Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
212 Positif


__ADS_3

Vean membuatkan jus tanpa gula untuk Dhea. Pria itu benar-benar telaten menjaga istrinya.


"Kamu mau makan apa?"


"Gak mau apa-apa, Kak?"


"Makan sayurnya saja, ya. Gak usah pakai nasi."


Vean menyuapi sayur yang tidak terlalu banyak menggunakan bumbu. Juga ada singkong dan ubi rebus sebagai karbohidratnya.


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Hari Minggu ini mereka berkumpul, membuat rujak untuk Dhea.


"Jangan terlalu pedas," ucap Vean.


"Kak, aku mau bubur kacang hijau," ucap Dhea saat melihat penjual bubur yang lewat di depan rumah mereka.


"Bang, beli."


Jika yang satu beli, maka yang lain akan ikut beli.


"Sudah, habiskan, Kak!" Baru dua suap Dhea memakannya, dan langsung memberikan untuk Vean.


Beli ini beli itu, tapi Vean yang disuruh menghabiskannya. Juna menahan tawa, sedangkan Arya memalingkan wajahnya. Fio justru tertawa keras.


Vean bersandar lemah di bangku, susah untuk bergerak.


"Kak, aku ...."

__ADS_1


Belum sempat Dhea selesai berbicara, Vean sudah merinding lebih dulu.


"Besok lagi ya, Yang. Aku kenyang banget."


"Aku mau itu, Kak. Rujak aku masih ada."


Dhea memakan rujaknya yang masih ada. Rasa asam pada buah itu membuat tenggorokannya lebih segar. Hanya memakan buahnya saja tanpa bumbu rujak.


"Mau mangganya lagi, sama jambu."


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


Dhea merasakan nyeri di punggung, juga sakit kepala dan keluhan lainnya. Berat badannya juga bertambah meski sering muntah.


Usia kehamilan Dhea sudah memasuki Minggu ketiga. Sekarang saatnya kontrol ke rumah sakit. Seperti biasa, Dhea harus melakukan tes urine dan segala macam tes lainnya.


Dokter melihat hasil tes yang menunjukkan tanda +1.


[Hasilnya +1]


Dokter Bram yang menerima pesan itu, menghela nafas.


Aku harus bicarakan ini pada Vean.


"Jangan lupa obatnya diminum, ya. Kalau ada keluhan lagi, segera datang ke rumah sakit."


"Baik, Dok."


Vean mendorong kursi roda Dhea. Bukan karena manja atau berlebihan, tapi karena memang Dhea yang sedikit susah berjalan.

__ADS_1


...πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦...


"Vean, Om mau bicara."


"Apa, Om?"


"Dhea positif terkena preeklampsia."


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Biasanya ini dapat diderita pada kehamilan pertama, dan di usia kehamilan sekitar dua puluh minggu. Bisa juga di awal-awal kehamilan, tapi tidak semua perempuan akan mengalaminya. Apalagi Dhea yang memiliki satu ginjal, dan ini pun kehamilan pertama, jadi resikonya menderita preeklampsia ini lebih besar."


"Jadi ... aku harus bagaimana, Om?"


"Dhea harus meminum obat. Dsn jaga pola makannya. Kemungkinan juga anak kalian bisa dilahirkan secara prematur."


Air mata Vean langsung menetes. Dia sudah berusaha agar Dhea tidak mengalami semua ini, tapi nyatanya, tetap saja terjadi.


"Pre ... prematur? Apa tidak bisa melahirkan sesuai waktunya?"


"Ini dilakukan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada ibu dan calon anaknya."


"Tapi istri dan anakku akan baik-baik saja, kan?"


"Kita berdoa saja. Ingat harus minum obat secara teratur dan pola hidup sehat. Jangan membuat dia banyak pikiran. Kamu harus tetap ada di sisinya."


Hati Vean benar-benar sakit mendengar semua ini.


Tuhan, tolong jaga mereka. Jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi. Mereka adalah hartaku yang paling berharga.

__ADS_1


Menghirup udara saja, rasanya sangat susah bagi Vean. Rasa panik itu menyerang hari dan pikirannya. Pria itu terus menyeka air matanya yang tidak kita mau berhenti.


__ADS_2