Cinta Anya Untuk X

Cinta Anya Untuk X
Pertemuan Axton dan Anya (4) (Axton kembali ke Jakarta.)


__ADS_3

Maxim, Theresa dan Callista memutuskan menginap di Hotel yang sama dengan Axton.


"Maafkan Mama," Theresa menangis terisak-isak di pelukan Axton.


Axton bergeming. Ia tak berniat menanggapi permintaan maaf Theresa. Pikiran pria itu sibuk melayang pada sosok Anya dan keluarganya.


Keluarga Anya begitu baik pada keluarga mereka sejak dulu. Definisi sahabat sejati benar-benar di pegang teguh oleh Sigit, sahabat sang Ayah sekaligus Mertuanya kini. Namun, apa yang keluarganya balas selain hanya membawa kesengsaraan pada Anya? Dan Axton merasa sangat malu. Ia tak memiliki muka lagi jika berhadapan dengannya.


Benar apa Kinanti. Mungkin ia harus pergi dari kehidupan Anya, agar wanita itu bisa merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya. Toh sejak awal, mereka memang seharusnya tidak pernah bersama.


Memikirkan itu membuat dada Axton terasa sesak.


Ia mencintai Anya. Ia mencintai anaknya. Keegoisan membuat pria itu bersikeras menahan Anya tetap di sampingnya, tanpa peduli semua itu hanya akan membuat Anya semakin tersiksa. Terlebih, jika mengingat reaksi Anya yang tidak sudi bertemu dengannya. Sudah dapat dipastikan ia tak lagi memiliki perasaan terhadapnya.


Ya, sangat mudah bagi Anya menghilangkan perasaannya, mengingat sikap Axton selama ini.


Menyadari fakta tersebut, Axton lantas tertawa.


Pria itu tertawa sekeras yang ia bisa.


Theresa melepas pelukannya. Memandangi Axton yang tiba-tiba tertawa bak orang gila. "Kenapa X?" tanya Theresa kebingungan. Maxim, Callista dan Ian pun menghampiri mereka.


"Ada apa Kak?" tanya Callista. Ia menyentuh lembut lengan Axton. Lelehan airmata langsung keluar membasahi pipi pria itu.


Callista menangis ketakutan. Dia takut Kakaknya tiba-tiba berubah tak waras. Gadis itu memeluk Axton erat. Mereka jatuh terduduk ke lantai bersama. Detik itulah, Axton langsung membenamkan wajahnya di pundak sang adik.


"S–sakit sekali," desahnya terbata.


"Aku tahu. Aku tahu."


...***...


Tiga hari kemudian.


Sudah hampir dua jam Ian dan Axton berdiam diri di dalam mobil sewaannya. Mereka tak lagi mengamati Anya secara sembunyi-sembunyi. Mobilnya di parkir persis di seberang rumah Anya.


"Nan, itu mobil siapa? Sejak tadi parkir di depan rumah Pak Rama, seberang kita." Anya baru saja mengintip dari jendela kamarnya. Wanita itu risih mendapati mobil tersebut terparkir sembarangan tanpa ijin dalam waktu yang lama.


Mobil itu tak mungkin tamu Pak Rama, tetangganya, sebab keluarga Pak Rama tengah pergi menjenguk Ibunya di Kota B.


Kinanti ikut mengintip. "Biarkan saja, Kak. Cuma menumpang parkir sepertinya." Jawab gadis itu asal.


"Sepertinya terlihat mencurigakan. Apa Mbak telepon Mas Elang saja ya?" tanya Anya.


"Tidak perlu. Nanti juga pergi sendiri."


*


"10 menit lagi." Batin Axton. Jika sepuluh menit lagi Anya tak kunjung terlihat, mereka akan pergi dari sana. Pria itu akan kembali ke Jakarta dua jam lagi, dan ia ingin melihat Anya untuk terakhir kalinya.


Kinanti keluar dari rumah dan menghampiri mereka. Tak perlu menelaah lebih jauh, ia sudah tahu siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


Ian membuka kaca jendela bagian Axton.


"Percuma menunggu di sini sampai berhari-hari. Mbak Anya tidak akan keluar. Ia sedang istirahat." Kata Kinanti ketus. Gadis itu memandang Axton dingin sebelum berbalik pergi.


Tepat di langkah kelima, ia menoleh ke belakang. "Tidak mau turun?" tanyanya sinis.


Axton mengangkat alisnya.


"Ya sudah." Kinanti melangkah cuek meninggalkan Kakak Iparnya menuju ke rumahnya kembali.


Seperti mendapat lampu hijau, Axton segera turun dari mobil. Pria itu menyusul Kinanti. Kinanti hanya mengijinkan Axton masuk sampai di depan halaman rumah.

__ADS_1


"Mbak Anya ada di kamar depan." Kinanti melirik jendela kamar yang terlihat dari sana. Setelah itu ia meninggalkan Axton dan masuk ke dalam. Mengunci pintu rapat-rapat.


Axton berjalan menuju jendela kamar Anya. Sembari bersandar, ia mengetuk pelan jendela kamar tersebut.


Anya yang sedang duduk di tepi ranjang, persis sebelah jendela, kontan menoleh ke sana. Wanita itu mengernyit, menatap seseorang yang tengah bersandar membelakangi jendela kamarnya.


Jantungnya berdegum tatkala mengetahui itu adalah Axton.


"Anya," panggil Axton lembut.


Tangan Anya mendadak gemetar.


"Aku baru menyadarinya. Selama ini aku tak pernah memanggil namamu dengan benar." Axton mengawali pembicaraan.


"Aku tahu, aku tak pantas mendapat pengampunan darimu dan aku tidak akan mengharapkan hal itu. Aku akan membawa segala penyesalan dan rasa bersalah ini seumur hidup sebagai penebusan dosaku padamu."


Axton terdiam sejenak.


"Anya,"


"Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk setengah nyawa yang kau berikan padaku. Terima kasih untuk setiap perasaan yang kau curahkan padaku, meski aku hanya bisa membalasmu dengan airmata."


"Kekejamanku telah menorehkan banyak luka di hatimu. Aku sadar, bersamaku hanya akan membawamu pada penderitaan yang lebih dalam. Aku minta maaf."


"Dan maafkan aku karena terlambat menyadari, bahwa dicintai olehmu membuat diriku merasa berharga."


Mata Anya berkaca-kaca. Jari-jarinya terangkat, mengelus punggung Axton dari balik jendela.


"Anya,"


"Jangan katakan!" batin Anya panik. Anya takut tak akan bisa menahan diri untuk berlari menghampiri Axton jika mendengar kata-kata selanjutnya.


"Aku–"


"– sangat mencintaimu,"


Tangis Anya pecah detik itu juga. Ia membekap mulutnya sendiri agar Axton tidak mendengar isak tangisnya.


Axton menegakan tubuhnya dan melangkah pergi.


Anya beranjak dari tempat tidur. Meski kakinya belum sanggup melangkah cepat, ia tetap berusaha mengejar Axton.


Wanita itu sempat kesulitan membuka kunci pintu karena tangannya tak mau berhenti gemetar. Tepat saat ia akhirnya berhasil membuka pintu rumah, mobil Axton telah pergi.


Anya terduduk di lantai. Memandang kosong ke seberang rumah, tempat Axton memarkirkan mobilnya tadi.


Kinanti memandang Anya sendu. Gadis itu rupanya tengah memerhatikan mereka sedari tadi.


Dari luar, Jagat berlari masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia sedang mengerjakan tugas kuliah bersama Bimo di rumah Bu Ida.


"Mbak, ayo!" pekik si bungsu. Napasnya sedikit tersendat.


"Ayo, ke mana?" tanya Kinanti terkejut.


Jagat mengeluarkan ponselnya buru-buru. Ia menunjukan pesan yang dikirim dari Axton. Pria itu akan kembali ke Jakarta pukul 11 nanti.


"Masih ada waktu, ayo," ajak Jagat tak sabaran. Anya bergeming. Otaknya tengah mencerna isi pesan Axton dan kata-kata Jagat.


Jagat menoleh pada Kinanti, meminta persetujuan Kakak kembarnya itu.


Ia tahu, Kinanti tidak akan begitu saja merestui kebersamaan Anya dan Axton, terlebih ketika mengetahui fakta perihal kematian Ibu mereka. Namun, mereka juga tak boleh egois. Anya dan anaknya butuh Axton.


Kinanti memegang kedua bahu Anya. "Ayo, Mbak," ucapnya sembari tersenyum. Mendengar ucapan Kinanti, raut wajah Jagat berubah sumringah. Pria muda itu langsung menyuruh mereka bersiap sementara ia meminjam mobil Bu Ida.

__ADS_1


Sebelum berangkat Anya menelepon Elang. Axtin ternyata sudah memberitahu Elang terlebih dahulu soal kepulangannya.


"Aku tak punya hak untuk melarangmu." Jawab Elang tatkala Anya berkata akan pergi menyusul Axton. "Hati-hati." pesan Elang.


"Mmm." Gumam Anya terharu. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada sang Kakak sebelum menutup teleponnya.


Mereka bertiga kemudian bergegas pergi.


...***...


"Kau tak ingin membatalkan kepulanganmu? Padahal cuti yang kau ajukan baru selesai di urus." tanya Ian. Dia memang sempat kembali ke Jakarta untuk mengurus cuti Axton pada Star-sky dan baru datang lagi semalam.


"Hmm." Gumam Axton tanpa mengalihkan pandangannya.


"Lalu untuk apa kau cuti penuh selama setahun jika kembali ke Jakarta? Kupikir kau akan tinggal di sini untuk mengawasi Anya."


"Aku akan membantu Callista di Kantor." Jawab Axton singkat. "Aku juga akan pindah dari apartemen. Aku akan membuang semua kenangan yang berhubungan dengan Anya."


Ian menoleh sekilas ke arah Axton. "Hanya segitu perjuanganmu?" ejeknya.


"Aku tak boleh egois."


"Cih! Perkataanmu soal membawa Anya apapun yang terjadi rupanya hanya sekedar omong besar belaka."


"Jangan coba memancingku." Kata Axton dingin.


"Aku tidak memancingmu. Aku mengatakan hal sebenarnya. Kau terlalu besar mulut me–"


Axton mengambil kerah pakaian Ian, tak peduli jika sahabatnya itu tengah menyetir. Ian tersenyum sinis. Ia memang sedang memancing kemarahan Axton. Dengan begitu, ia harap Axton dapat berubah pikiran dan melanjutkan perjuangannya. Mereka saling mencintai, jadi mengapa harus saling menderita?


"Kau!" desis Axton. Ian mencengkram tangan Axton berusaha melepaskan diri sembari menoleh ke depan sesekali. Ian harus menepikan mobilnya terlebih dahulu.


"Tunggu X, kita se–"


BRAAAAK!


*


Drrt.. Drrt..


Ponsel Jagat bergetar. "Mbak, tolong angkat." Pria muda itu meminta tolong Kinanti yang duduk di sebelahnya.


"Tak ada namanya." Terang Kinanti saat melihat layar ponsel Jagat.


"Angkat saja, takut dari pihak Kampus."


Kinanti mengangkat telepon Jagat.


"Selamat siang, Mas, apa benar ini dengan keluarga Bapak Axton?" Kinanti reflek menoleh ke arah Jagat.


"Siapa?" Kinanti tidak menjawab pertanyaan adik kembarnya.


"Ya benar."


"Maaf ini dengan siapanya Bapak Axton?" tanya si penelepon.


"Saya adiknya." Anya sontak menoleh ketika mendengar perkataan Kinanti.


"Begini Mbak, kami dari pihak Kepolisian. Kakak anda terlibat kecelakaan lalu lintas dan sekarang tengah berada di Rumah Sakit J."


Kinanti terperanjat. Ia menoleh takut-takut ke arah Anya yang sedang memerhatikannya.


"Kenapa, Nan?"

__ADS_1


__ADS_2