Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Piknik (1)


__ADS_3

Anya bergeming, tubuhnya seolah kaku tak dapat bergerak. Jangankan menghindar, menjentikan ujung jarinya pun ia tak mampu.


Callista, Ian, dan beberapa orang di sana hanya bisa saling bertatapan.


'Ada apa?' seolah mengerti apa maksud tatapan Callista, Ian hanya bisa mengangkat bahunya.


Meski ada sejuta pertanyaan, Callista memilih membiarkan keduanya. Gadis itu juga memberi isyarat pada semua yang ada di sana untuk masuk ke dalam dan tidak menganggu mereka.


"Jangan datang padanya," Axton bersuara. Lirih ... rapuh. Seakan dirinya takut akan sesuatu.


"Hm?" hanya gumaman yang keluar dari mulut Anya sebagai respon atas perkataan Axton.


"Kau masih istriku." Kali ini suara Axton mendekati seperti biasanya. Anya dapat mendengar penekanan di setiap kata yang Axton lontarkan.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Anya bertanya dengan suara pelan.


Alih-alih menjawab, Axton malah makin mengeratkan pelukannya pada Anya dan berkata, "jangan tanyakan apapun."


Mendengar itu, Anya akhirnya memilih diam. Ia tak tahu apa yang telah terjadi pada Axton hingga membuat pria itu terlihat demikian menyedihkan.


Selama beberapa menit, Axton masih setia memeluk Anya, tidak berniat sedikitpun melepaskan atau mengendurkan pelukannya.


Anya memejamkan matanya. Tak dapat ia pungkiri, ia masih merasakan debaran itu. Debaran yang sama, yang selalu hadir kala Axton memperlukannya manis seperti saat ini.


Ia tahu, ia mungkin adalah manusia terbodoh yang pernah ada. Karena sebenarnya, rasa sakit yang Axton berikan selama ini, tak bisa sedikitpun mengurangi perasaan yang ia miliki untuk pria itu.


Anya mencintai Axton. Sebanyak apapun Axton menyakitinya, sebanyak itu pula Anya mencintainya.


***


"Apa yang terjadi pada Kak X, Mas? tanya Callista ketiga kalinya. Gadis itu sangat penasaran.


Ian berpikir sejenak. Apa ia harus memberitahu Callista atau membiarkan gadis itu merecokinya tanpa henti?


Melihat keraguan Ian, Callista kembali mendesak Ian. Ian mengalah. Pria itu akhirnya membuka suara.


Callista hanya bisa menganga setelah mendengar seluruh cerita Ian. Ian hanya menceritakan poin yang dianggapnya aman saja. ia tak ingin Callista kembali mengamuk membela Anya seperti waktu itu.


"Kakak memang pantas mendapatkannya!" seru Callista berapi-api. Jujur saja, sisi hatinya merasa senang mendengar cerita Ian.


Melihat bagaimana Axton bereaksi pada Anya barusan, membuktikan bahwa Axton juga merasakan hal yang sama pada Anya. Pria itu hanya tak mau mengakuinya.


Hanya tinggal menunggu waktu. Dan dia harap, waktu itu akan segera tiba. Sebab, jika terlambat sedikit saja, Axton pasti akan menyesalinya seumur hidup.


***


Selesai makan malam, Anya dan Axton beristirahat di kamar. Axton memilih tidur di sofa kamarnya, sementara Anya di ranjang.


Pria itu berbaring miring menghadap Anya yang tidur memunggunginya.


Jujur, ia masih merasa malu kala mengingat tingkahnya tadi pada Anya.

__ADS_1


Kata-kata ancaman Daffa benar-benar mengusik batinnya di sepanjang perjalanan pulang. Batinnya semakin terguncang tatkala melihat Anya menyambut kepulangannya dengan senyuman manis seperti yang biasa ia lakukan.


Dan Axton tak akan membagi senyuman wanita itu dengan pria lain.


Anya sendiri juga belum bisa memejamkan matanya. Padahal ia pikir, menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala dapat membantu wanita itu tertidur. Namun nyatanya, gelap yang menerpa malah membuat pikirannya melayang kemana-mana.


Rasa hangat pelukan Axton, hembusan napas pria itu di tengkuk lehernya masih sangat jelas ia rasakan.


"Issh!" Anya membuka kasar selimut yang menutupi kepalanya. Gadis itu membalikan tubuhnya, berharap, berganti posisi dapat membantunya tidur lebih cepat.


Namun, alih-alih tidur nyenyak, gadis itu malah bertemu pandang dengan mata biru pria yang ada dalam pikirannya saat ini.


Axton ternyata juga tengah memerhatikannya dari sofa.


Pria itu sebenarnya sama terkejutnya dengan Anya, tetapi berusaha terlihat biasa-biasa saja. "Tidurlah," ucap Axton sembari memejamkan matanya duluan.


Anya menganggukan kepalanya dengan kikuk.


"Iiiissh!" serunya seraya membenamkan kembali kepalanya ke dalam selimut.


***


Callista tampak sibuk memperhatikan barang-barang yang dimasukan para maid ke dalam mobil. Gadis itu tak ingin segala sesuatu yang susah payah ia persiapkan tertinggal di rumah, terutama bekal makanan mereka.


Selain bermain di taman rekreasi, mereka juga akan berpiknik.


"Sudah semua?" tanya Ian yang muncul tiba-tiba di samping Callista.


"Ayo," Axton bersandar di pintu mobil seraya melipat kedua tangannya. Tampang pria itu kusut sekali.


Ia sedang dapat membayangkan bagaimana merepotkannya kedua gadis itu nanti. Maka dari itu, ia mengajak Ian ikut serta bersama mereka.


"Tunggu Mbak Anya." Jawab Callista cuek.


Bosan menunggu, Axton memilih masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan. Pria itu membuka kaca mobilnya lebar-lebar dan menyuruh Callista juga Ian untuk ikut menunggu di dalam.


Sedetik kemudian, Anya melangkah canggung menghampiri mereka.


Callista memekik kegirangan. Kakak Iparnya itu terlihat sangat cantik hari ini dengan balutan gaun berwarna orange lembut. Sebuah belt berbahan kulit asli melingkari pinggang ramping wanita itu, tak lupa, ia juga memakai sepatu slip on dengan warna senada. Callista memang sengaja tidak memberikan Kakaknya itu sepatu ber-hak guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Callista menatap puas hasil karyanya. Anya memang terlihat pantas memakai apapun. Lain kali, ia akan mengajak Anya langsung ke pusat perbelanjaan.


Ian yang berdiri di luar pintu mobil, sebelah Axton, memuji kecantikan istri sahabatnya itu.


"Terima kasih," ucap Anya malu-malu seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


Ian melirik Axton yang tengah memandangi Anya tanpa berkedip. Dengan seringai jahil, pria itu mendekatkan wajahnya pada Axton lalu berbisik, "Istrimu sangat cantik, bukan?"


"Hmm." Tanpa sadar Axton menganggukan kepalanya, membuat Ian kontan tertawa kecil.


Suara tawanya bahkan semakin keras ketika Axton menghardiknya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu!" desis Axton penuh emosi.


Mendengar Ian dan Axton tampak membicarakan sesuatu, membuat Anya dan Callista mendekati mereka. "Ada apa?" tanya Callista sambil mengangkat alisnya.


Bukannya menjawab, Axton malah menutup kaca mobil sambil berkata; "Cepat! Kita sudah kesiangan."


"Cih! Emosian, seperti ABG saja." Cemooh Callista. Kedua gadis itu lalu masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Ian yang sukarela menjadi supir mereka.


***


Mereka sampai di taman rekreasi satu jam kemudian.


Sebelum turun dari mobil, Axton memakai topi dan masker hitamnya terlebih dahulu. Pria itu juga menyembunyikan warna matanya dengan lensa kontak berwarna hitam.


"Mbak Anya begitu cerah, beda sekali dengan Kakak yang terlihat sangat mendung. Jangan sampai cuaca ikut berubah karena pakaianmu, Kak," cemooh Callista, yang sedikit kesal akan pakaian yang Axton kenakan. Ia paham sang Kakak harus menyamarkan diri, tapi bukan berarti harus memakai serba hitam seperti itu.


Tak ingin berdebat dengan sang adik, Axton hanya menjawab cemoohan gadis itu dengan gumaman malas.


Setelah memastikan wajahnya tidak dikenali, ia turun dari mobil, disusul Callista, Anya dan Ian.


"Aaahh, sudah berapa lama kita tidak berlibur seperti ini, ya?" Callista mengoceh sendiri.


Hatinya mendadak melankolis. Setelah ia dan Kakaknya dewasa, mereka memang tidak lagi memiliki waktu untuk berlibur bersama. Sekedar tidur nyenyak di rumah saja susah. Terlebih, semenjak Axton semakin sibuk dengan dunianya, jarak di antara mereka terasa jauh.


Ia jadi rindu berkumpul dengan kedua orangtuanya.


Callista berlari kecil menuju Axton dan Ian yang berjalan di depan mereka. Tanpa aba-aba, gadis itu melompat ke punggung Axton. Beruntung, Axton reflek menahan tubuh kecil adiknya tersebut.


"Mbak, aku pinjam suamimu sebentar, ya?" seru Callista sembari menoleh ke belakang.


Anya tertawa sambil mengangguk. Hatinya menghangat melihat kedekatan kakak beradik itu. Andai saja ia bisa sedekat itu dengan Elang.


Anya kontan menggelengkan kepalanya. Hari ini tidak boleh ada yang merusak moodnya.


"Kenapa Anya?" tanya Ian, yang ternyata sudah berada di sebelahnya kini.


"Ahh, tidak. Tidak ada apa-apa." Jawab Anya salah tingkah.


Ian mengalihkan pandangannya ke depan, menatap Axton yang sedang mengobrol dengan Callista di punggungnya. Gadis itu sesekali tertawa menanggapi celotehan judes Axton.


"Axton sangat menyayangi Callista," ucap Ian.


Anya ikut memandangi keduanya, "Ya."


"Begitu juga denganmu."


"Ha?" Anya melongo. Kata-kata Ian terdengar kurang jelas.


Ian tersenyum penuh arti.


"Mbak, Mas, ayo cepat!" teriakan Callista kontan menginterupsi keduanya.

__ADS_1


"Ayo," ajak Ian, tanpa memerdulikan raut wajah Anya. Pria itu memilih berjalan dua langkah di depannya.


__ADS_2