
Axton dan Anya tiba di rumah utama Keluarga Caldwell sore harinya. Seperti biasa, mereka disambut hangat oleh kedua orang tua Axton dan Callista, adik iparnya.
"Mama sehat?" tanya Anya ramah setelah gadis itu menanyakan hal yang sama pada Maxim.
Theresa berdehem sebelum kemudian menjawab dengan nada datar, "Ya."
Anya tersenyum maklum. Gadis itu mengerti, Theresa masih belum bisa menyukainya. Walau tidak lagi sering mencibir, namun kentara sekali jika Theresa enggan berinteraksi dengan Anya.
Anya berinisiatif merangkul lengan wanita itu saat masuk ke dalam rumah. Theresa terkejut dan sempat ingin melepaskan diri, tetapi melihat raut wajah Anya yang begitu teduh dan bahagia, ia mengurungkan niatnya.
Callista menyerahkan kue dan pudding buatan Anya pada salah satu maid untuk dihidangkan sebagai cemilan.
Mereka duduk di ruang keluarga, berbincang-bincang sembari memakan kudapan yang dibuat Anya.
Maxim dan Callista tulus memuji kepandaian Anya memasak. Anya tersipu malu.
"Biasa saja, ahh! Bikin yang beginian sih, Mama juga bisa!" seloroh Theresa ketus. Anya tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung atas pernyataan Ibu mertuanya itu.
"Masakan Mama memang seenak itu," puji Anya tulus. Theresa memang pandai memasak. Meski banyak sekali pelayan di rumah besar ini, namun kalau soal makanan yang dikonsumsi oleh keluarganya, dia akan langsung turun tangan sendiri.
Mendengar nada tulus yang Anya lontarkan membuat Theresa terdiam, pura-pura tidak mendengar. Maxim tersenyum kecil melihatnya. Meski lebih pendiam dan cuek, dia yakin Theresa telah berubah menjadi lebih lunak. Walau dia tak tahu apa yang menyebabkan sang Istri berubah, tapi setidaknya wanita itu tidak lagi bersikap terang-terangan membenci menantu mereka.
Setelah lama mengobrol, Maxim mengijinkan mereka semua untuk beristirahat sembari menunggu makan malam. Seperti biasa, Theresa langsung memasuki area dapur dimana para Koki sedang memasak hidangan untuk nanti malam.
Anya mengikuti Theresa dari belakang.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Theresa risih.
"Aku ingin membantu Mama memasak. Bolehkah?" ujar Anya ramah. Meski gugup, gadis itu berusaha tidak memperlihatkannya.
Theresa membuang muka dan kembali melangkah. "Terserah!"
Anya tersenyum lalu mengikuti langkah Theresa.
...*...
Gadis itu takjub saat melihat Ibu mertuanya begitu cekatan dalam mengolah bahan-bahan makanan, Meski dibantu beberapa Koki profesional, tetapi sebagian besar masakan tetap Theresa yang pegang, terutama soal membumbui.
"Kau bisa memasak, kan?" tanya Theresa tiba-tiba, pada Anya yang tengah melamun karena fokus memerhatikannya.
"Ahh, sedikit, Ma." Jawab Anya.
"Bagus, dari pada hanya berdiam diri di sana lebih baik bantu aku memotong-motong daging ini," perintah Theresa yang langsung diterima Anya dengan senang hati.
Sembari memerhatikan Anya yang akan mulai memotong-motong daging, Theresa memberi tips bagaimana teknik memotong daging dengan benar, agar tidak alot dan cita rasanya keluar.
"Memotong daging harus dilihat dari seratnya. Jika serat daging yang kau temui memiliki bentuk vertikal, maka potong daging ke arah horizontal. Kau mengerti?" ujar Theresa.
Anya mengangguk paham. Gadis itu mulai memotong daging sesuai arahan Theresa.
Wanita itu mengangguk puas ketika melihat Anya bisa mengerjakan tugas yang ia berikan.
__ADS_1
"Tapi harus diingat, tidak semua daging harus selalu dipotong berlawanan dengan serat. Tergantung masakannya. Jika untuk rendang atau dendeng akan lebih baik memotongnya searah dengan serat." Jelas Theresa.
Anya lagi-lagi mengangguk. Gadis itu senang mendapat pelajaran tambahan perihal memasak dari Ibu mertuanya.
Theresa dan Anya keluar dari dapur setelah memastikan bahwa seluruh masakan telah dibumbui dengan baik. Sisanya mereka serahkan pada para Koki.
"Terima kasih ya, Ma," ujar Anya pada sang ibu ketika mereka berada di ambang pintu dapur.
"Terima kasih untuk apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Ibu mertuanya, gadis itu malah menggandeng lengan Theresa dan mengajaknya ke halaman belakang rumah untuk berbincang.
"Mama capek, ingin istirahat." Tolak Theresa.
"Hanya sepuluh menit, Ma. Anya janji,"
Theresa menghela napasnya. Malas berdebat, ia memilih menuruti kemauan gadis itu.
Mereka kini duduk di dalam sebuah pendopo kecil yang dibangun di halaman belakang rumah. Di hadapan mereka terhampar kolam ikan besar yang terisi ratusan ikan Koi.
Suara gemericik air benar-benar menenangkan hati Anya. Pantas saja memelihara ikan disebut sebagai salah satu metode menghilangkan stres.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Theresa ketus. Matanya menatap sinis Anya yang asyik memandangi kolam ikan.
"Sudah lama aku tidak menikmati waktu bersama Mama," kata Anya mengawali pembicaraan.
Gadis itu menghembuskan napasnya sekali. "Mama ingat? Dulu, Mama sering sekali memandikanku dan Callista ketika kami bertandang ke sini, atau kalian yang berkunjung ke rumah kami?" Anya menoleh, menatap lembut manik hitam Theresa.
"Mama lupa." Jawab Theresa tanpa pikir panjang.
Mendengar jawaban Theresa, Anya sontak tertawa kecil. "Benar juga, kejadian itu sudah lama sekali, jadi Mama pasti tidak akan mengingatnya."
Suasana hening seketika.
Theresa memandangi kolam ikan dengan tatapan tak terbaca.
Tentu saja wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya itu, masih mengingat jelas kejadian tersebut. Dia ingat bagaimana keluarga mereka memiliki hubungan yang begitu dekat satu sama lain.
Dia juga ingat bagaimana Ratna, Ibu kandung Anya, selalu menjadi teman curhat terbaiknya. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua atau bersama-sama saat menjaga anak-anak mereka.
Keluarga Handoko begitu baik pada keluarganya dalam hal apapun. Termasuk ketika Maxim ditipu oleh koleganya habis-habisan hingga seluruh aset terpaksa mereka jual untuk menutupi kerugian Perusahaan. Itu semua bahkan belum cukup mampu untuk membayar semua hutang-hutang Suaminya di Bank.
Disaat hidup mereka berada di jurang kehancuran, Sigit, Ayah Anya, dengan senang hati menanamkan modalnya pada Perusahaan sang Suami tanpa jaminan. Dia juga yang membantu melunasi hutang-hutang Maxim di Bank, bahkan sampai membayarkan biaya sekolah Axton dan Callista selama setahun penuh.
Sigit juga mempercayakan salah satu proyeknya pada Perusahaan Maxim tanpa takut akan gagal. Beruntung, berkat kegigihan Maxim dan dukungan dari sahabatnya, proyek itu berhasil dengan gemilang. Itulah batu loncatan yang membuat keluarga Caldwell kembali bangkit.
Oleh sebab itu, wajar rasanya saat Maxim mati-matian mencari Anya untuk membalas budi atas kebaikan hati sahabatnya.
Apa lagi Anya juga membantu mereka lima tahun yang lalu. Yang harganya mungkin jauh lebih besar dari pada apa yang Sigit lakukan dulu.
Tapi mengapa dia bisa begitu jahat pada Anya? Apa yang salah dari gadis itu?
__ADS_1
"–baik-baik saja?"
"–a,"
"Ma,"
Samar-samar, suara Anya membawanya kembali ke dunia nyata.
Tess!
Tanpa sadar Theresa meneteskan air matanya.
Anya terkejut, "Mama menangis?" tanyanya khawatir. "Ada yang salah dari kata-kata Anya?" lanjut gadis itu.
Theresa buru-buru menghapus air matanya dan berkata sinis, "Jangan sok tahu kamu! Mama hanya kelilipan."
Anya mengangguk paham. Gadis itu kembali menyodorkan sebuah benda ke hadapan Theresa. Theresa tidak sadar, bahwa sedari tadi Anya tengah menyodorkan sebuah benda yang ia ambil dari kantung bajunya.
"Mama pasti tidak ingat pernah memberikan ini padaku, kan?" tanya Anya.
"Dulu saat aku bersikeras melarang Mama yang akan tinggal sementara di Luar Negeri, Mama memberikanku ini agar bisa bermimpi dengan indah. Yang saking indahnya, bisa membuat aku melupakan Mama sejenak."
"Mama pasti juga tidak mengingat, jika pernah menyuruhku untuk menjaganya dengan baik, agar Mama bisa mengambilnya kembali ketika pulang ke tanah air. Namun ternyata, itu semua tidak terjadi lantaran insiden kecelakaan kedua orang tuaku, yang entah bagaimana membuat komunikasi kita terputus."
Anya merentangkan Dream Catcher, benda pemberian Theresa itu dan menatapnya lekat-lekat. "Aku masih menyimpannya hingga hari ini dan aku rasa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengembalikannya pada Mama." Anya menyerahkan benda yang sudah sedikit usang itu.
"Kau terlalu mendramatisir hidupmu. Benda itu tidaklah penting, jadi buang saja sana!" ucapan Theresa kali ini sedikit mengguncang hati Anya.
Anya mengambil tangan Theresa dan meletakan Dream Catcher berukuran kecil itu di tangannya.
"Aku hanya ingin menepati perkataan Mama. Sekarang benda ini telah kembali ke pemiliknya, jadi mau diapakan setelahnya, itu semua terserah Mama." Jawab Anya lembut.
Gadis itu kemudian memberikan ucapan perpisahan singkat pada Theresa yang akan pergi meninggalkan Indonesia tiga hari lagi. Ia mengingatkan Theresa untuk menjaga kesehatan dan memakan makanan yang bergizi serta rajin mengonsumsi multivitamin.
Setelah puas memberi beberapa wejangan, Anya kemudian mengajak Theresa untuk masuk ke dalam, sebab makan malam mungkin telah selesai dihidangkan.
"Duluan saja, Mama menyusul,"
Anya mengangguk lalu memeluk Theresa seraya berkata, "Maafkan aku, jika selama ini sikapku membuat Mama tidak nyaman. Aku mencintai Mama sejak dulu hingga kini, dan itu tidak akan pernah berubah."
Theresa bisa mendengar suara Anya yang terdengar parau.
Selesai mengatakan hal demikian, Anya bangkit dari sana dan pergi meninggalkan Theresa.
Tess!
Tess!
Lelehan air mata mulai berjatuhan selepas Anya meninggalkannya di sana. Wanita itu memeluk erat Dream Catcher yang diberikan Anya.
Sesungguhnya dia sendiri tidak habis pikir, mengapa dirinya dbisa begitu jahat pada Anya hanya karena hidup Anya jauh di bawah mereka saat ini? Jika bukan karena keluarganya dulu, mungkin kehidupan mereka akan lebih menyedihkan dari pada gadis itu.
__ADS_1
Dan yang membuatnya menyesal sampai hari ini adalah ia lah penyebab kematian Ibu angkat Anya, Rastini.