Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
"Ibuku bukan pelakunya!" (2)


__ADS_3

Wajahnya syok dan panik. Air mata pun segera menggenang di pelupuk mata wanita paruh baya itu.


Sebuah cincin berlian mewah jelas-jelas jatuh dari saku jaketnya dan menggelinding ke arah kaki Theresa.


"Cincinku!" pekik Theresa seraya mengambil cincin itu dari lantai.


Bu Rastini yakin sekali saku jaketnya kosong sedari awal ia memakainya. Tak ada apapun di sana, walau hanya selembar kertaspun. Selama ini dia memang memiliki kebiasaan membawa tas kecil ke mana-mana, sebab ia tak terbiasa mengantungi sesuatu di saku jaketnya. Namu , mengapa tiba-tiba benda tersebut berada di sana?


"Bu–" Kinanti menutup mulutnya. Tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Raut keterkejutan juga terpancar di wajah Anya dan Axton.


"Sa-saya tidak melakukannya. I–ini pasti kesalahpahaman!" Bu Rastini jatuh terduduk sembari menangkupkan kedua tangannya di dada. Anya segera memeluk ibunya erat. Gadis itu berusaha menenangkan Bu Rastini yang sudah tampak gemetar ketakutan.


"Tapi jelas-jelas cincin ini jatuh dari baju Mbak," Theresa malah memperjelas situasinya, matanya memicing menatap Bu Rastini, seolah sedang memojokan besannya tersebut.


"Ma," Maxim menegur istrinya. Pria itu mencoba mendinginkan suasana, "Saya yakin Bu Rastini tidak akan melakukan hal demikian."


"Saya memang tidak melakukannya, Pak!" pekik Bu Rastini frustasi. Ia bukan seorang pencuri!


"Lebih baik mengaku saja Mbak, biar bagaimanapun kita sekarang adalah keluarga, tak pantas rasanya saya membawa ini ke jalur hukum. Saya akan memaafkan Mbak, jika Mbak mau mengaku," mendengar perkataan Theresa, Bu Rastini menangis sejadi-jadinya. Rasa malu bergulung-gulung menyelimuti dirinya.


Batinnya meraung, bukan hanya karena mendengar kata-kata Theresa, melainkan karena dia telah membuat malu Anya di hadapan keluarga suaminya.


"Aku, a–ku tidak melakukannya," Mata tua itu menoleh pada anak-anak dan menantunya. "Ibu tidak melakukannya. Kalian percaya 'kan pada Ibu?" tanya wanita itu disela-sela isak tangisnya.


"Iya, Bu." Anya menjawab pertanyaan Bu Rastini dengan tegas, diikuti Kinanti. Smentara Axton enggan membuka suaranya sama sekali.


"Pasti ada kesalahpahaman di sini, Ma," Anya mencoba membela sang ibu.


"Kesalahpahaman apa Anya? Jelas-jelas cincin ini jatuh dari saku jakey Ibumu. Kau ingat, satu-satunya orang yang masuk ke dalam kamar Mama itu, ya cuma Ibumu." Jawaban Theresa semakin menyudutkan Bu Rastini. Anya bisa merasakan tatapan-tatapan hina dari para maid dan beberapa security yang ditujukan pada sang ibu.


"Saya memang miskin, tetapi saya masih memiliki harga diri!" wanita itu menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. "Saya tidak akan melakukan hal hina seperti itu, apa lagi sampai mempermalukan anak saya di depan keluarga suaminya."


Tak tega melihat keadaan besan dan menantunya, Maxim segera memerintahkan salah satu security untuk memeriksa CCTV di lorong lantai dua menuju kamarnya.


"Maaf, Tuan, CCTV di sana sudah sejak tadi pagi rusak dan baru saja berfungsi setengah jam yang lalu." Jawab salah seorang security bertubuh tinggi tegap.


Theresa mendecih. "Papa ini bagaimana, jikapun CCTV berfungsi, pasti tidak akan bisa menangkap gambarnya. Setiap kamar dan toilet 'kan tidak terpasang CCTV, Pa."


Bu Rastini semakin terisak di pelukan Anya.


"Ma, Pa, aku mengenal Ibuku dengan baik, dan aku sangat yakin Ibuku bukan pelakunya," ujar Anya dengan raut wajah penuh keyakinan. Matanya kemudian beralih menatap Axton yang langsung membuang muka,


"Ka,"


Axton tak menggubris panggilan Anya. Dia sebenarnya juga tengah bingung akan kejadian ini. Di satu sisi dia percaya Bu Rastini bukanlah orang seperti itu, tetapi di sisi lain dia tak dapat membantah, sebab dengan mata kepalanya sendir, benda milik ibunya itu terjatuh dari saku jaket Bu Rastini.


Kinanti ikut bersimpuh bersama Anya dan Bu Rastin. Matanya menatap sungguh-sungguh keluarga Axton satu persatu. "Jika kalian tidak percaya dan ingin menghukum, tolong hukum saja aku, jangan Ibuku."


"Nan," lirih Bu Rastini, "jangan ikut campur."


Kinanti tak memperdulikan larangan ibunya. Gadis itu tetap duduk bersimpuh menghadap mereka. Biarlah harga dirinya jatuh, asal ibunya bisa terbebas dari masalah ini.


Theresa berjongkok di hadapan Bu Rastini dan menggenggam tangannya. "Sudahlah, yang penting cincin ini telah kembali padaku."

__ADS_1


"Meskipun Mbak tidak mau mengaku, tetapi aku sudah memaafkan Mbak. Aku akan melupakan kejadian ini. Sekarang, ayo bangun," Theresa menuntun Bu Rastini untuk bangkit dari lantai, juga menyuruh Anya dan Kinanti turut serta.


Bu Rastini tak bisa berkata-kata lagi. Dia merasa percuma membantah, sebab ada banyak puluhan pasang mata yang melihat dengan jelas dari mana datangnya cincin itu.


Mereka diijinkan pulang beberapa saat kemudian.


Selama berada di dalam mobil, Bu Rastini tidak henti-hentinya meminta maaf pada Anya karena telah mempermalukannya di hadapan keluarga Axton.


"Ibu tidak salah, Bu. Ibu bukan pelakunya,"


"Maafkan Ibu, Nak," lagi-lagi, hanya kata-kata itu yang terlintas dari bibir Bu Rastini.


Anya menatap Axton yang tengah fokus menyetir. Dadanya sedikit berdenyut nyeri, mengingat tak ada satupun kata yang keluar dari pria itu sejak kembali ke rumah orang tuanya. Axton tidak membela mereka.


Anya merasa bodoh. Mana mungkin Axton mau membela mereka? Apa yang bisa dia harapkan dari pria kejam itu?


...***...


"Ma, haruskah sampai berkata, bahwa kau akan membawa hal sepele ini ke jalur hukum?" tanya Maxim pada Theresa yang sedang duduk di meja rias kamar mereka. "Lagi pula, Papa yakin Bu Rastini tidak akan melakukan hal tersebut. Kau tahu bukan, dia adalah orang kepercayaan Sigit dan Kepala Pelayan di rumah mereka dulu."


Theresa menatap Maxim dengan raut wajah kesal. Bisa-bisanya sang suami malah membela besannya itu.


"Itu kan dulu, Pa, dulu! Sekarang dia kembali hidup susah, apa lagi dia juga harus mengurus anak majikannya yang tidak membawa harta sepeserpun. Pantaslah jika jiwanya seketika tergugah, mengingat dia sekarang menjadi besan seorang konglomerat!" ucapnya ketus.


Maxim yang mendengar kalimat hinaan dari mulut sang istri tanpa pikir panjang langsung membentaknya.


"Papa kenapa marah, sih? Kok jadi Mama yang bersalah di sini!" tanya Theresa dengan nada suara ditinggikan.


Sepeninggal istrinya, Maxim hanya bisa menghela napas. Besok dia akan pergi menemui Anya dan Ibunya untuk meminta maaf atas sikap sang istri.


***


Sepanjang malam Anya dan Kinanti terjaga, sebab beberapa kali ibu mereka mengigaukan kata-kata maaf. Kejadian ini benar-benar mengguncang jiwa Beliau. Sang ibu bahkan menolak untuk tidur di kamar besar Axton dan lebih memilih tidur di karpet ruang tv. Wanita itu merasa dirinya tak pantas berada di sana.


Melihat kondisi Ibunya yang demikian menyedihkan, membuat Kinanti memutuskan untuk pulang ke rumah mereka di kampung keesokan harinya. Mereka bukan ingin melarikan diri, Kinanti hanya merasa pulang ke rumah adalah pilihan yang tepat.


"Mbak sudah pesankan tiket pesawat. Beberapa hari lagi Mbak susul, ya?"


Meski Axton tak pernah menganggapnya ada, tetapi ia rutin mengirim uang untuk Anya melalui Delia. Hal itu dilakukan Axton bukan tanpa alasan. Sang Ayah lah yang menjadi faktor utama mengapa, dia berbuat hal demikian.


"Iya, Mbak." Jawab Kinanti.


Anya, Kinanti dan Bu Rastini berangkat ke Bandara bersama Joseph, supir pribadi Axton. Sementara Axton tidak bisa meninggalkan syutingnya.


Anya mengelus lengan Bu Rastini yang kini sudah terlihat lebih tenang. Hatinya teriris melihat mata tua itu bengkak akibat terlalu banyak menangis.


"Sehat-sehat di sana ya, Bu," ujar Anya seraya memeluk erat sang ibu.


"Maafkan Ibu ya, Nak? Sampaikan maaf Ibu juga pada Nak Axton," ucap Bu Rastini dengan suara parau.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Sudah kubilang, semua ini hanyalah kesalahpahaman. Aku akan segera menemui Papa dan Mama sepulang dari sini."


Bu Rastini menoleh ke arah jendela mobil. Anya mengerti Ibunya tak ingin mendengar kata-kata penghibur darinya.

__ADS_1


"Nak," panggil Bu Rastini.


"Iya, Bu."


Tangan wanita itu menggenggam lembut tangan Anya dan menepuk-nepuknya beberapa kali. "Jadilah istri yang baik dan penurut, ya? Jangan sia-siakan kasih sayang yang diberikan suami dan keluarga suamimu." Nasihat Bu Rastini tiba-tiba.


"Iya, Bu." Jawab Anya. Meski keheranan dengan perkataan ibunya yang tiba-tiba, Anya memilih tak bertanya.


"Kau masih memiliki perasaan yang sama kan padanya?"


Ditanya hal seperti itu, membuat dada Anya berdegup kencang. Dia tak menyangka ibunya akan menyanyakan hal sensitif tersebut.


"Memang kenapa, Bu?" tanya Anya balik. "Perasaan dulu dan sekarang tentu berbeda, Bu. Dulu hanya cinta-cintaan anak kecil saja." Sanggahnya


Bu Rastini kembali tersenyum kecil. "Jika memang begitu, kamu pasti sudah menolak lamaran keluarganya, Nduk. Terlebih kamu tidak akan membuat keputusan sebesar itu lima tahun yang lalu. Jadi Ibu sangat yakin perasaanmu sejak dulu, kemarin, hari ini bahkan untuk waktu yang akan datang akan tetap sama."


Anya menelan ludahnya, ia tak sanggup berkata-kata.


"Benarkan kata Ibu?" tanya Bu Rastini meyakinkan.


"Ibu kenapa tiba-tiba membahas ini?" tanya Anya tanpa berniat menjawab pertanyaan sang ibu.


"Ibu hanya ingin melihatmu bahagia. Menikah tanpa ada embel-embel balas budi. Ibu harus mendengarnya dari mulutmu sendiri, agar hati Ibu tenang."


Anya menggigit bibirnya. Dadanya bergemuruh hanya dengan membahas Axton.


Selama ini mungkin ia merasa, usahanya melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri hanya karena nasihat dari sang ibu. Namun tak bisa dipungkiri, semakin hari hatinya semakin terpaut pada Axton. Anya sadar, semakin banyak Axton menyakitinya, sebanyak itu pula rasa cintanya pada pria itu. Entah bagaimana itu bisa terjadi, yang pasti dia sadar akan kebodohannya.


"Iya, Bu, aku sangat mencintainya,"


Mendengar jawaban Anya membuat Bu Rastini menatap lega gadis itu.


"Suamimu pasti memiliki rasa yang sama besarnya denganmu, Nduk," ujar Bu Rastini yakin. Dia berharap keberkahan datang menghampiri rumah tangga mereka.


Anya hanya bisa membalas perkataan sang ibu dengan pelukan.


"Maaf jika rumah tanggaku tak sesuai seperti harapanmu Bu." batinnya pilu.


...***...


"Ingat kondisimu, kau tidak boleh terlalu lelah, ya?" Bu Rastini melepas pelukannya pada Anya.


"Ibu juga jangan sampai sakit. Jangan memikirkan apapun, ya Bu?" Bu Rastini mengangguk sembari tersenyum. Anya menoleh pada Kinanti. "Mbak titip Ibu ya, Nan? Salam untuk Jagat juga,"


"Iya, Mbak." Kinanti mencium tangan dan memeluk Anya.


"Your attention please, passengers of G***** Indonesia on flight number GA308 to S******* please boarding from door A13, Thank you."


"Kami pergi dulu, Mbak,"


"Hati-hati," Kinanti mengangguk dan segera menggandeng sang ibu pergi. Anya memperhatikan keduanya sampai menghilang dari pandangannya. Entah mengapa perasaannya benar-benar tidak enak kali ini. Ada perasaan takut menggelayut di hati Anya.


"Tidak akan ada apa-apa, Ibu pasti baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2