
Anya dan Callista seperti kehilangan jati diri hari ini. Keduanya asyik berlarian kesana kemari, mencoba berbagai wahana yang ada di sana. Axton dan Ian mau tak mau mengimbangi langkah mereka.
"Memalukan jika mereka sampai hilang." Ian menyetujui perkataan Axton.
Meski sesekali Anya terlihat kelelahan dan pucat, tak menyurutkan semangat wanita itu untuk menikmati liburan yang mungkin tak akan pernah ia lakukan lagi.
"Mbak benar tidak apa-apa? Wajah Mbak pucat sekali." Callista tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Tidak apa. Ini pasti karena aku sudah lama tidak bergerak, jadi gampang kelelahan. Hanya perlu istirahat sebentar." Anya tak ingin acara jalan-jalan mereka berantakan karena dirinya.
Terlalu terbawa suasana membuat wanita itu lupa, kalau ia tidak boleh kelelahan.
"Ini sudah lewat jam makan siang, kalau begitu, kita istirahat saja dulu." Ian mengajak ketiganya mencari tempat beristirahat.
Suasana yang sangat ramai membuat keempatnya sempat kesulitan menemukan tempat beristirahat. Beruntung, Anya melihat satu spot kosong di bawah pohon rindang yang lumayan besar.
Sesampainya di tempat itu, Axton dan Ian menggelar tikar yang mereka bawa, sementara Callista dan Anya membuka keranjang piknik berisi makan siang mereka. Ada Sandwich Tuna dengan berbagai isian sayuran yang menggugah selera dan juga buah-buahan segar sebagai pencuci mulut. Tak lupa Jus jeruk dingin dan air mineral guna menghilangkan dahaga.
Setelah perut kenyang, Callista meminta Ian menemaninya berkeliling membeli souvenir. Gadis itu sama sekali tidak terlihat kelelahan.
"Mbak ikut, ya?" pinta Anya memelas. Ia tak ingin ditinggalkan berdua saja dengan Axton.
"Mbak istirahat saja, biar Mas Ian yang menemaniku. Tidak apa 'kan, Mas?" Callista meminta persetujuan.
"Tidak masalah." Jawab Ian ramah. Pria itu tentu tak akan menolak permintaan Callista.
"Jangan lama-lama!" sahut Axton yang tengah berbaring sembari menutupi seluruh wajahnya menggunakan topi yang ia pakai.
"Iya, bawel!" seru Callista seraya menjulurkan lidahnya. Gadis itu segera menarik tangan Ian dan berlalu pergi secepat mungkin. Ia tak ingin Anya berlama-lama menahannya di sana.
Hening menghiasi keduanya selepas Callista dan Ian pergi. Anya hanya duduk bersandar pada pohon besar tersebut sembari menatap sekeliling, memerhatikan tingkah laku setiap orang yang ada di sana, sedangkan Axton tampaknya tertidur.
Bosan tidak melakukan apa-apa, Anya berniat pergi berkeliling untuk melihat-lihat.
Greb!
Axton menahan tangan Anya dan meminta wanita itu untuk kembali duduk.
"Aku tak akan berjalan terlalu jauh." Anya memberi alasan agar diijinkan pergi.
"Kakimu dan Callista seperti ada pegasnya. Duduk diam dan tunggu mereka di sini." Axton melepas genggaman tangannya pada Anya lalu kembali memejamkan mata.
__ADS_1
Anya menggigit bibirnya. Ia bukannya tidak betah hanya berdiam diri berdua dengan Axton, melainkan malu dan canggung.
"Baiklah, aku akan diam sebentar sampai ia tertidur pulas." batin Anya kegirangan. Ia berencana pergi diam-diam saat Axton tidur.
Semenit, lima menit, sepuluh menit, Axton tidak bergerak. Anya yakin sekali bahwa pria itu sudah terlelap.
Dengan gerakan yang super pelan, Anya mencoba bangkit dari duduknya.
Srek!
Dugh!
"Aww!" Anya merintih kesakitan tatkala Axton tiba-tiba menarik tangannya, membuat wanita itu serta merta jatuh terduduk. Rasa sakit pada bokongnya langsung menjalar sampai ke kepala.
Baru saja Anya akan protes, namun tindakan Axton selanjutnya malah membuat wanita itu menganga.
Axton dengan seenak hati meletakan kepalanya di atas paha Anya, agar Anya tidak bisa kabur.
"Banyak orang yang melihat!" seru Anya tak nyaman.
"Aku tak melakukan apapun." Jawab Axton santai. Cuaca yang sedikit terik membuat pria itu memakaikan topinya di kepala Anya.
"Diam dan jangan ganggu tidurku." Axton melipat tangannya dan kembali terpejam.
Wanita itu hanya sibuk memperhatikan wajah tampan pria yang berstatus sebagai suaminya ini.
Saat tidur, wajah Axton begitu polos dan damai. Tak ada seringai bengis maupun tatapan mematikan yang biasa ia lakukan saat dalam kondisi sadar.
Entah keberanian dari mana, Anya mendekatkan wajahnya pada wajah Axton, sekaligus menghalangi sinar matahari yang berusaha menerpa wajah tampan pria itu.
Jarak hidung mereka hanya beberapa sentimeter.
Anya tersenyum lembut. Ia benar-benar sangat menyukai wajah Axton yang sedang tidur. Wajah damai itu seperti candu baginya. Terlebih, dia dapat melihatnya dari jarak sedekat ini.
Pikiran wanita itu mulai menerawang, mengingat-ingat sikap Axton yang tidak lagi sekasar dulu. Meski mulutnya tetap tajam, tapi Axton tidak pernah lagi menyakiti fisik Anya. Beberapa kali dia bahkan bersikap manis padanya.
Anya sadar betul, apa yang Axton lakukan mungkin adalah sebagai bentuk permintaan maafnya yang lain. Namun tetap saja ia tersentuh. Hatinya jadi ingin berharap, sekalipun harapan itu berkali-kali ia patahkan sendiri.
Axton masih memiliki Hana, kendati ia bisa melihat hubungan mereka tampaknya tengah goyah, tetap saja Anya tidak boleh mencari celah. Belum lagi, surat perjanjian pernikahan mereka yang akan berakhir dua bulan lagi. Surat yang menjadi salah satu alasan terbesar Anya untuk tidak berharap lebih pada Axton.
Anya tak dapat menghindar tatkala Axton membuka matanya dan memergoki dirinya tengah asyik memerhatikan pria itu. Jarak mereka yang hanya beberapa sentimeter membuat Axton dapat melihat dengan jelas raut wajah terkejut Anya.
__ADS_1
Warna merah samar bahkan sudah menjalar dari pipi sampai ke telinga wanita itu.
"Cantik," pikir Axton.
"Aku mendapat banyak sekali souven–upss, apa aku menginterupsi sesuatu?" Callista berdiri mematung seraya memasang wajah bingung, sementara Ian tertawa kecil. Gadis itu seperti memergoki sepasang remaja yang tengah berciuman di keramaian.
Axton yang panik segera bangun dari posisinya, diikuti Anya.
"Aakkh!" pekik Anya sambil memegang perutnya yang terasa kram, begitu juga dengan bokong dan pinggangnya.
Ketiga orang tersebut spontan mendekati Anya. "Kenapa Mbak?" tanya Callista khawatir.
Anya meringis, "Sepertinya, terlalu banyak duduk tadi." Jawabnya.
Mendengar jawaban Anya, rasa bersalah memenuhi benak Axton. Duduk dengan posisi yang sama, apa lagi sambil menopang kepalanya pasti membuat peredaran darah Anya tidak lancar. Wajar saja jika sesudahnya, ia mengalami kram.
Pria itu kemudian berjongkok di hadapan Anya, lalu meminta Anya naik ke punggungnya.
Semula Anya sempat ragu, tetapi Callista menuntun wanita itu untuk naik ke punggung Axton.
Setelah membereskan tikar dan keranjang piknik, keempatnya bergegas pergi dari sana untuk pulang ke rumah.
Ian dan Callista memilih jalan di depan, sementara Axton berjalan perlahan di belakang mereka.
"Maaf," ucap Anya pelan.
"Untuk?" tanya Axton sembari membenarkan posisi Anya yang sedikit merosot.
"Sudah merepotkan semuanya, terutama Kakak." Jawab Anya takut-takut. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat, bersiap jika tiba-tiba Axton berteriak memakinya.
Beberapa saat ditunggu, suara Axton tak juga kunjung terdengar. Anya membuka matanya.
"Diam saja," ujar Axton. "Kau ... berat."
Anya terbelalak. Memorinya seketika kembali pada kenangan belasan tahun silam, kala ia terpeleset dari pohon dan jatuh tepat di atas tubuh Axton.
Entah kata-kata itu hanya ucapan spontan belaka atau memang Axton mengingatnya juga.
Deg! Deg!
Debaran jantung Anya mulai menggila. Dia tak peduli jika Axton juga mendengar suara detak jantungnya.
__ADS_1
Tess!
Tanpa Axton sadari, Anya menangis tanpa suara.