
"Saya terima nikah dan kawinnya ...." Suara Vean bergetar mengucapkan kata sakral itu. Air matanya menetes, berkali-kali mengucapkan syukur dalam hati bahwa hari ini terjadi juga.
Begitu juga dengan Dhea.
Impiannya untuk bersama dengan pria yang dia cintai sejak SMP, pria yang menjadi cinta pertamanya dan menjadi penyemangat baginya.
"Sah."
Keduanya bernafas lega, begitu juga dengan pihak keluarga dan para sahabat, juga mereka yang menjadi saksi kisah mereka.
Dhea membekap mulutnya, menahan isak tangis.
Terima kasih Ya Tuhan.
Dhea menyematkan cincin ke jari Vean, lalu mengecup punggung tangan pria itu, sebagai tulang punggungnya.
Vean menyematkan cincin ke jari Dhea, kali mengecup kening gadis itu, sebagai tulang rusuknya.
Keduanya tertawa, tapi juga menangis. Sulit dijabarkan dengan kata-kata.
Rasanya seperti ... ya begitulah. Terlalu indah untuk dirasakan dan terlalu kompleks untuk diutarakan.
Arya dan Juna memeluk Vean.
"Jaga adik kami baik-baik."
"Pasti!" jawab Vean dengan mantap.
__ADS_1
Mereka melakukan sungkem kepada keluarga. Mendengar petuah-petuah yang diucapkan. Air mata itu tidak mau berhenti, jika karena cengeng, tapi karena terlalu bahagia.
Sudah belasan tahun berlalu sejak mereka pertama kali bertemu, dan ini babak baru dalam hidup mereka sebagai sepasang suami istri.
"Jangan menangis lagi, nanti mata kalian bengkak. Masa bertemu dengan para tamu matanya bengkak begitu."
Tapi mau dibilang seperti apa pun, tetap saja Dhea menangis.
"Aku gak lagi mimpi kan, ya?" tanyanya.
"Enggak. Jangan nangis, Dhea. Bagaimana nanti malam, coba?" ucap Fio.
"Malam pertama, ya?" tanya Dhea.
"Resepsi!" jawab Fio kesel.
Wajah Vean memerah mendengar jawaban Dhea. Kan dia jadi grogi. Mereka menertawakan kegugupan Vean.
Sore harinya mereka mengadakan resepsi. Foto-foto prewedding mereka semakin banyak, dan semuanya terlihat menggemaskan.
"Melihat ini, jadi ingin kembali ke masa-masa sekolah, ya."
Nuansa pernikahan ini memang memakai warna putih, biru dan abu-abu. Ya seperti Dhea di masa putih biru dan Vean yang putih abu-abu. Bahkan gaun pernikahan Dhea untuk resepsi ini pun warnanya putih dan biru. Sedangkan pakaian pengantin Vean dengan kemeja putih dan jas abu-abu.
Acara resepsi sebentar lagi akan dimulai, para tamu sudah tidak sabar menunggu kehadiran pengantin itu. Yang tahu kalau dulu Fio dan Vean pernah bertunangan, memandang iba pada gadis itu, padahal Fio sendiri cuek dan terlihat sangat bahagia.
"Apa aku harus pura-pura menangis dan berteriak, "Vean, Dhea, tega sekali kalian mengkhianati aku ....'"
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" ucap Arya dan Juna.
"Iya, iya. Enggak bisa diajak bercanda banget sih, kalian. Cuma Dhea doang yang asyik."
Musik mulai berganti, kedua pengantin mulai memasuki taman yang dekorasinya sangat indah itu.
"Cantik banget, ya."
Vean dan Dhea terus tersenyum.
"Kak?"
"Hm?"
"Kok aku jadi cengeng begini ya, Kak? Dulu aku nghayalnya enggak ada cengeng begini."
Vean menahan tawanya. Antara gemas dan lucu.
Jangankan kamu, aku saja masih pengen nangis.
Fio mendekati keduanya.
"Dhea, Vean, tega sekali kalian ...."
Deg
Vean, Juna dan Arya terlihat kesal, begitu juga dengan pihak keluarga Juna dan Vean. Apa Fio masih kesal dengan putusnya pertunangan mereka?
__ADS_1
Jangan-jangan selama ini sikap baik Fio hanya pura-pura saja.
Suasana menjadi hening, orang-orang merasa iba pada gadis itu yang wajahnya sudah berkaca-kaca.