
Maxim dan Theresa berpapasan dengan Axton di lobby Rumah Sakit, sementara Callista dan Ian jauh di belakang Axton. Mengejarnya.
"Pa," Axton berhenti tepat di depan sang Ayah. Matanya memandang Maxim penuh keteguhan.
"Aku sudah pulih, jadi aku akan pergi mencari An–"
Belum sempat Axton menyelesaikan perkataannya, Maxim sudah meninjunya terlebih dahulu. Beberapa pengunjung yang berada di sana kontan menjerit tertahan.
Theresa dan Callista terbelalak. Kedua tangan mereka reflek menutup mulut, sementara Ian mematung tak berani berkutik.
Axton tampak syok luar biasa. Dia tak menyangka akan mendapat perlakuan tidak terduga dari sang Ayah. Axton tahu betul, Maxim tidak pernah sekalipun main tangan pada istri dan anak-anaknya. Namun apa yang ia dapatkan sekarang? Axton bahkan dapat melihat kilat berbahaya yang terpancar dari kedua netra biru Ayahnya.
Maxim mengangkat tangannya lagi. Bersiap menghajar sang putra kembali, jika saja dokter Carlos tidak segera menahannya. Ia adalah sahabat baik Maxim sekaligus salah satu dokter pribadi keluarga Caldwell yang kebetulan sedang lewat di lobby.
"Max, ini tidak seperti dirimu," ujar dokter Carlos.
"Jangan ikut campur urusanku!" desis Maxim. Raut kemarahan tampak jelas di wajah tampan pria paruh baya tersebut.
"Aku tidak akan sudi ikut campur jika kau tak membuat keributan di rumah sakitku." Carlos menghempaskan cengkraman tangan Maxim dengan kasar.
"Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, namun Axton kini pasienku dan aku berhak melindungi keselamatan pasienku. Lagi pula, apa kau tak lihat sekelilingmu sekarang? Jika mereka menyadari wajah Axton, besok pagi berita ini akan menyebar kemana-mana." Kata dokter Carlos panjang lebar.
Dokter Carlos mengalihkan pandangannya pada Axton. "Kembali ke kamarmu. Ajak bicara keluargamu di sana kalau kau tak ingin menjadi pusat perhatian." Pria itu menepuk lengan Axton dan pundak Maxim lalu pergi meninggalkan mereka setelahnya.
...***...
Anya nyaris terhuyung jika tak langsung berpegangan pada lemari pajangan yang berada di ruang tamu. Wanita itu merasa sedikit pusing. Mungkin karena ia terlalu banyak pikiran dan lelah menyiapkan nasi box tadi pagi.
Tangan wanita itu meraba-raba bagian leher dan dahinya yang kini terasa panas. "Aku sebaiknya tidur saja," gumam Anya lemah.
Dengan langkah tertatih, dia berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Berharap, esok hari kondisinya sudah kembali pulih.
...***...
Axton terjatuh ke lantai dengan keras. Mimik wajahnya berubah horor kala melihat berkas dari Rumah Sakit tempat Anya biasa check up.
Anya hamil dan ... Axton reflek memegang perutnya, dimana terdapat luka bekas operasi hampir 6 tahun silam.
"Tubuhmu menerima ginjal baru dengan sangat baik. Kau sudah bisa pulang lusa nanti. Tapi ingat X, kau harus beristirahat di rumah kurang lebih enam minggu. Hindari pekerjaan berat dan makan makanan yang bergizi. Namun, untuk menekan potensi penolakan organ ginjal donor, saya akan memberikan obat imunosupresan." Axton mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dokter.
"Sekali lagi selamat ya, X, kau tak perlu lagi menjalani cuci darah." lanjut sang dokter.
Axton menitikan airmata haru. Akhirnya ia bisa hidup normal seperti orang-orang lainnya.
"Terima kasih, dok," ucap Axton lirih.
Dokter tersebut menggeleng, "Bukan saya yang harus diberikan ucapan terima kasih, tapi pendonormu, X."
Axton menganggukan kepalanya. Peraturan Rumah Sakit untuk merahasiakan identitas para pendonor membuat Axton tak dapat mengetahui siapa malaikat penyelamatnya.
Dokter hanya memberitahu, jika pendonor Axton adalah seorang wanita muda yang mengalami Brain Death.
Sejak saat itu, Axton berjanji tak akan melupakan kebaikan wanita tersebut. Dalam hati ia bersumpah akan menjaga keluarga si pendonor, jika Tuhan memperkenannya bertemu mereka kelak.
__ADS_1
Axton menjambak rambutnya frustasi. Ingatan masa lalu berseliweran memenuhi isi kepalanya.
"Dosa apa yang telah kau perbuat hingga membuat Anya pergi dari rumah dalam keadaan hamil? Papa yakin itu bukan hanya sekedar surat perjanjian!" Maxim menatap Axton bengis.
"Anya adalah gadis tertolol yang Papa kenal! Bagaimana bisa dia mencintai pria biadab tak berhati seperti dirimu!" Axton tak menanggapi perkataan Maxim.
"Dan Papa tidak akan membiarkan ketololan Anya terus-menerus. Mulai besok Papa yang urus surat perceraian kalian. Anya akan Papa kirim jauh darimu. Tidak akan kubiarkan kau melihat wajahnya lagi, begitu juga dengan wajah anakmu." Setelah berkata demikian, Maxim berbalik meninggalkan Axton.
Axton melotot tak percaya. Pria itu dengan sigap memegang kaki kanan sang Ayah dan memeluknya seerat mungkin.
"Jangan Pa, X mohon," Axton menghiba. Suaranya bergetar menahan tangis.
Maxim menatap dingin putra sulungnya. "Kau sendiri yang menginginkan perpisahan ini."
"Tidak Pa! Aku tidak akan menceraikan Anya sampai kapanpun!" sahut Axton tegas.
"Kenapa? Sejak awal kau tak menginginkan pernikahan ini. Keegoisan Papa membuat hidup seorang gadis baik-baik hancur berantakan." Wajah Maxim berubah sendu. Kendati wajahnya penuh dengan kemarahan, namun hati pria itu sebenarnya telah menangis. Berkali-kali ia merapalkan kata maaf pada mendiang sahabatnya karena telah menyakiti anak mereka.
"Aku tidak ingin berpisah dengannya, Pa," pinta Axton lirih.
Maxim tersenyum sinis, "karena merasa bersalah, sebab dia sudah memberikan setengah hidupnya untukmu, iya? Kau merasa punya hutang budi atas apa yang sudah dilakukan Anya, begitu?"
Axton menggeleng keras-keras.
"Lalu apa? Jika rasa bersalah yang menjadi alasanmu, lebih baik kalian tetap berpisah–"
"Aku mencintainya, Pa!"
"Aku mencintai Anya! Aku mencintai istriku!" Luruh sudah pertahan Axton selama ini. Pria itu menangis terisak-isak seraya memeluk kaki sang Ayah.
Tak tega melihat kondisi anak sulungnya, Theresa segera menghampiri dan memeluk erat pria itu. "Menangislah yang keras, Nak, menangislah jika itu dapat meringankan beban di pundakmu,"
...***...
Elang mengerutkan dahinya bingung. Pasalnya sudah nyaris dua jam ia mengawasi rumah Anya, tetapi tak ada tanda-tanda kehidupan dari sana. Lampu teras pun masih belum juga dimatikan, padahal kini jam sudah menunjukan pukul 9 pagi.
Semula Elang pikir, Anya sedang pergi ke pasar atau agen untuk berbelanja. Namun nyatanya, sampai saat ini dia belum juga terlihat. Biasanya, jika Anya berbelanja pagi, pukul 8 dia sudah sampai di rumah dan akan membuka lapak dagangannya tepat pukul 9. Hampir setiap hari mengawasi, membuat pria itu hafal jadwal Anya di rumah.
Elang reflek menunduk ketika Bu Ida datang ke rumah Anya dan mengetuk pintu rumahnya.
Selama beberapa saat menunggu Anya tak juga kunjung merespon. Bu Ida lalu mengeluarkan kunci rumah cadangan yang ia miliki. Wanita paruh baya itu membuka pintu rumah Anya dan masuk ke dalam.
Tak berapa lama, terdengar suara jeritan Bu Ida dari dalam rumah tersebut. Beberapa tetangga berhamburan keluar begitu pula dengan Elang. Pria itu berlari menuju rumah Anya.
Pria itu terperanjat tatkala mendapati Anya tidak sadarkan diri di lantai kamarnya. Darah terlihat merembes keluar dari paha wanita itu.
Elang reflek membopong Anya dan membawanya ke mobil. Dengan Bu Ida, mereka menuju ke Rumah Sakit terdekat.
Elang berteriak sembari berlarian bak orang gila di ruang UGD. Seorang perawat yang melihat menyuruh Elang meletakan Anya di salah satu bilik perawatan.
"Nama Ibunya siapa, Pak?" tanya perawat tersebut.
"Savanna, ahh ... Anya, panggil Anya." Jawab Elang.
__ADS_1
Perawat tersebut menepuk-nepuk pipi Anya seraya memanggil-manggil namanya, "Ibu Anya, Bu, bisa dengar saya?"
"Silahkan tunggu di luar dulu ya, Pak," perawat lain datang menghampiri Elang. Mendorong halus pria itu agar menjauh dari bilik perawatan.
Mau tak mau, Elang harus duduk di ruang tunggu bersama Bu Ida. Wajah pria itu tampak pucat pasi.
"Ibu sudah mengabari kedua adik Anya, mereka akan segera kemari." Bu Ida tak peduli Elang mendengarnya atau tidak. Ia juga tak peduli bagaimana Elang bisa muncul di sana tiba-tiba. Yang menjadi fokusnya kini hanya keselamatan Anya dan bayinya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
"Wali Ibu Savanna?"
"Saya." Elang berdiri dari posisi duduknya, diikuti Bu Ida.
"Anda suaminya?" tanya sang dokter.
"Saya Kakaknya." Jawab Elang tanpa pikir panjang.
Bu Ida terperangah mendengar jawaban Elang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
Imunosupresan merupakan obat yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh, sehingga sistem kekebalan tubuh tidak menyerang organ ginjal donor yang dapat dianggapnya sebagai benda asing.
__ADS_1