
Suara ketukan pintu kamar mandi mengejutkan Anya.
"Mbak, Mbak di dalam?" suara Callista terdengar lantang dari balik pintu kamar mandi. Gadis itu rupanya datang ke rumah. Ia pasti mengkhawatirkan kondisi Anya.
Anya panik! Wanita itu lekas membuang bungkus test pack ke dalam toilet dan menyimpan alatnya ke dalam saku baju yang ia pakai.
Tak ingin membuat Callista curiga, Anya juga membasahi wajahnya dengan banyak air.
"Mbak mandi? Aku mengganggu ya?" ujar Callista tatkala Anya keluar dari kamar mandi.
Anya tertawa ringan, "Baru ingin, kalau saja gadis manis yang satu ini tidak menggedor-gedor pintu seperti sedang kemalingan." Jawabnya seraya mencubit kecil hidung Callista.
Callista meringis sembari menggaruk-garuk leher belakangnya yang tidak gatal, "Maaf, Mbak,"
"Tak apa. Kalau begitu, Mbak lanjut mandi dulu, ya?" Callista mengangguk, matanya tak lepas memandangi Anya yang berjalan menjauhinya menuju lantai dua.
Keningnya berkerut. Bukannya Anya bilang sedang akan mandi di lantai satu? Mengapa melanjutkannya di lantai dua?
Callista kontan menggeleng. Konyol sekali memikirkan hal sepele. Ia akhirnya memilih mengambil cemilan di dapur dan menunggu sang Kakak di ruang televisi.
***
Sesampainya di kamar mandi, Anya tak langsung membasuh diri. Wanita itu tengah berpikir keras.
Sejujurnya, melihat sikap Axton yang akhir-akhir ini begitu baik padanya membuat Anya ragu akan surat perjanjian yang mereka buat.
Meski Anya tak melihat tanda-tanda Axton membalas perasaannya, tetap saja Anya mengkhawatirkan, jika tiba-tiba Axton mengingkari perjanjian tersebut.
Ya, mau tak mau, ia harus membuat Axton kembali membencinya. Dengan begitu, semua akan berjalan sesuai perjanjian dan ia, tak akan merasa berat ketika tiba saatnya harus pergi meninggalkan Pria itu.
"Kita hidup berdua saja ya, Nak," ujar Anya seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Setengah jam kemudian Anya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
Ia baru saja hendak keluar kamar tatkala terdengar suara Axton dan Ian di lantai bawah.
Wanita itu terperanjat kemudian bergegas masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu. Jantungnya berdegup tak karuan. Perasaan takut datang menggulung-gulung benaknya.
__ADS_1
'Bagaimana ini?' batin Anya. Kedua tangan wanita itu sibuk memilin-milin ujung pakaiannya
Seolah teringat akan sesuatu, Anya segera melesat ke kamar mandi dan mengambil test pack yang hampir saja tertinggal di sana. Ia tak ingin ketahuan, tetapi ia juga tak ingin membuang alat tersebut.
Dengan gusar, Anya membuka lemari pakaiannya yang terpisah dengan Axton. Wanita itu kemudian mengambil sebuah koper kosong miliknya dan menyembunyikan test pack tersebut di sana. Axton tak akan mengetahuinya.
Setelah selesai mengembalikan koper tersebut ke tempatnya, Anya berjalan perlahan menuju pintu kamar. Ia harus bersikap biasa-biasa saja. Beruntung, selain kelelahan, ia belum merasakan tanda-tanda lainnya, jadi, tidak mungkin ada yang sadar akan kondisinya.
"Mbak, ayo makan, Kak X dan Mas Ian membeli banyak makanan," Callista melambaikan tangannya pada Anya yang tengah menuruni tangga.
Anya tersenyum. Kendati degup jantungnya terasa tak karuan, namun wanita itu berusaha bersikap senormal mungkin.
Anya tertegun melihat hamparan makanan yang tersaji di hadapannya. Ada berbagai macam jenis Sushi terhidang di sana.
Hanya Sushi.
"Mbak kenapa?" tanya Callista yang menyadari raut wajah Anya.
Ia tidak boleh memakan makanan mentah.
Axton menoleh ke arah Anya. "Aku tak tahu kau tidak menyukai Sushi."
"Tak apa, aku bisa makan makanan yang lain nanti." Anya duduk di sebelah Callista. Sesekali Callista berusaha membujuk Anya untuk ikut mencicipi makanan tersebut, namun Anya kukuh menolak.
Setelah selesai makan, Axton dan Ian mendiskusikan pekerjaan mereka di ruang makan, sementara Anya dan Callista mengobrol santai di ruang televisi. Gadis itu berhasil mengusir keduanya yang semula ingin tetap berada di sana.
"Bisa-bisanya mereka pulang lebih awal!" gerutu gadis itu. Rencananya untuk mengobrol banyak dengan Anya bubar seketika.
"Ah, bagaimana Mbak? Apa kata dokter?" tanya Callista dengan suara pelan. Ia sengaja memperbesar volume tv agar obrolan mereka tidak terdengar kemana-mana.
"Baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Anya menjawab santai.
"Syukurlah," Callista bernapas lega.
"Kalau ada apa-apa, tolong katakan saja padaku ya, Mbak? Papa, Mama tidak ada di sini. Kinanti dan Jagat pun jauh di Luar Kota. Hanya aku yang tahu mengenai kondisimu, jadi tolong, andalkan aku jika Mbak merasa kesakitan atau apapun," Callista memegang tangan Anya lembut. Gadis itu sangat menyayangi Kakak Iparnya. Bukan karena Anya telah mengorbankan salah satu hal penting bagi hidupnya untuk sang Kakak, Axton, melainkan karena sejak dulu Anya memang selalu menjadi sosok Kakak baginya.
Anya tersentuh. Wanita itu balas menggenggam hangat tangan Callista. Ingin rasanya ia menangis meraung-raung dan memberitahukan semuanya. Namun lagi-lagi, perkataan Ian tempo hari berputar-putar diingatannya. Itulah salah satu alasan utama Anya tetap ingin mengakhiri pernikahan mereka.
__ADS_1
Callista sedikit terkejut kala melihat setetes airmata jatuh di pipi Anya. "Mbak, menangis? Ada yang salahkah dari kata-kataku?" ujar Callista seketika panik. Gadis itu buru-buru mengambil selembar tisu yang letaknya tak jauh dari tempat duduk mereka.
Anya menggeleng. Alih-alih mengambil tisu yang diulurkan Callista, wanita itu justru menarik Adik Iparnya tersebut ke dalam pelukannya. "Terima kasih Callis, kau baik sekali," ucapnya tulus. Callista membalas pelukan Anya seerat mungkin.
Anya adalah gadis terbaik dan tersabar yang Callista kenal. Meski sikap Axton padanya dingin sejak dulu, tetapi tak sedikitpun membuat perasaan Anya berubah terhadap Axton. Malah, tanpa pikir panjang, dengan bodohnya wanita itu memutuskan memberi satu ginjal yang ia punya kala mendengar kondisi Axton selepas kembali ke Indonesia lima tahunan yang lalu.
Callista masih mengingat bagaimana wanita itu dulu menjerit dan menangis seraya memohon pada dokter agar mempercepat proses persetujuan. Sebab jika pendonor bukan berasal dari pihak keluarga, demi menghindari kecurigaan penjualan organ, mereka harus melalui banyak prosedur dan tahapan yang tidak mudah. Anya juga harus menyerahkan banyak dokumen guna membuktikan bahwa ia mendonorkan ginjalnya bukan karena uang.
Juga, bagaimana raut kebahagiaan Anya ketika dokter memberitahu, bahwa tubuh Axton tidak memberi penolakan pada ginjalnya. Dan airmata haru wanita itu saat melihat Axton dari balik kaca pintu yang tengah menitikan airmatanya, sebab dokter berkata, ia tak lagi harus menjalani cuci darah.
Ia juga masih mengingat betul kala Anya hanya dapat melihat Axton dari jauh, di hari kepulangannya selepas operasi. Callista kebetulan memergoki Anya yang tengah bersembunyi di balik dinding Rumah Sakit sembari menggenggam erat setangkai bunga Anyelir berwarna merah yang tidak dapat ia berikan. Bahkan ketika mobil mereka sudah berjalan keluar dari Rumah Sakit, Anya dengan tertatih-tatih, sempat berusaha mengejar mereka.
Kini, gadis itu berharap, sang Kakak dapat segera membalas perasaan tulus Anya.
Karena Anya berhak bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan:
Arti Bunga Anyelir Merah: aku tidak akan pernah melupakanmu. (di beberapa negara memiliki arti cinta yang mendalam, kekaguman atau juga persahabatan.)
(info berbagai sumber)
__ADS_1