Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Axton mengambil segalanya.


__ADS_3

"Halo, Anya, aku Theresa dan ini Maxim. Salam kenal gadis manis," ujar seorang wanita muda cantik jelita pada gadis kecil yang tengah menyembunyikan diri dibalik punggung sang Ayah. Mata gadis itu menatap takut-takut pada seorang anak laki-laki yang berdiri angkuh, melipat kedua tangannya sembari membuang muka di sebelah wanita tersebut.


Wanita itu masih setia bersimpuh guna menyamakan tinggi badannya dengan si gadis. Tangannya melambai-lambai, memanggil si gadis yang mulai memerlihatkan diri.


"Sini, nak," panggil Theresa sekali lagi.


Anya, gadis berusia 6 tahun itu dengan malu-malu melangkah mendekati mereka.


"Ini anak-anak Aunty dan Uncle. Ada Callista yang usianya terpaut satu tahun di bawahmu dan Axton, yang usianya dua tahun di atasmu."


Dengan antusias, Callista mengambil tangan Anya terlebih dahulu dan menjabatnya, "Semoga kita bisa berteman dengan baik ya, Kak," suara cempreng gadis itu membuat Anya terkikik kecil.


Theresa menyenggol lengan Axton dan sedikit memelototinya, sebab bersikap tak sopan pada keluarga teman Ayahnya.


Axton berdehem lalu mengulurkan tangannya di depan Anya, "X," ucapnya singkat. Anya memiringkan kepalanya, tak mengerti apa maksud perkataan Axton.


Theresa tertawa, "Itu nama panggilan Axton, Anya."


Anya bergumam 'oh' sebelum akhirnya menerima jabatan tangan Axton. Pipi gadis itu seketika berubah merah. Mata gadis itu tak lepas memandangi tangannya yang terasa hangat digenggaman tangan Axton.


***


"Callista, jangan lari jauh-jauh, aku lelah!" teriak Anya sembari mengatur napasnya. Gadis berusia 8 tahun itu tak habis pikir, bagaimana Callista bisa memiliki banyak sekali energi yang sepertinya tak akan pernah habis.


Anya membelalakan matanya ketika dari kejauhan ia dapat melihat Callista mulai memanjat sebuah pohon ceri besar yang ada di sana. Gadis itu menoleh kearah kedua orangtuanya yang tengah asik mengobrol dengan kedua orangtua Axton dan Callista.


Sebelum mereka melihat, sebaiknya Anya harus menyuruh Callista turun dari sana. Ia tak ingin mereka dimarahi lagi akibat kelakuan ajaib gadis enerjik itu.


Setelah dirasa cukup beristirahat, Anya kembali berlari, menghampiri Callista yang tengah duduk santai di salah satu dahan pohon berukuran besar.


"Callis, turun! Jika Papa dan Mamamu lihat, kita akan dimarahi lagi!" seru Anya jengkel.


"Nanti dulu. Ayo, Kak, naik kesini dulu, pemandangan dari sini indah loh," Callista sama sekali tak mengindahkan perkataan Anya.


"Tidak mau, aku takut jatuh!" tolak Anya tegas seraya melipat kedua tangannya. "Ayo, cepat turun!"


Callista memajukan bibirnya, seakan pura-pura tak mendengar, gadis itu memetik sebuah ceri lagi dan mulai memakannya. "Heeemm, manisnyaa," ujar Callista seraya melirik-lirik ke bawah.


Anya mengatupkan bibirnya, matanya tak berpaling pada ceri merah merona yang berada di tangan Callista.


Melihat Anya tampak menginginkan ceri tersebut, Callista mencoba merayu lagi, "Pohon ini pendek, Kak, ga akan jatuh. Ayo, naik dulu sini,"


Setelah beberapa kali dirayu Anya akhirnya menyerah, ia mulai ikut naik ke atas pohon, menyusul Callista.


Gadis yang tidak pernah sekalipun menaiki pohon itu terlihat sangat canggung. Kakinya dengan hati-hati berpijak pada dahan yang ia rasa kokoh sebelum tanpa sadar kakinya memijak salah satu dahan yang sudah hampir patah.


Krak!


"Aakh!"


"Kak Anyaaaa!"


Anya menutup matanya, bersiap-siap jika tubuhnya terjerembab ke atas tanah. Walau pendek tapi bagi anak seusia mereka tetaplah berbahaya.

__ADS_1


Duuggh!


"Auu!"


Gadis itu membuka sebelah matanya sesaat setelah mendarat di atas tanah.


Eh, bukan! rasanya ini tidak seperti tanah berumput.


"Kau ... berat!" Axton yang berada di bawah tubuh Anya berkata ketus. Menyadari hal tersebut Anya segera bangkit dan meminta maaf.


Callista yang melihat kejadian tersebut segera turun dari pohon. "Ya Tuhan, Kakak tak apa-apa, kan?" tanya Callista khawatir.


Axton menghentikan kegiatan membersihkan pakaiannya yang kotor lalu mencibir, "Yang harusnya kau khawatirkan itu aku!"


Callista tak menghiraukan Axton, gadis itu sibuk melihat tubuh Anya, memastikan bahwa tak ada yang terluka.


Axton menatap sang adik jengkel. Jika bukan karenanya, Callista pasti lagi-lagi akan kena marah kedua orangtuanya sebab sudah mengajari hal-hal tak biasa pada Anya. Axton tahu betul bagaimana tingkah Callista yang kelewat enerjik, oleh sebab itu, ia sedari tadi mengawasi keduanya dari jauh.


"Kak X," panggil Anya pada Axton yang berjalan di depannya.


Axton berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, "Hm,"


Dengan wajah tertunduk, Anya menggumamkan kata terima kasih karena telah menyelamatkannya.


"Aa." Jawab Axton singkat lalu kembali memandang ke depan. Anya masih tertunduk ketika tiba-tiba tangan Axton mengambil tangannya dan mengajak gadis itu berlari menyusul Callista yang sudah duduk bersama orangtua mereka sembari memakan sandwich buatan sang ibu.


"Jangan lelet!" meski nadanya ketus, Anya tetap merasa senang. Disepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap tangannya yang tengah digandeng Axton.


***


Anya bilang, itu adalah surat perpisahan yang ia tulis semalaman. Gadis itu juga memberikan sebuah kotak berwarna merah yang entah apa isinya.


Besok lusa adalah keberangkatan Axton dan keluarganya ke Inggris. Mereka akan tinggal disana sementara waktu. Maxim, sang Ayah, setelah bangkit dari ancaman kebangkrutan mencoba melebarkan usahanya dengan membuka kantor di sana atas saran Sigit, Ayah Anya.


Axton sebenarnya tidak ingin meninggalkan tanah air, namun ia tak mau jika harus tinggal dengan adik sang ayah yang akan memegang kendali perusahaan di sini. Jadi mau tak mau, ia ikut serta pindah.


Anya masih setia mengulurkan kedua benda tersebut. Hampir semalaman suntuk gadis itu menulis sepucuk surat perpisahan untuk Axton. Ia tak ingin surat yang ditulisnya dengan penuh perjuangan tak sampai di tangan Axton.


Axton menerima surat dan kotak tersebut lalu memasukannya ke dalam tas. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu pergi meninggalkan Anya yang terpaku menatapnya.


Anya tidak pernah tersinggung dengan sikap Axton, bertahun-tahun mengenalnya, membuat gadis itu paham bagaimana perangai Axton padanya.


Itulah yang membuatnya sempat ragu, apakah harus memberikan surat tersebut pada Axton. Butuh keberanian besar bagi Anya dan dia berharap, Axton sudi membaca dan menerima kado perpisahan darinya.


***


Anya memeluk Theresa seraya menangis tersedu-sedu. Gadis itu meminta Theresa untuk tinggal disini alih-alih ikut dengan keluarganya ke Inggris.


Axton tahu, Anya memang sangat menyayangi ibunya. Dia bahkan pernah berkata bahwa ia ingin menukar ibu mereka, maka tak heran perpisahan kali ini benar-benar mengguncang gadis itu.


Theresa kembali memeluk Anya dan berbisik lembut. Anya menganggukan kepalanya beberapa kali seraya menggenggam erat benda yang diberikan wanita cantik itu.


Gadis berusia belasan tahun itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Axton. Ia lalu menghampiri Axton dan mengulurkan tangannya. "Selamat jalan, Kak, semoga hidupmu bahagia selalu," ujarnya tulus.

__ADS_1


Axton menerima jabatan tangan Anya.


Kling!


Suara sebuah gelang terdengar kala mereka berjabatan tangan.


Anya tersenyum mendapati Axton memakai gelang pemberiannya. Tak ingin terlihat salah tingkah, Axton buru-buru melepas tautan tangan mereka dan berjalan menjauh.


"Kak X!" Axton dapat mendengar teriakan Anya. Gadis itu melambaikan tangannya dengan semangat. Sekuat tenaga Axton menahan bibirnya agar tidak tersenyum.


"Kaaak!" Ia masih bisa mendengar jelas teriakan Anya.


"Kaaak!"


"Kakak biadab!" Axton menghentikan langkahnya.


"Kau biadab karena telah menghancurkan hidupku!"


Axton membelalak mendapati Anya tersenyum bengis seraya memegang sebuah pisau di tangannya.


"Kau ... sudah menghancurkan segalanya!" dengan cepat gadis itu mengiris nadinya hingga darah menyembur deras dan mengenai wajah Axton.


"HAH!" Axton bangun dari tidurnya. Keringat nampak membasahi tubuh pria itu.


Ternyata ia sedang memimpikan masa lalunya, yang entah mengapa bercampur dengan sesuatu yang mengerikan.


Pria itu meraba tubuhnya yang tidak berpakaian. Jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika melihat seorang gadis yang baru saja ia mimpikan tertidur di sebelahnya tanpa sehelai benangpun.


Matanya berkeliling, pecahan gelas terlihat dimana-mana dan juga, ada beberapa pakaian teronggok tak berdaya di lantai.


Sekelebat ingatan soal tadi malam bergentayangan di otaknya. Wajahnya pucat pasi setelah mendapati ada bercak darah tercetak jelas di ranjangnya.


"Berapa kali kau sudah memberikan tubuhmu padanya, hah?"


Dia ingat kata-kata itu.


"Jangan bohong kau, gadis jal***!"


"Ahh, aku tahu, jangan-jangan kau sudah memberikan tubuhmu pada pria itu sejak kau sekolah, iya kan?"


Axton menutup wajahnya, frustasi. Matanya menoleh takut-takut pada Anya yang masih tertidur. Ia tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Anya ketika bangun nanti.


Axton benar-benar tidak menyangka rasa amarahnya membuat dia berbuat sebejat ini.


Rasa bersalah melekat kuat pada diri Axton, apa lagi mengetahui gadis itu ternyata tidak berbohong. Ia masihlah seorang gadis sampai Axton dengan biadab merenggutnya semalam.


Dia ingin sekali menghajar dirinya sendiri.


Axton tersentak, kala Anya membuka mata dan menggerakan tubuhnya. Gadis itu mengaduh kesakitan saat mencoba bangun dan duduk dari tidurnya.


Menyadari keadaannya, mata gadis itu membola seketika. Tangannya yang bergetar hebat mencengkram selimut yang menutupi separuh tubuh polosnya.


Sejurus kemudian, Anya berteriak bak orang kesetanan. Teriakannya semakin menjadi ketika melihat bercak darah yang ada di ranjang.

__ADS_1


Axton telah merenggut kehormatannya.


__ADS_2