
"SAH!" suara tepuk tangan dari seluruh tamu undangan seketika bergemuruh memenuhi ruangan akad nikah. Membuat Anya, sang pengantin yang tengah gugup menjadi semakin tampak gugup.
Gadis itu mengepalkan tangannya yang telah basah oleh keringat, merapalkan kalimat-kalimat penenang serta mengatur napasnya demi mengurangi debaran jantung yang kian menggila.
"Sekarang kalian bisa saling menyematkan cincin kawin, lalu mbak Anya boleh mencium tangan suami setelahnya," kata-kata yang dilontarkan Kepala Penghulu yang baru saja menikahkan mereka, membuat jantung Anya berdegup dua kali lipat dari sebelumnya.
Gadis itu menggigit kecil bibirnya. Pipinya memerah. Matanya dengan takut-takut melirik seseorang yang tengah duduk persis di sebelahnya.
Axton, nama pria itu, yang kini telah sah menjadi suaminya sekarang, sama sekali tidak menunjukan emosi apapun. Tidak ada kegugupan, kecemasan bahkan ketidaknyamanan yang terpancar dari dirinya. Raut wajahnya terlihat datar-datar saja seperti biasa.
Anya dan Axton berdiri mengikuti Kepala Penghulu dan para saksi. Dengan tenang pria itu memutar tubuhnya kemudian mengambil cincin berlian dari baki yang disodorkan sang adik ipar, Jagat.
Dia mengambil tangan Anya dan menyematkan cincin tersebut tanpa ragu. Anya berdehem kecil, gadis itu berusaha mendiamkan tangannya yang kini tengah bergetar. Tangannya semakin tidak bisa diam ketika tiba gilirannya untuk menyematkan cincin serupa di tangan sang suami, tidak lupa, Anya kemudian mencium tangan pria itu.
"Cium kening istrinya, Pak," ucap sang potographer yang bertugas mengabadikan momen pernikahan mereka, dengan nada menggoda.
Anya membelalakan matanya. Ia tertawa, lebih tepatnya meringis, "Tidak perl–"
Belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, Axton sudah mencium keningnya terlebih dahulu. Saat itu juga sang Potographer dengan sigap mengabadikan gambar mereka.
Meski hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa kerabat dekat, acara tersebut berlangsung cukup mewah dan meriah. Axton memang tidak menginginkan acara pernikahannya dihadiri selain sanak keluarga, apalagi jika sampai tercium oleh beberapa awak media. Ia beralasan bahwa perjanjian kontrak dengan agensi membuatnya harus menyembunyikan pernikahan mereka dari publik untuk sementara.
Setelah sesi foto dan salaman selesai, mereka kembali ke ruang make up terpisah untuk berganti pakaian.
Savanna Danastri Handoko atau Anya, adalah anak tunggal dari almarhum Sigit Handoko dan almarhumah Adiratna Banurasmi Handoko.
Saat berusia 15 tahun, Anya harus menjadi yatim piatu akibat insiden kecelakaan pesawat yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal saat tengah terbang menuju Tokyo untuk melakukan perjalanan bisnis.
Dia tidak memiliki sanak keluarga dekat selain kakak Tiri dari istri pertama ayahnya (ayahnya adalah seorang duda beranak satu saat menikah dengan sang ibu). Namun hubungan mereka tidak seharmonis keluarga lainnya.
Elang, kakak tirinya, sangat membenci Anya terutama sang Ibu, sebab pria itu berpikir bahwa Ibunya lah penyebab perceraian kedua orangtuanya dahulu. Padahal jelas-jelas kedua orangtua Anya bertemu pertama kali ketika Sigit telah satu tahun bercerai dari istri pertamanya, Dania Tjokro Hadiningrat.
Maka dari itu, Anya akhirnya menerima tawaran Bu Rastini, Kepala Pelayan keluarga mereka, untuk tinggal bersama dan diasuh olehnya.
Selama sepuluh tahun, Anya hidup sederhana di kampung halaman Bu Rastini bersama kedua anak kembar beliau, Kinanti dan Jagat, yang usianya terpaut lima tahun dibawah Anya.
__ADS_1
Hidupnya terasa begitu tenang dan damai sebelum akhirnya Maxim Caldwell, sahabat dekat almarhum ayahnya datang setelah sekian lama tidak bertemu. Terakhir pertemuan mereka adalah lima tahun yang lalu.
Dengan gamblang pria berdarah inggris itu mengatakan akan membawa Anya ke Jakarta untuk tinggal bersama keluarga Caldwell. Bahkan tanpa basa-basi beliau juga mengatakan berniat menikahkan dirinya dengan anak sulung mereka, Axton.
"Aku banyak berhutang budi pada ayahmu dan juga padamu, Anya. Tanpa Ayahmu, perusahaan kami tidak mungkin bisa berdiri hingga saat ini, dan tanpamu ... kami pasti akan kehilangan sesuatu yang berharga. Maka dari itu, aku harap kau sudi memberi kesempatan untuk keluargaku agar dapat menebus semua itu dengan menjadikanmu menantu keluarga Caldwell."
Anya benar-benar terperangah. Dia tak habis pikir, dari sekian banyak balasan yang mungkin dapat dilakukan Maxim, mengapa pria paruh baya itu malah memilih untuk menikahkan mereka berdua?
Butuh waktu berminggu-minggu bagi gadis itu untuk berpikir hingga akhirnya ia memutuskan menerima tawaran Maxim dan ikut ke Jakarta.
Anya tidak terkejut sama sekali ketika Axton menolak mati-matian pernikahan mereka, sesaat setelah mereka dipertemukan kembali. Pria itu bahkan memusuhi Anya secara terang-terangan.
Tidak main-main, dia juga sempat kabur dari rumah, sebelum akhirnya suruhan keluarga Caldwell berhasil menyeretnya pulang.
Anya yang telah mengenal Axton, terutama saat kecil, paham betul bagaimana wataknya yang terbilang keras kepala dan berpengarai dingin. Pria itu tidak akan pernah mau menuruti perintah siapapun tanpa terkecuali, apa lagi jika perintah tersebut merugikan dirinya.
Bahkan, Anya juga mendengar jika Axton menolak meneruskan perusahaan sang ayah dan melemparkan tanggung jawab tersebut pada Callista, adik perempuannya. Dia lebih memilih menjadi seorang model serta bintang iklan yang kini sukses dan tengah naik daun.
Namun sekarang apa yang Anya lihat? Axton sama sekali tidak memberontak, padahal Anya telah membayangkan akan sericuh apa pesta pernikahan mereka nantinya.
Anya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria tersebut.
Jam sudah menunjukan pukul 11 malam saat Anya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
*BUUGH*!
Sebuah lemparan bantal menghantam wajahnya telak sesaat ia melangkah keluar dari sana. Anya yang tidak siap dengan serangan tersebut terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Jangan pernah berharap bisa tidur seranjang denganku! Kau tidur di sana!" suara Axton yang dingin terdengar sangat menakutkan di telinga Anya. Pria itu menunjuk sofa kecil yang ada terletak di sudut kamar hotel mereka.
Mata Anya memanas, dengan langkah gontai gadis itu menghampiri sofa yang berukuran lebih kecil dari tinggi tubuhnya. Mau tak mau dia harus tidur meringkuk di sana.
Anya merebahkan diri menghadap Axton yang telah tidur memunggunginya. Hatinya sedikit tersayat oleh perlakuan Axton.
Mengetahui sikap Axton yang terlihat sekali sangat membencinya, membuat Anya tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak.
Batinnya merana. Setelah sang kakak membencinya, kini sang suami juga ikut pula membencinya.
Mengapa kebanyakan pria di hidupnya begitu sangat membenci Anya?
Apakah sefatal itu kesalahannya karena telah hadir di dalam hidup mereka?
Apakah ia begitu egois menerima tawaran Maxim untuk menikah dengan Axton, seseorang yang dia cintai dulu, ketika mereka masih kanak-kanak.
Gadis itu menarik napasnya perlahan kemudian menghembuskannya. Dia berusaha untuk tidak menangis kendati lelehan airmata sudah mulai bercucuran.
__ADS_1