Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
261 Bial Gede


__ADS_3

"Roro, Ean, Dhi, Aine ...."


Yuki terus saja menyebut nama-nama itu, yang terdengar aneh di telinga mereka. Mereka adalah nama anak-anak yang terlibat syuting dengan Yuki dan Faustin.


Acara anak-anak yang memiliki rating tertinggi untuk acara sejenisnya. Sepertinya kedua anak ini akan susah dijauhkan dari kamera. Faustin dan Yuki bahkan punya fans yang mencapai jutaan. Banyak tawaran iklan dsn main film, tapi kedua orang tua anak-anak itu tidak menerimanya. Kalau hanya untuk iklan dan acara televisi, tiga kali seminggu, masih tidak masalah. Tapi untuk film apalagi serial, mereka tidak mau.


Faustin sekarang sedang membuat gambar, sedangkan Yuki yang akan mewarnainya. Keduanya sering kali melakukan sesuatu bersama.


💦💦💦


"Sayang, kita berobat, yuk?"


"Gak usah. Aku sudah minum vitamin."


Untung saja Khea tidak menolak makanan, jadi Vean tidak terlalu khawatir. Khea yang sakit sangat dimanjakan oleh Bianca dan Friska. Kedua wanita paruh baya itu memasak sup dan nasi merah juga ikut menjaga Yuki. Untung saja mengurus Yuki pun tidak terlalu susah. Kalau susah disuruh tidur, cukup bermain dengan Faustin hingga keduanya ketiduran di atas karpet tebal.


"Coba sini, kalau tidak mau ke dokter, aku saja yang periksa."


Juna langsung memegang pergelangan tangan Dhea, lalu manggut-manggut, kemudian geleng-geleng.


Pluk


"Yang benar, periksanya."


"Ck."


"Menurut analisa yang kemungkinan kebenarannya sembilan puluh sembilan persen ...."

__ADS_1


"Yang benar!"


"Menurut hasil pemeriksaan yang dilakukan secara ...."


"Junaaaa! Jangan macam-macam."


"Hamil!"


"Hah? Yuki mau punya adik?"


"Cie, ngarep, cieeee!"


Kedua pria itu main kejar-kejaran. Dhea yang sudah lemes, jadi bertambah lemes karena ulah mereka. Bianca dan Friska sampai geleng-geleng kepala. Sudah sedewasa itu, tapi keduanya kasih saja seperti anak kecil.


Yuki yang melihat Vean dan Juna kejar-kejaran, juga ikut mengejar mereka, lalu diikuti oleh Faustin.


Kedua pria dewasa itu ngos-ngosan. Felix dan Steve juga Arya cukup melihat saja. Mereka tidak mau ikut-ikutan lelah. Cukup melihat aksi Tom and Jerry itu.


Vean mengkekep Juna di keteknya. Melihat itu, Yuki datang dan mengkekep Vean dan Juna di keteknya.


Arya, Felix dan Steve menahan tawa. Melihat Merkea benar-benar hiburan. Mendengar suara pedagang makanan, Yuki langsung memanggil.


"Baco!"


"Siap, Cantik!"


Vean memesankan Yuki bakso—baksonya saja dengan kuah polos.

__ADS_1


"Faustin mau pakai mie, gak?"


"Gak. Pakai kecap."


Vean juga memesankan Dhea bakso. Mungkin makan makanan hangat sedikit pedas bisa membuat segar.


Tidak lama kemudian, pedagang sate lewat.


"Mau itu."


"Elah, yang satu juga belum masuk mulut, Yuki."


Vean memesankan Yuki sate. Dia tahu Yuki suka dengan bumbu sate. Sambil menunggu kuah bakso adem, balita itu melihat sate yang dibakar.


"Bang, sate," ucap Juna.


"Elah, makanan yang satu belum dicerna, udah pesan lagi," balas Vean.


Juna berlagak polos.


"Aku kan masih dalam proses pertumbuhan. Harus banyak makan. Ya kan, Yuki?"


Yuki sih manggut-manggut saja. Dia sedang konsentrasi menatap sate yang dibakar dengan aroma khas.


Memang enak makan di bawah pohon dengan semilir angin yang sepoi-sepoi. Sepiring sate dengan lontong diberikan pada Yuki.


Yuki memakan satu tusuk sate. Lalu menusuk bakso dan dioleskan ke bumbu sate. Setelah itu, tusukan yang sudah bersih itu, diberikan pada Juna.

__ADS_1


"Mam, bial gede."


__ADS_2