Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
122 Sejak Saat Itu


__ADS_3

"Tapi Ma ...."


"Mau, ya."


Vean tidak menjawab, dia hanya menunduk. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Dhea.


"Vean, papa mau bicara berdua sama kamu."


Di luar ruangan Friska, Candra mengajak bicara Vean.


"Untuk sementara ini, kamu setuju saja permintaan mama kamu."


"Tapi, Pa ...."


"Papa mengerti. Nanti kita bahas lagi, ya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan mama kamu."


Sejak saat itu, Vean semakin pendiam, bahkan menjauh dari keluarganya.


Dia tidak menolak perjodohan itu, tapi juga tidak mengiyakan.


Hari ini ada pertemuan keluarga Vean dan Fio. Fio duduk di sebelah Vean, mengajak pria itu bicara. Vean hanya pura-pura mendengar, padahal dia sendiri juga bingung, apa yang gadis di sebelahnya itu bicarakan.


Lagi-lagi hanya Dhea yang bisa begitu menarik perhatiannya.


"Lagi lihat apa, sih?" Fio mencoba melihat apa yang sedang Vean lihat di ponselnya.


"Kamu bawel banget sih!" ucap Vean dengan ketus.


Dia benar-benar menunjukkan rasa tidak sukanya pada Fio. Wajah Fio langsung cemberut, dan pergi.


Vean kembali membandingkan Dhea dengan Fio.


Jika Fio yang baru sekali dia kali diketusin atau dicuekin sudah terlihat kesal, berbeda sekali dengan Dhea. Gadis itu akan tetap tersenyum dan tidak pernah mengeluh, malah semakin menggoda dirinya.

__ADS_1


Setia kali Vean membuat Fio kesal, maka Friska akan menegur Vean.


Dasar pengaduan!


Vean sendiri tidak peduli, bahkan kadang sengaja, agar gadis itu kesal, dan meminta agar perjodohan itu dibatalkan.


"Tolong bersikaplah lebih baik pada Fio, Vean."


Vean mendengus, mana bisa dia bersikap baik pada gadis yang menurutnya sangat manja dan menyebalkan.


Hingga suatu hari ....


Di salah satu kafe


"Fio!" panggil seseorang.


Deg


Jantung Vean berdetak kencang. Dia sangat hapal dengan Siara gadis itu. Gadis yang selalu ada dalam mimpinya, gadis yang selalu ada dalam doanya, dan gadis yang akan dijadikan masa depannya.


"Dhea, kenalin, ini pacar aku."


Dhea melihat Vean, wajah cerianya langsung berubah sendu. Matanya berkaca-kaca, dan Vana yakin, Dhea sedang menahan nafas.


"Pacar?"


Vean memalingkan wajah, tidak sanggup melihat wajah Dhea.


Jangan menangis, Sayang. Dia bukan siapa-siapaku.


Mereka duduk bertiga. Hanya Fio saja yang terlihat ceria.


Yang satu remuk

__ADS_1


Yang satu hancur


Yang satu sakit


Yang satu nyeri


Yang satu ingin memeluk


Yang satu ingin berlari


"Aku ... aku mau pulang dulu, mau ngerjain PR."


"Dhe, Dhea!" panggil Fio.


"Ish, si Dhea. PR dari mana coba, tadi kan guru-guru pada rapat. Dia pasti merasa enggak enak sama kita. Kamu tahu gak, dia punya cowok yang disukai sejak kelas satu SMP. Aku harus tahu siapa cowok itu, pantas apa enggak sama Dhea."


Begitu sampai di rumah Vean


"Ma ... Mama!"


"Ada apa, Vean? Kenapa teriak-teriak begitu?"


"Pokoknya aku enggak mau lagi berurusan sama Fio. Dia itu benar-benar menyebalkan."


"Jangan mulai lagi, Vean."


"Aku akan bilang sendiri pada Fio."


Baru saja Vean mencapai pintu rumahnya, mamanya sudah jatuh pingsan.


Sejak saat itu, Vean—terpaksa bersikap baik pada Fio.


Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi melihat senyum dan tawa ceria Dhea.

__ADS_1


Sejak saat itu, Vean pindah dari rumahnya dan memilih untuk tinggal di apartemen.


Sejak saat itu, dia semakin dingin pada orang-orang dan selalu ketus.


__ADS_2