
Jim, salah satu penjaga Hana lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Setelah Ninda dan seluruh orang terdekatnya gagal membujuk Hana untuk keluar dari kamar, mereka meminta bantuan Jim, salah seorang penjaga yang dikenal dekat dengan wanita itu.
Namun, hasilnya sama saja, Jim juga gagal membujuk Hana untuk keluar. Bahkan Silvana, sang Ibu, tak mampu membuat anak semata wayangnya tersebut hanya untuk sekedar membuka pintu kamarnya.
Sejak kandasnya hubungan Hana dan Axton, wanita itu memilih mengurung diri di kamar. Dan ini sudah berlangsung selama berminggu-minggu. Hana tidak akan mau keluar dari kamar kecuali saat makan. Itupun hanya bisa dihitung dengan jari. Oleh sebab itu, Hana kehilangan bobot tubuhnya hingga belasan kilogram.
Mereka tidak pernah bisa mengetahui kondisi Hana di dalam sana, selain dari suara tangisannya, beserta barang-barang yang ia lempar secara membabi buta.
Hana tak lagi seperti Hana yang mereka kenal.
Ninda sadar, Hana memang telah melakukan kesalahan fatal. Tapi tetap saja, ia tidak tega melihat wanita itu harus mengalami hal sedemikian rupa.
Ninda bahkan sangat yakin, wanita itu sekarang telah menyesali perbuatannya, terlebih, dia juga telah memutuskan hubungan dengan kekasih lamanya sebelum Axton.
Sekali lagi Jim menempelkan telinganya di daun pintu kamar Hana. Suara Hana yang terisak-isak masih memenuhi gendang telinga pria itu, meski kini terdengar samar-samar.
Kening Jim berkerut. Suara tangisan Hana kian lama, kian melemah.
"Nona Hana," panggil Jim seraya mengetuk pintu.
Hening. Tidak ada sahutan, apa lagi suara gaduh yang biasanya mereka dengar.
"Nona," Jim kembali memanggil Hana. Kali ini ia mengetuk pintunya lebih keras. Jim menajamkan pendengarannya. Samar-samar, ia dapat menangkap suara hembusan napas yang terdengar berat dari dalam kamar Hana. Nampaknya, ada yang tak beres dengan Bosnya itu.
Mata Jim menatap Ninda tajam, meminta persetujuan gadis itu untuk mengambil keputusan.
Ninda mengangguk, raut wajahnya penuh kekhawatiran, sementara airmata sudah terlihat menggenang di pelupuk matanya.
Jim mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang. Pria bertubuh tinggi besar itu dengan sekuat tenaga berlari dan mendobrak pintu kamar Hana.
Pintu terbuka setelah percobaan ketiga.
Ninda memekik histeris, tatkala mendapati Hana tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar dengan darah menyembur dari pergelangan tangan kirinya. Dengan sigap, Jim segera membopong wanita itu dan membawanya ke Rumah Sakit.
***
37 panggilan tak terjawab tertera di ponsel milik Axton. Pria itu baru saja dapat beristirahat setelah melewati sesi pemotretan yang cukup panjang.
Keningnya berkerut ketika melihat nama seseorang yang tidak ia inginkan, terpampang di layar ponselnya.
Ninda, salah satu asisten pribadi Hana.
__ADS_1
Drrt.. Drrt..
Ponselnya kembali bergetar. Untuk kesekian kalinya Ninda kembali menelepon.
Axton menimbang-nimbang, perlukah ia mengangkat telepon gadis itu? atau mengabaikannya saja sampai Ninda menyerah sendiri?
Pria itu akhirnya memilih mengangkat telepon Ninda.
"Kak X?" suara Ninda langsung menyerbu indera pendengaran Axton.
"Hmm,"
"Syukurlah, akhirnya diangkat." Ninda berkata penuh kelegaan.
"Aku sibuk, lain kali saja kita bic–"
"Kak Hana, masuk Rumah Sakit!" Ninda memotong ucapan Axton. "Semenjak berita tentang kalian berdua muncul, Kak Hana menjauhkan diri dari dunia luar. Ia membatalkan semua kontrak kerja sama. Yang ia lakukan selama ini hanya menangis dan menangis di dalam kamar apartemennya. Kami sudah berusaha membujuk Kak Hana agar kembali beraktifitas seperti biasa, tetapi ia menolak." Lanjut gadis itu panjang lebar.
"Dan semalam, Kak Hana mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya sendiri." Ninda mulai terisak.
Axton memang sudah mendengar kabar perihal hilangnya Hana tiba-tiba dari dunia hiburan. Agensi Hana mengumumkan, bahwa wanita itu sedang beristirahat sejenak demi memulihkan kondisinya yang sempat drop dan akan kembali lagi nanti.
Hampir empat tahun ia mengenal Hana. Tak pernah sedikitpun terlintas dibenaknya, jika Hana dapat melakukan hal yang berbahaya seperti itu. Hana adalah wanita yang tidak akan pernah berani mengambil resiko.
Axton terdiam cukup lama.
"Kak, please ...,"
"Dia punya kekasih, kenapa harus menghubungiku?" ujar Axton dingin.
"Sebelum mengurung diri, Kak Hana meminta pria itu datang ke apartemen. Ia ingin putus dengan pria itu secara baik-baik. Tetapi pria itu tidak terima, dia menghajar Kak Hana habis-habisan. Kini pria tersebut sedang dalam pengejaran Polisi." Jawaban Ninda membuat Axton terperanjat. Tanpa sadar tangannya terkepal.
***
Axton membuka pintu ruangan Hana. Semua orang yang berada di dalam sana begitu terkejut kala melihat kedatangan pria itu.
Begitu Axton melangkahkan kakinya ke dalam, seorang wanita cantik yang hampir berusia setengah abad, buru-buru menghampiri dan memeluk erat dirinya.
"Terima kasih, sayang, kau sudah bersedia menemui Hana," ucap wanita itu sambil menangis tersedu-sedu.
Axton dengan ragu membalas pelukan wanita itu. "Maaf, Mom," ujarnya.
__ADS_1
Mendengar kata maaf keluar dari mulut Axton, Silvana semakin mengeraskan tangisannya. "Ini salah anak Mommy. Mommy minta maaf atas nama Hana, ya Nak,"
Wanita itu melepas pelukannya dan memegang kedua pipi Axton. "Kau sudah mau datang melihat Hana saja, Mommy sudah sangat bahagia," ucapnya.
Axton menatap ke arah Hana yang tampaknya sedang tertidur.
"Mommy akan tinggalkan kalian berdua." Silvana segera memberi isyarat pada yang lain untuk ikut keluar ruangan bersamanya.
Setelah mereka semua pergi, Axton berjalan mendekati ranjang Hana lalu duduk di sebelahnya.
Pria itu memerhatikan kondisi tubuh Hana, terutama sekeliling pergelangan tangan kirinya yang kini diperban. Gadis itu kehilangan banyak berat badan. Lingkaran matanya juga menghitam. Mungkin itu yang menyebabkan wajah Hana tak lagi secerah dulu.
Hana membuka matanya perlahan.
Axton berdiri dari tempat duduknya. "Tidurlah," ujar pria itu seraya menaikan posisi selimut Hana.
"Kak," ucap Hana dengan suara nyaris tak terdengar.
"Jangan bicara." Axton kembali duduk. Tangan kanan Hana bergerak, mencoba menyentuh pria itu.
Mengetahui maksud Hana, Axton segera mengambil tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. Dia memang masih merasa sakit hati, kala mengingat semua kebohongan yang Hana lakukan padanya. Namun melihat kondisinya kini sangat mengenaskan, mustahil ia tidak merasa sedih.
Hana tetaplah wanita yang pernah mengisi hatinya.
"M–maafkan aku," ucap Hana terbata.
"Aku tak ingin mendengar apapun lagi." Jawaban dingin Axton sontak membuat Hana meneteskan airmata.
"Aku bersalah padamu,"
"Sudah semestinya." Suara Axton yang kelewat dingin, sangat bertolak belakang dengan sikapnya. Pria itu menghapus airmata yang jatuh membasahi pipi Hana dengan gerakan selembut mungkin.
Suasana hening setelahnya. Axton tetap berada di sana selama setengah jam sampai Hana kembali tertidur.
Setelah Hana tertidur, pria itu bangun dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi.
Grep!
Tanpa disangka, Hana yang sedari tadi menggenggam tangan Axton, reflek menahan tangan pria tersebut.
"Temani aku, Kak," pinta Hana. Matanya menyiratkan keputus asaan. Tangannya berusaha menggenggam tangan Axton lebih kuat, agar pria itu tidak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Axton menghembuskan napasnya.
Kendati ia telah kembali duduk, tapi entah mengapa, sebagian dari hatinya menolak berada di tempat ini lebih lama.