Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Sate Ayam.


__ADS_3

"Luar biasa! Aku sampai tak bisa berkata apa-apa mendengar semua ceritamu." Ian berkata seraya bertepuk tangan.


Pria itu tak habis pikir dengan apa yang telah Hana lakukan. Namun yang membuatnya makin tidak habis pikir, adalah sikap Axton yang masih saja sudi berbuat baik pada wanita itu.


Dia paham, tak mudah bagi Axton melupakan Hana begitu saja setelah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Namun tetap saja, seharusnya ia tak boleh begitu saja bersikap lunak pada Hana.


"Lalu?" tanya Ian.


Axton mengerutkan keningnya. "Lalu, apa?"


"Kau akan kembali padanya?" ada nada tak suka terdengar jelas dari kalimat Ian.


"Kau gila!"


"Kau yang gila." Axton melotot mendengar balasan sahabat baiknya itu.


"Ck! Aku tak ingin membahasnya lagi." Axton merasa Ian sedang mengajaknya bertengkar, maka dari itu, Axton memutuskan mengakhiri percakapan ini.


Ian menatap Axton datar. Pria itu menahan semua kata pedas yang ingin ia lontarkan, di ujung lidahnya.


Axton tidak harus berubah menjadi pria brengsek tak berhati. Dia tahu betul, sahabatnya bukan orang seperti itu.


***


Jam sudah menunjukan pukul setengah satu malam ketika Axton tiba di rumah. Ia begitu terkejut tatkala berpapasan dengan Anya yang berpakaian lengkap di ambang pintu depan apartemen mereka.


"Mau ke mana tengah malam begini?" tanya pria itu curiga. Matanya memicing menatap Anya dari atas ke bawah.


Anya yang gugup mencoba menjawab setenang mungkin. "Lapar." Wanita itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang seraya meringis. Tak lupa, ia mencium tangan pria itu.


"Tidak ada makanan di rumah?" tanyanya lagi.


"Tidak ada."


"–yang aku inginkan." Anya meneruskan kalimat tersebut dalam hati, sembari merapal doa-doa agar Axton mengijinkannya keluar. Anya tak ingin hari ini berakhir seperti peristiwa Semangka Kuning tempo hari.


"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Anya sembari memakai sandalnya, bersiap untuk keluar.


"Kuantar," tawar Axton.


"Tidak perlu, aku hanya sebentar. Lagi pula, Kakak harus istirahat." Anya menggerak-gerakan kedua tangannya, melarang Axton ikut bersama. Dia tak akan leluasa mencari apa yang ia mau.


Axton tak menanggapi perkataan Anya. Pria itu malah mengambil masker dan topi yang tergantung di dekat sana, lalu menuju pintu keluar lebih dulu.

__ADS_1


Anya meringis. Bayangannya soal menjelajahi makanan yang ia mau sendirian kandas begitu saja.


*


"Kita ke tempat makanan cepat saji saja, yang buka 24 jam." Axton bersuara, meminta persetujuan Anya.


Tuh, kan!


"Mmm ... aku ingin makanan yang lain," Anya menggigit bibirnya. Wanita itu bertekad akan mendapatkan makanan yang ia inginkan, apapun yang terjadi.


Pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Makanan apa?"


Mendengar pertanyaan Axton, Anya kontan memasang wajah sumringah. "Kudengar ada kedai sate sederhana yang buka 24 jam tak jauh dari sini. Aku ingin makan di sana."


Axton terdiam sejenak sebelum menganggukan kepalanya. "Baiklah. Tunggu di lobby, aku akan mengambil mobil dulu."


Anya menggeleng. "Tempatnya cukup dekat dari sini, kita jalan kaki saja."


"Oke."


Dengan langkah riang, Anya memimpin jalan. Syukurlah, ia tak harus bertengkar dengan Axton perihal Sate, seperti Semangka Kuning tersebut. Wanita itu tersenyum senang, sembari membayangkan betapa wanginya aroma sate yang sedang dibakar.


Tak sampai sepuluh menit keduanya sampai di sebuah kedai pinggir jalan yang Anya maksud. Terlihat, masih ada beberapa pelanggan yang makan di sana.


Seorang Bapak berusia sekitar 60 tahun dan anak gadisnya mempersilahkan Anya dan Axton mencari tempat duduk dan memesan makanan.


Anya menoleh pada Axton.


"Kambing. Teh hangat." Seakan mengerti apa maksud Anya, pria menjawab singkat.


Dengan nada penuh semangat, Anya menyebutkan pesanannya, "Saya pesan tiga porsi nasi, sepuluh tusuk sate kambing dan duapuluh tusuk sate ayam ya, Pak? Minumnya teh manis hangat tiga."


Axton terperangah mendengar semua pesanan Anya. Mereka hanya datang berdua, tapi mengapa Anya memesan tiga porsi untuk masing-masing makanan dan minumannya?


Sembari menunggu, Anya mengambil kerupuk dan memakannya terlebih dahulu sebagai cemilan. Sesekali wanita itu memerhatikan si Bapak penjual yang tengah membakar sate, sementara Axton sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Ini Mbak teh manisnya," gadis berusia 20 tahunan, anak si Bapak penjual, memberikan tiga gelas teh hangat pada meja Anya. Dua gelas di hadapan Axton dan satu gelas di hadapan wanita itu.


Sembari tersenyum malu-malu, Anya lantas menggeser teh manis kedua yang ada di hadapan Axton tersebut ke arahnya.


"Ahh," si gadis tertawa canggung.


Beberapa saat kemudian, tiga porsi sate dan nasi pesanan Anya tiba di meja mereka. Sama seperti halnya si anak, si Bapak penjual pun meletakan dua porsi nasi dan sate di hadapan Axton.

__ADS_1


Sembari meringis Anya mengambil seporsi nasi dan seporsi sate ayam dari hadapan pria itu.


Si Bapak penjual tertawa. "Tak mengherankan jika pria makan dua kali lipat dari porsi seharusnya, tetapi wanita bertubuh kurus, saya baru kali ini melihatnya." Tutur Beliau.


Anya hanya tertawa mendengar penuturan Bapak penjual sate, lalu berterima kasih atas makanannya.


"Kau yakin mampu menghabiskan semuanya?" tanya Axton ragu-ragu. Anya mengangguk mantap.


"Memangnya, sudah berapa hari dia tidak makan?" gumam Axton pelan.


Setelah yakin tak ada yang melihatnya, Axton menurunkan masker dan makan dengan tenang, begitu pula dengan Anya.


Wanita itu begitu lahap memakan sate ayam yang ia pesan. Wajahnya terlihat sangat bahagia, seperti dia telah mendapatkan apa yang diidam-idamkannya selama ini. Padahal menurut Axton, ini hanyalah sate ayam biasa. Mereka bisa membelinya besok-besok.


Melihat raut wajah ceria Anya, mau tak mau, membuat Axton menarik sudut bibirnya.


Merasa diperhatikan, Anya menoleh padanya. "Kakak mau?" Anya menawari pria itu, saat melihat piring makan Axton telah bersih.


"Tidak." Jawabnya. Pria itu reflek mengulurkan tangannya ke bibir Anya. Bermaksud membersihkan sisa saus kacang yang tertinggal di sudut bibir wanita itu.


Anya tersentak, begitupun dengan Axton. Pria itu buru-buru menarik tangannya setelah mengelap sudut bibir Anya. "Cepat selesaikan! Aku mengantuk." Katanya ketus.


***


Axton dan Anya masuk ke dalam apartemen mereka. Pria itu masih takjub dengan Anya yang memiliki tubuh kurus tapi mampu melahap makanan untuk dua orang. Setahu Axton, porsi makan wanita itu sangat sedikit, jadi bagaimana bisa tiba-tiba Anya memiliki napsu makan melebihi dirinya?


"Aku tidur dulu," ujar Anya ketika sampai di depan fitting room.


Axton bergeming sejenak sebelum akhirnya membuka suara, "Kau akan terus tidur di sana?" tanya pria itu.


"Maksudmu?" alih-alih menjawab, Anya malah balik bertanya.


"Tidur di tempat itu," Axton menunjuk ruangan fitting room miliknya.


Anya tersenyum. "Ya. Selamat malam," ucapnya. Wanita itu segera melesat menuju ruangan tersebut dan menutup pintu.


Sesampainya di dalam, Anya lantas bersandar di daun pintu. Tangan wanita itu sontak memegang baju depannya.


Jantungnya kini bergemuruh tak karuan. Tidak ingin ia pungkiri, hatinya kali ini sedikit berbunga-bunga.


Mulanya, Anya bersedih memikirkan betapa irinya dia pada wanita-wanita hamil diluaran sana, yang bahagia bisa ditemani sang suami saat tengah mengidamkan sesuatu.


Namun tak disangka, dia juga bisa ikut merasakannya, meski Axton tak tahu.

__ADS_1


"Kita tidur nyenyak ya," ucap Anya sembari mengelus perutnya penuh kasih sayang.


__ADS_2