
"Pa, aku mau kerja di tempat Papa. Dapat gaji berapa?"
"Kerja di perusahaan?"
"Iya. Digaji, ya."
Candra menatap aneh pada putra satu-satunya itu, kenapa tiba-tiba mau kerja di perusahaan.
"Tumben, biasanya kalau papa nyuruh kamu ke perusahaan, kamu maunya belajar dari rumah saja."
"Bosan di rumah. Kayaknya lebih bagus praktek langsung di perusahaan."
Vean memang sejak dulu sudah belajar tentang perusahaan, tapi dari rumah. Dia tidak suka memakai pakaian formal dan bertemu dengan banyak orang.
"Bagaimana kalau besok."
"Iya. Jangan lupa gaji aku."
Candra tertawa, tidak perlu membicarakan gaji, toh perusahaan itu memang akan menjadi milik Vean.
Di perusahaan, Vean bekerja dengan tekun.
Gaji pertama, Vean membeli jam tangan couple untuk Dhea.
"Iya, Kak Arya. Makasih ya. Aku baik-baik saja di sini."
__ADS_1
"Siapa Arya?"
"Kakak aku. Kakak di panti asuhan. Kak Arya itu ...."
"Dah ah, berisik!" Wajah Vean cemberut, dia yang tadinya ingin memberikan jam tangan itu untuk Dhea, tidak jadi.
...💦💦💦...
Selama tiga tahun di masa SMP, Dhea selalu memberikan Vean coklat, juga hadiah ulang tahun untuk pria itu.
Kamu kenapa sekarang sering sekali makan coklat.
"Lapar."
"Kalau lapar, ya makan nasi. Sudah tiga tahun loh, kamu ngemil cokelat terus."
Friska menghela nafas. Dia tahu anak laki-lakinya itu sering menyimpan coklat di kulkas, dan tidak ada yang boleh memakannya.
"Oya, sebentar lagi kan kamu mau lukis SMA. Mau kuliah di mana? Di luar negeri?"
"Enggak!" jawab Vean cepat.
Dia tidak mau meninggalkan Dhea sendiri. Selama hampir tiga tahun ini, dia sudah bekerja di perusahaan, menabung semua gajinya, dan dipakai hanya untuk membelikan Dhea barang-barang yang tidak pernah dia kasih ke gadis itu. Hanya di simpan di dalam lemari saja.
Kelamaan kalau harus menunggu Dhea lulus kuliah, apalagi bekerja. Setelah dia lulus SMA nanti, aku akan melamar dia. Aku sudah punya tabungan yang cukup untuk membiayai kuliah dia. Dhea tidak perlu bekerja keras lagi.
__ADS_1
Vean benar-benar ingin menikahi Dhea setelah gadis itu lulus SMA, dan itu masih tiga tahun lebih lagi.
Vean merasa senang, karena selama hampir tiga tahun ini, Dhea tidak pernah dekat dengan pria lain. Meskipun sikap Vena selalu dingin padanya, tapi Dhea tidak pernah mengeluh.
Vean menghela nafas, menunggu tiga tahun itu sangat lama. Dia takut, takut hati Dhea akan berubah. Takut kalau gadis itu akan menyerah.
Tapi dia juga tidak mau menjanjikan apa-apa.
Apa yang harus dia katakan pada kedua orang tuanya kalau dia memacari anak SMP dan berniat menikahi gadis itu setelah gadis itu lulus SMA?
Apa orang tuanya akan menerima status Sehat yang hanya orang biasa ditambah anak yatim piatu sejak bayi?
Tentu saja dia sudah memikirkan semuanya baik-baik.
Tidak mau gadis kecilnya mendapatkan penolakan. Tidak mau Dhea bersedih karena mendapatkan penolakan.
Sudah cukup selama tiga tahun ini Vean menunggu. Menunggu gadis itu SMA, sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.
Sebentar lagi Vean akan kuliah, statusnya sudah bukan anak sekolah lagi. Sidah tiga tahun menjalani, dan harus ditambah tiga tahun lagi untuk menunggu.
Dia akan bersabar, selama ada Dhea di sisinya.
Tiga tahun lagi, Dhea. Bersabarlah, tiga tahun lagi aku akan menikahi kamu ....
Tapi siapa sangka, sebentar lagi, takdir akan mengubah semuanya. Memberikan air mata tiada henti.
__ADS_1
Memporak porandakan hidup mereka ....