loh."
"Bodo amat." ketus Fani.
Ke dua pria itu melangkah maju.
"Mau ngapain kalian.?" tanya Fani panik dan perlahan melangkah mundur.
"Mau ajak neng main." jawab pria itu dengan senyum smirk dan semakin melangkah mendekat.
"Stop di situ. Maju selangkah lagi gue teriakin maling nih.!" ancam Fani dengan wajah yang mulai takut dengan ke dua pria itu.
"Nggak usah takut neng niat kita baik kok. Cuma mau nemenin neng jalan aja biar nggak sendiri."
"Mau kemana?" tanya si pria dengan seringai.
"Lepasin tangan gue." kata Fani sambil berusaha melepaskan genggaman pria itu.
🌺 Di Lain Tempat 🌺
"Bang,,ka Fani mana?" tanya Fano yang melihat ke belakang.
"Tuh di belakang." jawab Fero yang masih fokus dengan HP nya.
"Mana bang? Nggak ada." kata Fano.
Fero tersentak kaget saat menengok ke belakang ternyata benar saja tidak ada Fani.
"Ayo bang kita cari.!" ajak Fano.
Di persimpangan jalan Fero melihat Fani yang sedang di ganggu oleh dua pria. Seketika darahnya bergejolak dan rahangnya mengeras saat melihat pemandangan di depan matanya.
"Kamu tunggu di sini aja." ucap Fero dan di anggukan oleh Fano.
__ADS_1
"Lepasin dia.!" seru Fero yang sudah berada di depan mereka.
Fani dan kedua pria itu melihat ke sumber suara.
"Fero." kata Fani dalam hati.
"Siapa lu? Nggak usah ikut campur." ucap si cowok satunya.
"Gue akan ikut campur jika kalian menggangu cewek gue." tegas Fero.
*Deg*
Entah mengapa jantung Fani berdetak kencang saat mendengar perkataan Fero.
"Atas dasar apa lu bilang dia cewek lu. Jelas-jelas kita lihat dia jalan sendiri. Jadi jangan mengaku-ngaku deh lu." kata si cowok yang satunya lagi.
"Lepasin gue." ucap Fani yang masih berontak melepaskan tangannya dari dua laki-laki itu.
"DIAM.!!" seru kedua laki-laki itu dan genggamannya semakin kuat di tangan Fani.
"Auww.." rintih Fani kesakitan.
"Gue bilang lepasin dia." bentak Fero yang semakin marah saat mendengar rintihan Fani. Kedua tangannya sudah terkepal kuat. Sampai urat tangannya terlihat jelas.
"Banyak bacot lu." kata si laki-laki itu.
Terjadilah perkelahian. Gerakan Fero cukup lincah saat berkelahi meski dia melawan dua cowok itu. Bagi Fero itu hal yang sangat mudah karena ia pernah berkelahi lebih dari 8 orang. Dan dengan mudahnya ia mengalahkan mereka semua.
Tidak membutuhkan waktu lama Fero pun mengalahkan ke dua pria itu.
"Sekali lagi gue lihat kalian menggangu dia. Kalian akan berurusan sama gue." ancam Fero.
"Ampun bang,gue janji nggak akan ganggu cewek lu lagi." ke dua pria itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
Fero menghampiri Fani dan langsung menarik Fani ke dalam dekapannya. Fani pun membalas pelukan Fero.
"Lu nggak papa kan.?" tanya Fero dengan nada khawatir.
"Gue nggak papa. Makasih." kata Fani yang sudah melepaskan pelukannya dan mereka saling bertatapan. Mereka pun tersadar saat ada suara.
"Bang Fero nggak papa kan. Ada yang terluka nggak.?" tanya Fano yang sudah berada di tengah-tengah mereka.
🧚♀️ Author : Fano bisa nggak nongolnya ntar aja. Kamu tuh merusak suasana tau nggak 😒
"Ckk,,sebenarnya kamu adik kk apa adiknya dia sih.?" tanya Fani kesal.
"Ih kk amnesia ya. Aku kan adiknya kk." jawab Fano.
__ADS_1
"Ya terus kenapa kamu tanya ke dia? Yang harusnya kamu tanya itu kk bukan dia." kata Fani.
Fano memutar kedua matanya malas. "Yang tadi berkelahi sama ke dua pria itu kan bang Fero bukannya kk. Jadi ngapain aku tanya kk yang hanya menjadi penonton aja." cibir Fano.