
Salju sedang turun dengan di derasnya. Pemandangan putih sepanjang mata memandang benar-benar membuat Dhea senang. Gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum.
Dhea meloncat kegirangan di atas tebalnya salju.
Dia masih tetap sama, suka meloncat seperti anak kecil.
Gadis itu bahkan membuat boneka salju dan menangkap salju di telapak tangannya, lalu memakannya.
"Kaya es serut Kak, tinggal kasih sirup."
Mereka tertawa mendengar perkataan Dhea.
"Aku juga mau. Ada mangkok, gak?" tanya Fio.
"Fio, kalau Dhea yang bicara begitu, lucu. Tapi kalau kamu yang bicara, kok norak, ya?"
Fio langsung melempari Juna dengan salju, tapi yang kena malah Arya. Gadis itu langsung kabur sebelum dimarahi oleh Arya.
Dhea, Clara, Aila dan Sheila kembali bermain ski. Mereka semua memang jago bermain ski. Karena Arya sejak dulu sering disuruh oleh dokter Bram untuk ke luar negeri, pria itu juga akhirnya terbiasa dengan berbagai macam musim dan olahraga salju ini.
"Mereka kalau sudah main seperti ini, mana kenal waktu," ucap Felix.
"Dulu Dhea sering berlibur?" tanya Vean.
Pria itu ingin tahu apa saja yang Dhea lakukan saat jauh dari dirinya.
"Dhea itu kalau diajak jalan, suka susah. Diajak berkenalan dengan pria-pria, juga susah. Tapi kalau diajak segala sesuatu yang berhubungan dengan salju atau coklat, dia begitu semangat. Makanya dia jago main ski. Dia akan selalu menunggu salju pertama di setiap tahunnya. Juga menikmati salju terakhir. Lalu berkata, 'Sampai jumpa.'"
Vean jadi iri, karena bukan dia yang pertama kali tahu kebiasaan Dhea itu. Ya meski dia tahu sejak bertahun-tahun yang lalu, kalau Dhea memang menyukai salju meski belum pernah melihatnya secara langsung.
Vean lalu mendekati Dhea, mengajak gadis itu bermain salju bersama.
"Ayo Kak, kejar aku. Yang kalah dapat hukuman, ya."
"Oke. Gak boleh mengelak kalau dapat hukuman."
"Siap takut!"
__ADS_1
Keduanya lalu berlomba bermain ski. Tidak salah apa yang Felix katakan, kalau Dhea memang jago bermain ski.
Dhea tertawa puas saat dia menang melawan Vean.
"Kasih hukuman apa, ya?" Dhea masih berpikir, hukuman apa yang paling tepat untuk Vean.
Cup
"Eh?"
Kissing?
Hanya menempel sesaat saja.
Masalahnya ....
"Itu hukuman buat aku. Tuh, aku gak menolak, kan?" Wajah Vean memerah.
"Lah, kenapa Kakak yang ngasih hukuman untuk diri sendiri? Hukuman membawa nikmat, ya?"
Wajah Vean semakin memerah. Pria itu langsung kabur, malu dia.
Kuping Vean memerah. Kenapa dia malah malu sendiri. Dhea bukannya tidak tahu malu, dia juga sebenarnya sangat malu, tapi tidak mau juga kalau sampai ditertawakan oleh teman-temannya. Jadi lebih baik dia yang menggoda Vean lebih dulu, dan dia memang suka sekali menggoda pria itu.
Dari dulu, sampai kapan pun.
"Kak, sekali lagi. Coba ulangin!"
"Makanya jangan cari gara-gara. Malah malu sendiri kan, kamu!" teriak Juna.
"Dia yang mulai, malah dia yang malu!" Arya juga ikut mengomentari.
Padahal memang hanya asal nempel saja.
"Aku juga ...."
"Nih, ciuman papan seluncuran."
__ADS_1
"Kalian berdua jangan sampai nanti berebutan aku, loh."
"Situ oke?"
"Aku memang o ...."
"Onderdil!"
Fio menghela nafas.
Heran, kenapa Dhea bisa dekat dengan dua makhluk langka ini? Eh, bukan dua, tapi tiga—sama Vean.
Dhea berlari mengejar Vean. Dia selalu suka menggoda pria itu.
Aku senang kamu kembali ceria seperti dulu lagi.
Hup
Dhea meloncat ke punggung Vean, dan tertawa.
"Balapan, woy!"
Felix menggendong Aila, sedangkan Steve menggendong Sheila. Tiga pasangan itu akhirnya Nakao lari dengan menggendong pasangan masing-masing.
Salju menjadi saksi kebahagiaan mereka saat ini. Meski salju sedang turun, tapi mereka justru merasa hangat.
Hangat karena hati yang senang. Bisa berbagi kebahagiaan yang sama.
Hanya Clara dan Fio saja perempuan yang jomblo, bikin mereka iri. Tapi Clara biasa saja. Dia santai saja menjadi jomblo.
"Kalian ...."
"Enggak, kamu berat! Keberatan dosa!"
"Dan keberatan beban hidup."
Juna dan Arya tertawa.
__ADS_1
"Awas ya kalian berdua."