
Maxim menelepon Axton saat subuh dan menyuruh anak bungsunya itu untuk tidak lupa mengantar Anya ke Bandara, sebelum berangkat syuting. Hana yang mendengar perhatian Maxim, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara, walaupun wajahnya telah memerah karena cemburu.
Ingin sekali rasanya wanita itu berteriak dan berkata, bahwa dialah yang tidur bersama Axton selama ini. Membayangkan bagaimana reaksi ayah Axton ketika mengetahuinya saja, sudah cukup membuat Hana tertawa puas.
"Ada apa?" tanya Axton setelah menutup telepon dari sang Ayah.
"Hanya membayangkan hal yang lucu." Jawab Hana seraya tertawa misterius. Axton tak begitu memerdulikan sikap Hana. Dia tak ingin menambah beban pikirannya.
Pria itu bangun dari ranjangnya "Tidurlah lagi, aku akan mengantarnya dulu," katanya seraya mencium bibir Hana lalu pergi menuju kamar mandi.
Hana tak bisa membantah, dia kembali menggulung tubuh setengah polosnya di bawah selimut tebal milik Axton.
Anya sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Sebuah koper berada di tangan kanannya, sementara tas kecil berada di bahunya.
Tahu ada Hana bersama dengan Axton, membuat Anya tak ingin pamit pada pria itu. Dia akan mengirim pesan saja nanti.
Anya membuka pintu rumah, bersamaan dengan itu Axton datang menyusulnya. Pria itu terlihat mengambil kunci mobil yang tergantung di dekat pintu.
Anya terdiam mematung. Tubuhnya menghalangi pintu yang otomatis membuat Axton tidak dapat keluar.
"Cepat! Kau tak ingin ketinggalan pesawat, bukan?"
Perkataan Axton seketika membuyarkan lamunan Anya. Gadis itu cepat-cepat menyingkir untuk memberi jalan Suaminya.
Wajahnya memerah saat tahu Axton akan mengantarnya. Kendati dia paham, Axton tidak mungkin berinisiatif sendiri.
Di sepanjang perjalanan, Anya hanya melamun. Ia memikirkan kondisi Ibunya. Tadi sehabis mandi, Kinanti mengabari kalau Ibunya mengalami demam tinggi. Beberapa kali sang Ibu juga memanggil-manggil namanya terus.
Anya sudah menyuruh kedua adiknya itu untuk membawa Ibu ke rumah sakit segera.
Axton dapat melihat kegelisahan yang dirasakan Anya. Dia ingin sekali menanyakan kondisi Ibu Mertuanya, tetapi kata-kata itu tak kunjung keluar dari mulut Axton.
"Aku mungkin akan lama di sana, Kak. Ibu tampaknya harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Aku akan menemani beliau sampai sehat kembali." Seakan tahu akan isi hati Axton, Anya tiba-tiba memberitahukan kondisi Bu Rastini.
"Hn," gumam Axton.
Axton memerhatikan Anya yang sedang memandang keluar jendela. Tangan gadis itu tidak bisa diam. Sedikit-sedikit tangannya memilin baju atau mengorek-ngorek ujung kukunya.
Tanpa sadar tangan Axton bergerak perlahan.
Baru saja pria itu ingin menggenggam tangan Anya, tiba-tiba gadis itu berteriak, "Kak, awas!"
Axton mengalihkan pandangannya ke depan. Ternyata ada sebuah Bus melaju kencang dari arah berlawanan. Dengan sigap Axton membanting setirnya ke kiri dan menginjak rem kuat-kuat.
Anya menutup kedua matanya rapat-rapat.
Setelah beberapa saat, gadis itu kembali membuka matanya. Seruan napas kelegaan terdengar ketika mengetahui mereka baik-baik saja. Dirinya lalu menoleh pada Axton yang tengah memelototinya.
Bukan! Axton buka memelototi dirinya. Gadis itu lantas mengikuti arah pandang Axton.
__ADS_1
Anya spontan berteriak seketika, setelah mengetahui bahwa dia mendekap tangan Axton di dadanya.
Axton memang reflek menghalangi tubuh Anya menggunakan tangannya meski telah memakai seatbelt. Tapi tak disangka, Anya tanpa sadar malah memeluk erat tangan tersebut dan membawanya ke dada gadis itu.
"M–maafkan aku," ucap Anya tergagap.
Berusaha menganggap tak terjadi apapun, Axton segera melajukan mobilnya kembali.
"T-terima kasih, Kak," ucap Anya setibanya mereka di Bandara. "Aku pergi dulu," pamitnya pada Axton. Tangannya meraih tangan kanan Axton yang berada di stir dan menciumnya lembut.
Axton yang biasanya memberontak ketika disentuh, sekarang hanya bisa terdiam mematung, seakan membiarkan Anya melakukannya. Entahlah, dia tidak bisa menggerakan tangannya untuk menepis tangan Anya seperti biasa.
Axton masih terdiam selama beberapa saat setelah kepergian Anya. Pria itu tanpa sadar mengelus punggung tangannya yang masih terasa hangat oleh ciuman Anya.
...***...
Anya berlari di koridor rumah sakit menuju ruang rawat Ibunya. Kinanti menyambut kedatangan sang Kakak dengan wajah penuh air mata, sedangkan Jagat tertidur di kursi tamu.
"Bagaimana keadaan Ibu, Nan?" tanya Anya. Matanya menatap nanar tubuh kurus Bu Rastini. Baru dua hari tidak bertemu, kondisi sang Ibu benar-benar jauh berbeda.
"Ibu kekurangan cairan, Kak. Trombositnya juga turun. Kata dokter, Ibu mengalami depresi berat. Setelah membaik aku akan memeriksakan Ibu ke Poli Kejiwaan." mendengar penuturan Kinanti, Anya meneteskan air matanya.
Digenggamnya tangan sang ibu sembari berbisik, "Anya pulang, Bu,"
Setelah beberapa kali berkata demikian, Bu Rastini membuka matanya perlahan. Tangis wanita itu pecah begitu mengetahui Anya datang. Beliau langsung memeluk erat Anya dan mengatakan maaf berkali-kali, karena telah membuat malu dirinya.
"Kenapa Ibu terus mengatakan hal itu? Ibu tidak salah apa-apa." Disela-sela tangisannya, Anya memarahi Bu Rastini.
Menurut Kinanti dan Jagat, Ibu mereka merasa sangat terpukul bukan hanya pada tuduhan keluarga Axton, melainkan pada Anya juga. Beliau merasa bersalah karena telah mempermalukan Anya.
Anya yang mendengarnya hanya bisa menangis. Ia benar-benar tak habis pikir. kejadian itu sangat berdampak padI ibunya.
"Maafkan Anya, Bu," lirihnya. "Anya janji akan membersihkan nama Ibu setelah dari sini. Anya janji, Bu."
...***...
Sudah hampir seminggu Anya pulang ke kampung halamannya. Gadis itu rajin mengirimi Axton pesan guna mengabari kondisi kesehatan Bu Rastini.
Kondisi Bu Rastini belum juga membaik. Wanita itu bahkan tidak bisa menerima makanan apapun sekarang. Setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya akan langsung keluar begitu saja.
Pada malam-malam tertentu Beliau juga akan menangis histeris di dalam tidurnya. Terkadang, Beliau seperti masih berada di hadapan kedua orang tua Axton. Ia akan bersimpuh tiba-tiba dan berulang-ulang kali menyatakan tidak bersalah.
Anya sudah memeriksakan Bu Rastini ke Poli Kejiwaan. Menurut diagnosis dokter, sang Ibu mengalami Depresi Psikotik.
Depresi Psikotik sebenarnya dapat disembuhkan jika saja kondisi fisik penderitanya tidak ikut menurun.
Maxim menelepon Anya siang hari kemudian. Pria itu mengajak Axton untuk ikut bersamanya ke kampung halaman Anya. Axton tidak menolak ajakan Ayahnya, sebab dia memang berniat menyusul Anya beberapa hari kemudian.
...***...
__ADS_1
"Anya, Kinanti, Jagat," panggil Bu Rastini pada ketiga anaknya.
Hari ini kondisi Bu Rastini terbilang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Ia tak lagi banyak menangis, dan menghabiskan waktunya seharian dengan mendengarkan lagu-lagu islami yang menenangkan.
Mereka segera menghampiri ranjang sang Ibu. "Ada apa, Bu? Ada makanan yang Ibu inginkan? Biar Anya belikan," tanyanya pada sang ibu.
Bu Rastini menggeleng, "Tidak. Ibu hanya ingin berbincang sedikit dengan kalian."
"Kenapa, Bu?" tanya Kinanti kali ini.
Mata Bu Rastini menatap Kinanti dan Jagat, "Kinan, Jagat, kuliah yang rajin, ya? Luluslah dengan nilai yang baik agar mendapatkan pekerjaan yang mapan. Jangan seperti Ibu dan almarhum Ayah kalian." Kata Bu Rastini seraya tersenyum.
"Kalian juga jangan sering-sering bertengkar. Selalu nurut apa kata Mbak Anya, karena biar bagaimanapun. Mbak Anya adalah Kakak kalian. Tanpa Mbak Anya dan keluarganya, kita tidak akan bisa melalui semua kesusahan ini."
"Bu, kenapa ngomong begini, sih?" Kinanti menangis mendengar perkataan Ibunya.
Bu Rastini tersenyum kecil, mata tuanya kemudian beralih menatap Anya, "Nduk, terima kasih sudah mau menjadi anak Ibu dan juga Kakak bagi kedua anak Ibu. Ibu sangat bersyukur dapat merawatmu sejak keluargamu ada. Kamu tahu kan, Ibu sayang sekali padamu?"
"Iya Bu, Anya tahu. Anya yang bersyukur karena Ibu mau merawat Anya dengan baik. Anya tidak akan mungkin seperti ini, jika bukan Ibu yang sudi merawat Anya." Jawab Anya sembari menggenggam tangan Bu Rastini. Setetes air mata mengalir dari sudut mata Anya.
"Maaf jika diakhir hidup Ibu, Ibu hanya bisa mempermalukanmu di depan keluarga Suamimu,"
"Ibu ini bicara apa, sih? Ibu tidak pernah mempermalukan Anya. Ibu tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Hati Anya merasa tak nyaman mendengar perkataan Bu Rastini. Rasanya sama persis seperti yang dia rasakan akhir-akhir ini.
"Sudah Anya bilang, Bu, kalau Mama menyampaikan permintaan maafnya pada Ibu karena telah salah menuduh."
Bu Rastini tersenyum sendu, ini sudah kelima kalinya Anya berkata demikian. Dia tidak bodoh, dia tahu betul itu hanyalah kebohongan belaka.
"Tidak baik berbohong, Nak, Ibu tidak pernah mengajarimu seperti itu," Bu Rastini memperingatkan.
Anya hanya bisa menunduk.
"Anya, Kinan, Jagat," panggil Bu Rastini sekali lagi. Mata wanita itu bergulir menatap ketiga anaknya secara bergantian. "Di dalam lemari Ibu ada sebuah kotak brankas usang. Semua benda berharga, beserta surat rumah ada di sana. Beberapa perhiasan sengaja Ibu kumpulkan sedikit demi sedikit sejak bekerja di keluarga Pak Handoko. Ibu tak ingin meninggalkan kalian tanpa bekal. Terserah mau diapakan semua itu, Ibu serahkan pada kalian bertiga. Ingat Anya, kau juga anak Ibu." Kata Bu Rastini panjang lebar.
Air mata kembali menetes membasahi pipi Bu Rastini. "Titip adik-adikmu ya, Anya? Ibu memercayakan mereka padamu. Tolong jaga mereka sepenuh hati, dan kau juga harus menjaga dirimu sendiri, "
"Ibu ngomong apa sih, Bu!" pekik Anya marah. Dia tak suka sang Ibu mengatakan hal yang aneh-aneh.
Bu Rastini merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar, meminta mereka bertiga untuk datang ke dalam dekapannya.
...***...
Sebuah nomor tak dikenal beberapa kali menelepon ponsel Axton. Semula Axton mengabaikan panggilan telepon itu, karena berpikir itu adalah panggilan dari beberapa wartawan, tetapi kemudian sebuah pesan masuk datang dari nomor tersebut.
0817XXXXXXXX
Kak, ini Jagat.
Maaf aku mengganggu, aku hanya ingin memberitahu bahwa ibu meninggal dunia hari ini.
__ADS_1
Terima kasih.