
Dug!
Anya mengaduh kesakitan. Untuk ketiga kalinya dagu gadis itu membentur meja makan.
Malam ini Anya tengah menunggu kepulangan Axton seraya menahan kantuk. Semenjak kejadian Callista waktu itu. Axton jadi jarang sekali pulang ke rumah. Kalaupun pulang, alih-alih tidur bersamanya di kamar, pria itu akan lebih memilih tidur di sofa ruang televisi.
Dan kini, sudah hari keempat dia tidak bertemu Axton.
Anya bangkit dari tempat duduknya. Waktu menunjukan pukul 1 tengah malam, dia yakin Axton tidak akan pulang lagi.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari pintu depan. Anya segera menghampiri sumber suara tersebut.
"Kak," sapa Anya pada Axton yang tengah membuka sepatunya asal-asalan. Gadis itu menghampiri Axton kemudian mencium tangannya.
"Pergi!" hardik Axton sembari menghentakan tangannya kasar. Pria itu rupanya sedang mabuk.
Anya berinisiatif merangkul Axton dan memapahnya menuju ke kamar. Gadis itu tak menghiraukan segala sumpah serapah yang dilontarkan sang Suami. Dengan susah payah Anya membawa Axton dan menidurkannya di atas ranjang. Gadis itu kemudian membuka kaos kaki yang tak sempat Axton buka, lalu mengambil baskom berisi air hangat untuk membasuhnya.
Anya yang memang tidak berniat macam-macam, tanpa ragu membuka kancing kemeja Axton satu persatu. Gadis itu tertegun sejenak saat melihat bekas sayatan yang berada di perut Axton.
Matanya berkaca-kaca. Dirabanya sayatan tersebut dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian. Mengingat bagaimana Axton masih bisa bernafas sekarang, membuat hati Anya benar-benar sangat bahagia.
Namun seakan menyadari sesuatu, raut wajahnya tiba-tiba berubah. Axton tidak boleh merokok dan minum alkohol! Apa Ian tidak tahu kondisi Axton? Sepertinya Anya harus bicara dengannya ketika bertemu nanti.
Anya segera membersihkan wajah Axton dan juga tubuhnya, tak lupa dia juga menggulung celana Axton sebatas betis untuk membasuh kaki pria itu. Setelah selesai Anya mengambil kaos bersih dari lemari Axton dan memakaikannya.
Matanya masih memandangi Axton yang kini tertidur pulas. Sesekali, dengan gemas Anya akan menyentuh bulu mata Axton yang lentik.
Puas memainkan bulu mata pria itu, dia memilih pergi dari sana. Anya akan tidur di fitting room malam ini. Dia tidak mau pagi-pagi mendapati Axton murka padanya. Bisa-bisa ia ditendang jatuh dari atas ranjang.
Grep!
Brukk!
Axton dengan sigap mencengkram pergelangan tangan Anya dan menariknya ke ranjang king size tersebut. Gadis itu membelalakan matanya tatkala Axton membelit tubuhnya seperti guling.
Mata pria itu masih terpejam. Mungkinkah dia tengah mengigau?
Dirasa sudah nyaman, Axton kembali melemaskan tubuhnya dan tidur. Anya tak bisa memberontak sebab sedikit saja menggerakan tubuhnya, Axton akan langsung mengeratkan pelukannya. Anya nyaris saja tak bisa bernapas.
__ADS_1
Dia pasrah jika harus tidur dalam posisi seperti ini.
...***...
Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi.
Anya sebenarnya sudah bangun sejak tadi, tetapi dirinya sama sekali tidak bisa lepas dari kungkungan Axton. Tubuh atasnya memang sudah terbebas dari pelukan Axton, namun kaki pria itu masih senantiasa membelit kakinya. Setiap Anya mencoba untuk bangun, kaki Axton pasti akan langsung membelit kaki Anya lebih erat.
Anya dapat merasakan hembusan napas Axton. Jantungnya benar-benar berdegup kencang. Anya mengumpat dalam hati, berharap suara degupannya tak terdengar oleh pria berhati dingin itu.
Anya memilih menikmati momen ini. Biarlah dia dicap mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Anya mencoba menahan diri untuk tidak menyentuh wajah tampan suaminya itu, namun gagal. Gadis itu meraba ringan wajah Axton, mulai dari rambutnya, bulu matanya, matanya, bahkan hidung pria itu.
Jantungnya semakin berdegup kencang ketika ujung jarinya menyentuh bibir tipis Axton.
Anya ketagihan akan tekstur lembut bibir pria itu. Kepalanya bergeser mendekat, jarinya berusaha menekan lebih dalam bibir itu menggunakan jarinya dan–
"X! Pemotretan sebentar lagi–"
Bug!
Anya panik setengah mati mendapati Ian membuka pintu. Dia yakin Ian melihatnya tengah menjahili Axton.
"I–ini t–tak seperti yang kau lihat!" pekik Anya frustasi. Matanya kemudian menoleh pada Axton yang tengah memelototinya penuh amarah.
Ian meringis canggung. Pria itu lupa, semenjak Hana tak lagi ada di sana, Axton harus tidur berdua dengan Anya, tidak sendirian seperti yang ia pikirkan.
Dia sejenak lupa, Axton telah beristri.
"Aku tunggu di bawah," kata Ian sembari menggaruk lehernya yang tak gatal. Tanpa menunggu jawaban, pria itu segera melesat turun.
Anya buru-buru membantu Axton bangkit dari lantai. Gadis itu mengucapkan maaf padanya.
"Gadis sial! Kalau mau membunuhku, bukan begini caranya!" umpat Axton sembari melepaskan tangan Anya kasar dan pergi ke kamar mandi.
Anya menggigit bibirnya, rasa ingin menangis dan malu bercampur menjadi satu.
Setelah insiden menghebohkan itu selesai, mereka berempat kini telah duduk di meja makan untuk sarapan, kebetulan Ian dengan sukarela membuatkan roti bakar untuk mereka. Delia baru saja datang. Anya menyerahkan tiga set pakaian yang akan Axton pakai di lokasi syuting pada Delia.
__ADS_1
Axton sudah tahu mengapa Anya bisa menghafal semua persiapan dan perlengkapan syutingnya. Siapa lagi kalau bukan dari Delia.
Setelah selesai sarapan mereka pamit pergi. Delia keluar rumah lebih dulu disusul Axton. Saat Ian akan ikut menyusul, Anya menarik pelan lengan kemejanya.
"Ada apa Anya?" tanya Ian penasaran. "Kalau menyangkut insiden pagi tadi, aku benar-benar minta maaf, aku lupa ji–"
"Bukan itu!" potong Anya buru-buru. Wajahnya kembali merah padam setiap mengingat kejadian itu.
Ian mengernyitkan dahinya, "Lalu?"
"Apa kau tahu kondisi X? Kau tahu kan, dia tidak boleh merokok dan minum alkohol?" tanya Anya dengan nada tak sabaran.
Ian melemaskan otot wajahnya. "Ahh, iya aku tahu. Dia tidak merokok, tapi untuk minum sudah berkali-kali aku melarangnya. X sebenarnya tak kuat minum, hanya dengan dua shot glass saja dia sudah mabuk parah. Tapi tenang saja Anya, aku rutin memeriksakan kesehatannya setiap bulan. Jadi kau tak perlu khawatir, oke?"
Anya mengangguk paham. Gadis itu meminta Ian untuk lebih ketat menjaga Axton dan memerhatikan pola makan pria itu. Ian berjanji akan melakukannya.
"Kau istri yang baik Anya, X benar-benar bodoh telah menyia-nyiakan istri sebaik dirimu," Setelah melontarkan pujian tersebut Ian menepuk bahu Anya sekali dan pamit pergi.
Anya tersenyum mendengarnya. Setidaknya dia ingin dikenang seperti itu, setelah mereka berdua bercerai nanti.
...~~~...
Anya baru pulang dari pasar swalayan untuk berbelanja bahan makanan. Hari ini dia terpaksa pergi berbelanja sendirian tanpa ditemani Bi Rahmi, sebab beliau sedang pulang kampung untuk menemui keponakannya yang baru saja melahirkan.
Gadis itu terlihat kepayahan membawa lima buah kantung belanjaan. Berdalih tak ingin bolak-balik ke pasar swalayan membuat dirinya berbelanja semua bahan makanan sekaligus, tanpa memikirkan bahwa dia hanya seorang diri.
Gadis itu mengusap peluh di dahinya. Selangkah lagi dia akan sampai rumah. Dia hanya perlu menjejakan kakinya ke dalam lift dan semua akan selesai.
Ting!
Pintu lift terbuka, Anya menunduk untuk mengangkat barang-barang belanjaan tersebut, sembari meminta tolong pada orang di dalamnya agar sudi menahan pintu itu sejenak.
Satu buah jeruk menggelinding ke dalam lift dan berhenti di ujung sepatu seorang pria. Pria itu lantas mengambil jeruk tersebut lalu keluar dari lift. Tanpa bicara, ia langsung mengambil tiga buah kantung belanjaan Anya.
"Terima kasih," ucap Anya sembari menoleh ke arah si pria. Matanya kontan membelalak setelah melihat wajah pria itu, begitu pula dengannya.
"Mas Daffa?"
"Savanna?"
__ADS_1