Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
135 Dia Milikku


__ADS_3

Vean membuka matanya, dia tidak melihat apa yang ingin dia lihat. Juga tidak mendengar apa yang ingin dia dengar.


Vean memastikan di mana dirinya berada saat ini. Masih di rumah sakit.


"Dhea!" teriak Vean.


"Jangan bangun dulu, Vean. Kamu belum sehat benar."


Vean tidak peduli, dia melepaskan infusnya dan bangkit dari brankarnya.


Friska menghela nafas, dia lalu membantu Vean berjalan. Tidak ada siapa-siapa di kamar ini, selain mamanya, membuat pikiran pria itu kembali buruk.


"Dhea di mana, Ma."


Friska tidak menjawab, dia tetap menuntun Vean berjalan.


"Ma, kita mau ke mana? Kita mau ke ...."


Vean tidak sanggup bertanya apakah mereka akan ke kamar mayat, atau yang lebih buruk lagi pemakaman.


"Jalan pelan-pelan, Vean."


Friska membuka pintu kamar yang ada di sebelah kamar perawatan Vean.


Vean tertegun, di depannya, seorang gadis cantik sedang duduk, dengan kepala yang sedang diusap oleh seorang pria. Membuat hati pria itu memanas karena cemburu.


"Dhea?"


Dhea menoleh, lalu tersenyum. Senyuman teduh yang menenangkan hati. Senyuman yang sangat Vean rindukan. Dan dia senang, karena akhirnya dia bisa melihatnya lagi.


"Ini, nyata, kan? Ma, aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, kan?"

__ADS_1


Friska hanya menggeleng, air matanya keluar karena merasa terharu. Tidak ada yang menyangka, semua ini akan terjadi.


Takdir berbuat baik untuk mereka. Rasa syukur seperti apa yang harus mereka ungkapkan? Rasanya sangat sulit hanya dengan kata-kata saja.


Vean menangis, rasa haru membuncah di hatinya. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ungkapkan, tapi dalam hati dia benar-benar mengucapkan rasa syukur itu.


Bukankah doanya telah terkabul?


Bukankah Tuhan sangat berbaik hati padanya?


Ini adalah kesempatan kedua untuknya. Setelah keterpurukan dirinya, kini nafasnya terasa lebih ringan.


Vean menggenggam tangan gadis itu, tidak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang telah lewat.


"Dhea, aku mencintai kamu."


Wajah Dhea memerah. Dia lalu melihat Fio dan kedua orang tuanya, juga melihat kedua orang tua Vean. Mereka semua melihat gadis itu.


"Jangan terlalu banyak pikiran, istirahatlah."


Dhea meringis dalam hati, bagaimana bisa dia istirahat di saat semua orang sedang menatapnya dengan dalam seperti ini. Apalagi dengan pernyataan Vean barusan.


Tapi akhirnya dia tertidur juga, karena pengaruh obat. Vean tetap duduk di samping Dhea. Masih banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


"Kamu tidak sedang bermimpi." Juna menepuk pundak Vean, memahami bagaimana bingungnya pria itu.


Dhea terbangun dari tidurnya. Melihat orang-orang yang masih ada di dalam kamarnya, namun semuanya tidur.


Tua muda, laki-laki dan perempuan, semaunya berkumpul di sini, menemani dirinya.


Dhea menghela nafas, sama sekali tidak menyangka dia telah melewati semua ini.

__ADS_1


Mungkin papa dan mama masih tidak ingin bertemu denganku.


Gadis itu lalu melihat ke sampingannya. Ada Vean, yang masih setia ada di sisinya—sedang tidur, dan masih tetap memegang tangannya.


Dhea merasa hangat di hatinya. Merasa ini hanya mimpi.


Mengingat pernyataan Vean tadi, membuat wajah Dhea memerah. Tapi dia tidak mau berbangga diri, dia tidak mau Vean hanya merasa kasihan atau berterima kasih padanya.


Apalagi melihat tatapan Mila, membuat gadis yang baru saja melewati masa kritis itu cukup sadar diri.


💦💦💦


Kondisi Dhea semakin membaik. Vean sama sekali tidak mau jauh dari gadis itu.


"Kak Vean mau apa?"


"Ikut kamu."


"Aku mau ke kamar mandi, Kak. Kakak mau ikut juga?"


Wajah Vean langsung memerah, dia baru sadar kalau dia dan Dhea saat ini berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


Juna dan Arya menghela nafas. Vean benar-benar memastikan dia tidak jauh dari gadis itu, dan meminta kamar perawatan yang sama dengan Dhea.


Vean berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Kamu seperti pria mesum yang ingin mengintip perempuan, Vean."


Vean mendelik pada Juan, sedangkan Arya hanya menggelengkan kepalanya. Pria itu sangat bersyukur, karena Dhea sudah sadar.


Vean melihat Arya, yang baginya adalah saingan terberatnya. Tapi ada juga Juna, yang dulu pernah mengatakan ingin mendekati Dhea.

__ADS_1


"Kalian berdua tidak boleh mendekati Dhea, dia milikku."


__ADS_2