Caraku Mencintaimu

Caraku Mencintaimu
263 Frustasi


__ADS_3

Dhea sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Vean memang meminta Dhea dirawat selama satu atau dia hari. Dhea juga harus melakukan pemeriksaan menyeluruh demi keamanan ibu dan janin. Banyak buah di atas meja, juga makanan dan minuman. Vean juga sudah membeli beberapa kotak susu ibu hamil dengan berbagai rasa. Kamar VVIP ini tidak seperti ruangan rumah sakit, bahkan aromanya juga tidak bikin mabuk.


Dhea sendiri tidak menyangka dia hamil. Memang sudah lama dia tidak datang bulan, tapi dia pikir siklus menstruasinya yang tidak lancar, karena terkadang memang seperti itu.


Dhea tidak merasa ngidam.


Oh iya, apa jangan-jangan waktu itu aku sudah hamil, ya?


Dhea mengusap perutnya, merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan kembali memberikan Vean anak, keponakan untuk kakak dan sahabat-sahabatnya, juga cucu untuk orang tua dan mertuanya. Dia juga berharap semoga di kehamilan yang sekarang, semuanya berjalan dengan lancar, agar tidak membuat orang-orang khawatir, terutama Vean dan keluarganya.


"Sayang, kamu mau apa?"


"Lagi gak pengen apa-apa."


Kalau pun pengen, itu bukan karena dia ngidam. Arya menatap haru sang adik. Dia sudah bersama dengan Dhea sejak kecil, jadi tentu saja kedekatan mereka lebih erat dari pada siapa pun. Pria itu menggendong Yuki yang masih tertidur dan menepuk-nepuk punggung Yuki.


"Yuki, kamu mau punya adik bayi, loh," ucap Vean saat Yuki telah bangun.


"Acik?"


"Iya, adik bayi."


"Panti?"


"Bukan. Hmmm, yang ini adik bayi yang dilahirkan mommy kamu. Masih ada dalam perut."

__ADS_1


Yuki menatap perut Dhea tanpa berkedip, menunggu adiknya keluar.


"Gada acik."


"Tunggu beberapa bukan lagi, sabar ya."


Yuki manggut-manggut saja, padahal tidak mengerti beberapa bulan itu berapa lama.


Lima menit kemudian


"Mana adik? Beyum ada?"


Helaan nafas terdengar dari sana-sini.


"Belum, nanti ya."


"Buat apa?"


"Beyi adik. Daddy gak unya uang. Celatus mana, celatus?"


Lagi-lagi terdengar helaan nafas. Mau ketawa apa mau kesal? Apalagi Yuki sudah menatap dalam ke arah kantong celana Juna, yang tentu saja menerawang dompet Juna.


"Cucu Opa kenapa lucu banget, sih?" Candra menggendong Yuki dan mengecup pipi gembulnya.


Yuki menggeliat geli, lalu segera turun dan minta digendong oleh dokter Bram.

__ADS_1


"Opa, Una elit tuh, gak mau injamin celatus. Kele."


Sontak saja perkataan Yuki itu membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Ais, jangan fitnah, Yuki. Mana mungkin dokter tertampan di rumah sakit ini pelit dan kere."


Tapi bocah cantik itu tidak bisa diam. Dia sudah menjarah setiap orang dan mendapatkan masing-masing seratus ribu, lalu kemudian diberikan kepada Vean.


"Beyi dulu adik. Ayo ke mamat."


Mamat maksudnya minimarket.


"Adik adanya dalam perut Mommy. Tunggu beberapa bulan lagi baru bisa lahir, gak bisa dibeli."


Yuki berpikir keras.


"Gak beyi? Belalti diuat? Yuk, uat duyu."


Wajah Vean kini memerah. Akhirnya, untuk pertama kalinya dia kalang kabut mendengar perkataan Yuki dan pertanyaan yang sulit dijawab oleh orang dewasa. Pria itu lalu memberikan Yuki pada Friska.


"Cucu mama, tolong dijaga, ya." Dan dia sendiri langsung ke kamar mandi, pura-pura sibuk di sana.


"Aya (Arya), Una (Juna), ayo uat adik, yu."


"Papi sama papa belum bisa."

__ADS_1


"Tintin (Faustin), yuk uat adik, yu."


"Aaaaa Yuki! Kamu membuat kami frustasi!"


__ADS_2