
"Mbak sebaiknya ke dokter, takutnya ada apa-apa," saran Callista dari balik telepon.
Anya bergeming. Sudah beberapa hari ini dia memang merasa ada yang salah pada tubuhnya. Dia gampang sekali kelelahan, padahal jika diingat-ingat, semua nampak baik-baik saja selama ini, tak ada keluhan berarti. Dia bisa beraktifitas normal seperti orang-orang kebanyakan.
Memang, sejak menikah, Anya tak memerhatikan betul asupan yang ia makan. Dia juga tak lagi rutin memeriksakan diri ke dokter. Dia pikir, kondisinya yang sudah pulih membuat dia tak lagi harus datang ke Rumah Sakit.
Maka dari itu, ia menelepon Callista dan meminta saran dari adik iparnya tersebut. Wanita itu sengaja menghubungi Callista, alih-alih kedua adiknya yang tinggal jauh di Luar Kota. Ia tidak mau membuat mereka khawatir.
"Iya, sore ini Mbak akan memeriksakan diri ke dokter. Ingat, jangan katakan apapun pada Kakakmu, ya?"
"Siap. Mau aku antar, Mbak?" Callista menawarkan diri. "Aku akan pulang Kantor pukul 5."
"Terlalu sore. Tidak apa, biar Mbak sendiri saja." tolak Anya halus.
"Baiklah, hati-hati ya, Mbak? Jangan lupa kabari aku,"
Setelah selesai menelepon, Anya segera melakukan pendaftaran online di salah satu Rumah Sakit yang jauh dari Apartemennya. Anya tak ingin ada seseorang yang ia kenal memergoki dirinya di sana nanti.
***
"Semuanya baik, Bu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Anya bernapas lega.
"Sebenarnya, kelelahan tidak selalu berkaitan dengan ini. Pemilik ginjal tunggal pada umumnya bisa tetap hidup normal dan aktif, asalkan tetap menjaga gaya hidup sehat dengan makan makanan bergizi, serta rajin berolahraga dan rutin kontrol ke dokter." Terang dokter Sandra, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultasi Ginjal dan Hipertensi.
"Saya juga sudah membaca rekam medis dari Rumah Sakit sebelumnya. Semua hasilnya baik. Setelah operasi pun, Ibu rutin kontrol dan rajin meminum obat selama satu tahun setelah operasi," lanjut sang dokter.
"Hanya saja, tekanan darah Ibu kini berada diambang batas normal, 130/100 mmHg. Ini memang salah satu resiko yang dihadapi pendonor ginjal. Saya akan resepkan obat untuk menurunkan tekanan darah Ibu. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Jaga kadar lemak dan gula dalam darah, rajin memonitor tekanan darah, hindari merokok, jaga makanan dan minuman yang hendak di konsumsi serta menghindari konsumsi obat-obatan anti rasa sakit secara sembarangan, ya Bu?" Anya mengangguk patuh. Wanita itu mendengarkan dengan seksama apa yang dokter Sandra katakan.
"Dan jangan menunda-nunda datang, jika nanti mendapat keluhan lagi,"
"Baik, dok." Jawab Anya. Wanita itu menyimpan baik-baik semua perkataan sang dokter dalam memori.
Baru saja Anya akan pamit keluar, ketika salah seorang perawat masuk ke dalam ruangan sembari membawa secarik kertas laporan, "dok, ini hasil tes urin Bu Anya,"
Dokter Sandra membaca laporan tersebut, lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hasil tes urin Ibu sudah keluar. Semua normal, tak ada masalah dengan kadar Keton dan Glukosa Bu Anya, tapi hasil tes menunjukan HCG positif. Mungkin inilah penyebab utama mengapa Ibu gampang kelelahan,"
Anya mengerutkan keningnya. "Artinya apa, dok?"
"Ibu sedang hamil."
Anya mematung mendengar jawaban dokter Sandra. Tubuhnya mendadak dingin. Darah seolah tersedot keluar dari tubuhnya.
"Bu,"
"A–a, iya." Anya tergagap.
__ADS_1
"Selamat ya, Bu, tetapi Ibu harus berhati-hati. Seorang wanita yang hanya memiliki ginjal tunggal lebih beresiko mengalami Preeklamsia ketika hamil. Maka dari itu, sekali lagi saya ingatkan Ibu untuk rutin memonitor tekanan darah di rumah."
Dokter Sandra mengalihkan pandangannya pada komputer sejenak, sebelum meminta kembali secarik resep yang sebelumnya ia berikan kepada Perawat. "Saya akan mengganti resep obat Hipertensi Ibu. Saya juga sudah membuatkan janji dengan dokter SpOG," ujar dokter Sandra.
Anya kembali mengangguk. "Kalau begitu saya permisi, dok," ia berdiri dari tempat duduk dan menjabat tangan sang dokter, sebelum kemudian keluar dari ruangan bersama salah seorang perawat yang mendampingi dokter Sandra.
"Ibu bisa langsung datang ke bagian Obgyn dengan dokter Fransiska, ada di lantai dua, lalu untuk menebus obat, di bagian Farmasi lantai satu, dekat dengan loket pembayaran."
Anya mengucapkan terima kasih. Wanita itu lantas berjalan dan masuk ke dalam lift. Kakinya seolah mati rasa. Ia hampir saja limbung jika tidak segera bersandar pada dinding lift.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di lantai dua.
Anya tetap bergeming. Tangannya gemetaran, pandangannya pun mulai kabur. Ia tak sanggup pergi ke sana.
Wanita itu membiarkan pintu lift kembali tertutup.
***
"Loh, Mas Ian?" Callista terkejut tatkala mendapati Ian menunggunya di luar Kantor. Pria itu bersandar di pintu mobil dengan santai.
Seingat gadis itu, ia meminta Axton yang menjemputnya, sebab ia akan bertandang ke rumah mereka.
"X masih ada urusan, jadi aku yang menjemputmu, setelah itu aku akan kembali ke lokasi untuk menjemputnya." Terang Ian.
"Oh, ya sudah, ayo," dengan nada ceria, Callista mengajak Ian untuk cepat pergi dari sana.
Callista menoleh, "Ya, begitulah. Mbak Anya berjanji akan membuatkanku kue hari ini." Jawab gadis itu. Ia tak mungkin membeberkan alasan sebenarnya pada Ian.
Ian mengangguk paham, sementara Callista kembali asyik memandangi jalanan dari balik kaca mobil.
Sesekali, gadis itu melirik Ian yang sedang fokus menyetir lewat ekor matanya. Jujur, ia senang mengetahui Ian yang datang menjemput. Mengenalnya selama beberapa tahun ini membuat Callista menyukai Pria itu. Sayang, Ian hanya menganggap Callista tak lebih dari seorang adik kecil.
Mengingat itu, Callista kontan merengut.
"Cih! Adik kecil apaan!" serunya jengkel.
Ian melirik gadis itu, "Apa?"
Callista terperanjat, "Apanya?" ia balik bertanya, seolah tak mengerti maksud Ian.
Ian mengerutkan keningnya, "Tadi ... apa?"
"Apanya yang tadi?"
"Yang kau katakan. Apa?" Ian memperjelas pertanyaannya. Sepertinya, ia mendengar Callista tengah bersungut-sungut. Akan tetapi, mengapa gadis itu malah terkesan memutar-mutar pertanyaan yang ia lontarkan?
__ADS_1
"Aku tak mengatakan apapun." Jawab Callista sembari mengendikan bahunya.
Ian menghela napas. Nampaknya, ia memang salah mengira.
Diam-diam Callista tertawa kecil. Dia menahan diri untuk tidak mencubit pipi pria tampan di sebelahnya itu.
***
Sesampainya di rumah, Anya langsung berlari ke kamar mandi lantai bawah. Wanita itu terduduk di kloset sembari memandangi sebuah benda yang ia beli sekalian, saat menebus obat.
Alih-alih memeriksakan dirinya ke dokter Obgyn, Anya memilih untuk mengeceknya sendiri terlebih dahulu.
Ia yakin hasilnya tidak valid. "Pihak rumah sakit pasti melakukan kesalahan." Anya meyakinkan diri. Siklus menstruasinya memang tidak teratur dan dia tak pernah memusingkan hal tersebut.
***
"Terima kasih ya, Mas," ucap Callista tulus ketika turun dari mobil.
Ian mengangguk dari dalam mobil. "Benar, tak perlu kuantar sampai ke atas?" tanyanya sekali lagi.
"Tak perlu, aku bukan anak kecil." tolak Callista.
Ian tertawa renyah. "Kau tetap adik kecilku." Tangannya keluar deri jendela dan mengacak pelan rambut Callista.
Jantung Callista seolah merosot dari tempatnya. Meski ia membenci kata-kata yang baru saja Ian lontarkan, tetapi ia menyukai tindakan Pria tersebut.
Callista memajukan bibirnya, lalu mengusir Ian pergi. Tentu hanya candaan semata.
Ian tertawa kembali, lalu menutup kaca mobil dan pergi dari sana.
Callista memandang mobil yang dikendarai Ian dengan tatapan merana. Malang sekali nasib gadis cantik seperti dirinya, harus menyukai Pria tampan seperti Ian yang tidak memiliki kepekaan.
***
Anya membelalakan matanya ... syok! Tubuhnya telah basah oleh keringat, sementara tangannya luar biasa gemetar. Alat tes kehamilan yang tengah ia pegang baru saja memberikan hasilnya.
Bodoh sekali jika ia berpikir bahwa tes urin yang dilakukan di rumah sakit adalah kesalahan. Bagaimana mungkin ia lebih mempercayai alat tes kehamilan sederhana ini dari pada tes urin tersebut?
'Bagaimana ini?' batin Anya ketakutan.
Mereka akan berpisah pada bulan berikutnya. Apa yang Axton lakukan jika ia mengetahui kabar kehamilan ini?
Pria itu memang tak lagi bersama Hana, tetapi mimpi Axton soal berkarir di Luar Negeri tetap sama. Dan ia tak ingin menghancurkan mimpi Pria itu.
Airmata mengalir deras membasahi pipi Anya.
Ia harus menyembunyikannya.
__ADS_1
Ia tak akan memberitahu siapapun, terutama Callista, Adik Iparnya.
Gadis itu pasti akan menggunakan segala macam cara agar mereka berdua tidak jadi bercerai.