Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Maxim mengetahui berita soal kepergian Anya.


__ADS_3

2 bulan kemudian.


Anya menjalani kehidupannya dengan penuh suka cita. Lingkungan tempatnya tinggal memudahkan Anya beradaptasi. Ia sudah bisa pergi ke manapun tanpa bantuan Bu Ida. Dia juga sudah akrab dengan beberapa pedagang di pasar yang sering mereka kunjungi. Anya sangat bahagia. Walau terkadang, tak bisa ia pungkiri, ada saat-saat ia merindukan orang tua kandung dan orang tua angkatnya yang telah meninggal.


Dan jujur, ia juga merindukan Axton.


Jika sudah seperti itu, Anya hanya akan menghabiskan waktunya dengan menangis.


Baginya, ini semua adalah resiko dari pilihan hidup yang harus ia tanggung. Toh, mau memilih jalan manapun, sudah pasti akan ada resikonya.


"Baru pulang, Mbak?" sapa salah seorang tetangga, pada Anya yang sedang berjalan kaki menuju rumah.


Wanita itu berhenti sejenak dan menganggukan kepalanya. "Iya, Bu. Mari," ia melanjutkan perjalanannya lagi.


"Eh, Mbak Anya, dari mana?" kini, salah seorang penjual sayur keliling berpapasan dengannya.


"Rumah sakit, Pakde. Pulangnya mampir ke agen, ada beberapa barang dagangan yang habis." Jawab Anya ramah. Wanita itu menelisik gerobak sayuran si Pakde. Sepertinya Beliau akan pulang, sebab gerobaknya nyaris kosong.


"Owalah, Pakde bantu bawa ya? Berat itu," ujar si Pakde penjual sayur, yang tampak khawatir melihat Anya dalam keadaan hamil membawa dua plastik besar berisi belanjaan.


"Tidak apa-apa Pakde, lagi pula jarak ke rumah sudah dekat." Anya menolak halus.


"Yakin tidak apa-apa?" Anya mengangguk mantap. Si penjual sayur itu pun pamit pergi seraya berpesan hati-hati.


Beberapa saat kemudian, Anya sampai di depan rumahnya. "Sampai juga," ujar wanita itu sembari meletakan kedua plastik besar yang ia bawa di atas meja lapaknya.


"Pintarnya, anak Ibu tidak mengeluh." Anya mengelus perutnya yang kini terlihat membuncit.


Usia kehamilannya kini sudah memasuki minggu ke tujuhbelas, trimester dua. Dia sudah tidak merasakan mual seperti dulu lagi. Napsu makannya malah kian meningkat.


Dia juga merasa lebih enerjik. Hampir semua kegiatan Anya mampu lakukan sendiri. Sampai-sampai, memasang terpal sebagai atap dagangannya pun dilakukannya seorang diri. Membuat beberapa tetangga memekik ketakutan kala mendapati wanita itu sedang naik-naik ke atas meja.


*


"Kamu itu ya, bukannya minta tolong!" Bu Ida kontan memarahi Anya dan menyuruhnya turun.


"Tidak apa-apa, Bu, Anya bisa." Anya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


"Cucu Ibu yang apa-apa." Matanya melirik Bimo, sang anak, dengan tatapan bengis. "Kamu juga, Bim, bukannya tolongin Mbakmu! Sana kamu yang nerusin," ujar Bu Ida seraya memukul keras punggung Bimo.


Mendapat pukulan kasih sayang dari sang Ibu, Bimo mengaduh kesakitan. Ia pun menurut dan meneruskan pekerjaan Anya yang sudah setengah jadi.

__ADS_1


"Besok-besok manjat pohon yo, Mbak, biar keponakanku strong kayak Hercules." Mendengar gurauan Bimo, Anya tertawa nyaris terpingkal, sedangkan Bu Ida menghampiri Bimo dan memukul keras kakinya.


"Bu, jatuh aku, Bu, ampun!"


"Biarin, jatuh kamu, jatuh!"


*


"Mbak Anya," lamunan Anya buyar tatkala Dian datang menyapanya.


"Sudah pulang dari dokter?" tanya Dian. Wanita itu ikut membantu Anya mengeluarkan barang belanjaan dan menatanya di dalam etalase.


"Sudah, Yan," Jawab Anya yang kini sedang mengelap meja dan kursi.


"Bagaimana dengan tensi Mbak?"


Anya menghentikan kegiatannya. "Alhamdulillah sudah normal." Wanita itu tersenyum senang.


Dian mengucap syukur, "Dokter sini tak kalah bagus dengan dokter Jakarta, kan?" Anya mengangguk seraya tertawa kecil.


"Ahh, aku sampai lupa. Nanti sore kita kumpul di Panti Kasih ya, Mbak? Donatur terbesar mereka mengadakan acara kecil-kecilan di sana guna merayakan hari jadi Perusahaan," beritahu Dian.


Anya mengangguk. Dia memang sudah mendengar berita tersebut dari dua hari yang lalu. Rumah mereka memang dekat dengan Panti Asuhan anak-anak. Hampir setiap jumat Anya selalu membagikan makan siang di sana.


"Oke, aku jemput nanti ya? Kita naik motor saja supaya cepat."


...***...


Maxim menampar Axton sekuat tenaga, hingga pria itu tersungkur menabrak meja. Meski amarah terlihat jelas di wajah sang Ayah, namun sekilas Axton dapat melihat gurat kekecewaan terpancar dari sana.


"Kau, Papa didik baik-baik, Papa sekolahkan hingga tinggi, karirmu juga sukses. Papa pikir kau akan tumbuh menjadi manusia beradab!" pekiknya marah. Dia sama sekali tidak menyangka, Axton tega mempermainkan ikatan pernikahan di atas sebuah kertas. Pantas saja Anya tidak berani mengangkat telepon dan hanya mau membalasnya lewat pesan singkat saja.


Maxim pikir, perasaan tak enak yang akhir-akhir ini ia rasakan adalah bentuk kerinduan pada anak-anak dan menantunya. Namun ternyata dugaan itu salah.


Callista dan Theresa hanya bisa terdiam. Callista malah sama sekali tidak berniat membela Axton, karena dia sendiri pun telah lebih dulu memberi Axton pelajaran, saat tahu hal itu dari Ian beberapa waktu lalu.


"Papa menikahkanmu dengan Anya semata-mata bukan hanya karena balas budi belaka. Juga bukan hanya untuk menghalangi hubunganmu dengan Hana. Itu semua demi dirimu sendiri! Hanya Anya, gadis yang pantas menerimamu tanpa melihat apanyang kau miliki, X!"


"Kau lihat 'kan bagaimana Hana, wanita yang kau pacari bertahun-tahun itu, sebenarnya? Jika saja Papa tidak menikahkanmu dengan Anya dan membiarkanmu menikahi wanita itu. Jadi apa kau sekarang, hah?" Maxim menatap Axton tajam.


"Kau tahu X, Anya bahkan rela melakukan hal yang belum tentu Hana mampu lakukan." Pria itu tengah berusaha agar tidak kelepasan bicara. Ia sudah berjanji pada menantunya untuk tidak buka mulut, apapun yang terjadi.

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Maxim pergi meninggalkan istri dan kedua anaknya menuju lantai dua.


Maxim mengambil ponselnya dan mencari sebuah nomor.


"Halo,"


"Don, aku punya tugas untukmu,"


......***......


Anya, Dian dan Nina turun dari motor setelah memarkirkannya di depan pagar panti.


Mata mereka terperangah menatap halaman panti yang kini nampak hidup dengan berbagai macam ornamen perlengkapan ulang tahun.


Wanita itu membaca sederet kalimat pada spanduk yang terpajang di depan panti:


"Peringatan hari jadi PT. Danastridyaksa yang ke 35."


Jantungnya berkebit tak karuan. Keringat dingin mulai mengucur di dahinya.


Anya sangat mengenal nama Perusahaan itu. Itu adalah nama Perusahaan yang dimiliki Ayahnya. Danastridyaksa adalah nama gabungan darinya dan Elang, sang Kakak. Beliau mengganti nama Perusahaan tersebut ketika ia lahir.


"Kenapa Mbak?" melihat gelagat aneh dari Anya, Dian bertanya.


"A–aku sepertinya pulang saja, Yan. Tiba-tiba kepalaku pening sekali." Jawabnya berbohong


"Ahh, ya sudah, aku antar ya Mbak?"


Anya menggerak-gerakan tangannya. "Tidak perlu, biar aku jalan saja, Yan. Kau masuk ke dalam saja ya," tanpa menunggu jawaban Dian, Anya bergegas pergi dari sana.


Ia harus cepat-cepat menjauh dari panti, sebelum ada yang memergokinya. Ia tak boleh membiarkan salah seorangpun tahu keberadaannya di sini.


"Anya?" suara seorang wanita terdengar familiar di telinga Anya. Wanita itu pura-pura tidak mendengar.


Terdengar suara langkah kaki berjalan cepat mengejarnya.


Greb!


Wanita tersebut berhasil menggapai bahu Anya dan membalikan tubuhnya.


"Ya Allah, benar Anya!" pekik Wanita itu heran sekaligus senang.

__ADS_1


"B-bunda,"


__ADS_2