
"Pulanglah, ini sudah tengah malam. Mau sampai kapan kau bersamaku terus, hah?" ujar Ian lantang, pada Axton yang sekarang sedang mabuk berat. Suara musik yang menghentak-hentak memekakan telinga, membuat Ian harus berteriak-teriak saat berbicara dengan sahabatnya tersebut.
Sudah seharian ini Axton menumpang di rumahnya dan bersikeras tidak ingin pulang. Ian tahu apa yang sedang terjadi antara Axton, Anya dan pria bernama Daffa itu. Kendati tidak menceritakannya secara lengkap, Ian dapat menangkap pointnya. Pria itu mengerti kemarahan Axton, namun juga memahami apa yang dialami Anya.
Ia yang tidak mau gegabah membela Axton terang-terangan, memilih tak berkomentar apapun. Pria itu hanya menyuruh Axton untuk pulang ke rumah dan menemui Anya.
"Pria brengsek! Lancang sekali mulut kotornya!" umpat Axton yang masih mengingat jelas perkataan Daffa perihal akan membawa Anya pergi darinya.
"Jika saatnya lepaspun, aku tidak akan memberikannya padamu, brengsek!" umpatnya sekali lagi, sembari menenggak habis minuman beralkohol yang sudah tidak terhitung jumlahnya.
"Cukup!" Ian segera menghadang Axton, ketika sahabatnya itu meminta segelas minuman lagi pada bartender. Pria itu dengan sigap membopong Axton keluar dari bar untuk mengantarnya pulang.
...***...
Anya yang sudah menunggu kedatangan mereka, setelah mendapat telepon dari Ian, langsung berlari kecil menghampiri keduanya yang baru masuk ke dalam rumah.
"Biar aku saja," Anya menawarkan diri membopong Axton.
"Tidak, biar aku saja yang mengantarnya sampai kamar." Tolak Ian. Pria itu membenahi posisi tangan Axton yang hampir jatuh dari pundaknya, sebelum kembali berjalan menuju lantai dua.
Anya mengikuti dari belakang sembari membawa nampan berisi segelas teh hangat.
Setelah membaringkan Axton di ranjang, Ian berdiri di samping Anya yang tengah memerhatikan Axton. "Biarkan dia istirahat," katanya seraya berkacak pinggang.
Anya mengangguk, "Terima kasih, Ian. Maaf, selalu merepotkanmu,"
Ian tersenyum ramah. Ia memegang pundak Anya, "Dia sahabatku, jadi sudah seharusnya aku selalu ada di sisinya."
Hening menyelimuti mereka sejenak. Ian nampak sedang menimbang-nimbang sesuatu.
Dia menghela napasnya sebelum kembali membuka bersuara, "Anya, kau tahu mengapa X meminta pernikahan ini hanya dijalani selama satu tahun?" tanyanya tiba-tiba.
Anya menggeleng. Ia memang tidak memikirkan alasan Axton, mengapa usia pernikahan mereka hanya berlangsung selama setahun saja.
"Karena dia memiliki target akhir tahun ini."
Anya menoleh, menatap penasaran pria yang menjadi Manajer sekaligus sahabat Suaminya itu.
"Akhir tahun ini, X akan terbang ke Paris dan menetap di sana untuk mengembangkan karirnya bersama Hana."
__ADS_1
Anya tersentak.
"Sebenarnya ini adalah impian X sejak lama. Namun ketika Tuan Maxim mengetahui rencana X, beliau yang tidak merestui hubungannya dengan Hana malah secara tiba-tiba merancang sebuah pernikahan denganmu. Itulah mengapa X begitu membenci pernikahan ini."
Anya menutup mulutnya. Entah mengapa perasaan bersalah mulai merayapi relung hatinya.
"Mungkin rasanya sangat tidak pantas jika aku meminta pengertianmu atas sifat X, sementara kau selalu menerima perlakuan kasarnya," ujar Ian, menatap Anya serius. "dan ... dari pada aku, kau lah yang lebih mengetahui bagaimana X. Jadi aku harap kau bisa bertahan sedikit lagi. Setelah kontrak ini habis, kau bisa bebas terbang menjelajahi kehidupan yang kau inginkan di luar sana."
Anya tidak berkata apa-apa. Gadis itu menitikan air mata seraya menatap Axton yang terlihat gelisah dalam tidurnya.
Ian kembali menepuk pundak Anya, "Jangan memikirkan hal ini dan jangan menganggap semua ini salahmu. Pernikahan kalian terjadi, juga atas persetujuan Axton."
Setelah berkata demikian, Ian pamit pulang pada Anya. Besok ia akan kembali lagi ke sini untuk menjemput Axton.
Setelah mengantar Ian sampai ke depan pintu, Anya kembali ke atas. Dia terkejut mendapati Axton sudah duduk di tepi ranjang sembari menunduk. Pria itu terlihat kesakitan, sebab ia mencengkram kuat kepalanya. Sebuah kemeja tergeletak sembarang di lantai.
Anya segera mengambil secangkir teh hangat yang semula ia letakan di atas nakas. "Minum dulu, Kak," ucapnya sambil menyodorkan cangkir tersebut.
Axton mendongak, menatap Anya sejenak sebelum menepis cangkir itu hingga pecah berhamburan di lantai.
Tanpa disuruh, Anya bergegas memunguti pecahan-pecahan cangkir tersebut satu persatu.
"Kau," Axton menatap bengis gadis itu.
Anya menghentikan kegiatannya. "Maaf?" dahinya berkerut, nampak tidak memahami maksud pertanyaan Axton.
Axton tersenyum kecil lalu menghampiri Anya dan berjongkok di hadapannya. "Boleh kutebak?"
Pria itu menelusuri tubuh Anya dengan matanya, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Membuat Anya seketika risih sekaligus malu.
"Berapa kali kau sudah memberikan tubuhmu padanya, hah?" Axton mempertegas pertanyaannya.
Anya menggenggam pecahan cangkir yang ia kumpulkan tadi dengan tangan gemetar. Matanya diliputi kemarahan.
Axton sudah kelewatan menghinanya.
"Aku tidak serendah itu." Jawab Anya penuh penekanan.
Axton tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, mana mungkin! Kau sudah sering bertemu dengannya di luar bukan? Di hotel mana kalian bermain?"
__ADS_1
Anya berdiri, lebih baik dia pergi dari sana, sebab memulai pertengkaran dengan orang mabuk adalah hal yang sia-sia. Tetapi Axton tidak membiarkannya pergi. Dengan kasar ia menahan lengan Anya hingga pecahan cangkir itu kembali berhamburan.
"Jangan bohong kau, gadis jal***!" hina pria itu.
"Aku tahu, aku sangat tahu ... kau sudah memberikan tubuhmu pada pria itu sejak masih sekolah, iya kan?"
Anya terpancing emosi. Ia benar-benar merasa tersinggung, terlebih dari kata-katanya, Axton berarti sudah tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih di masa lalu. Pria itu pasti telah mencari informasi tentang mereka berdua.
Jika memang demikian, lantas mengapa ia tak mencari tahu kapan Anya bertemu dengan Daffa lagi selain hanya kemarin lusa?
"Aku tidak sebejat dirimu, yang masih bisa meniduri kekasihnya saat sang Istri sedang di rumah!"
Telak! Anya mengeluarkan kata-kata yang selama ini dia pendam. Gadis itu sebenarnya juga tak menyangka akan seberani itu berkata demikian.
Axton membelalakan matanya. Pria itu menunduk sejenak sebelum menatap Anya kembali.
"Ha– Hahahahaha!" tawa bengis keluar dari bibir Axton.
"Bejat kau bilang?" pria itu merapatkan tubuhnya pada Anya. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Anya. Gadis itu dapat merasakan hembusan napas Axton yang dipenuhi alkohol. "Ya, aku memang pria bejat ... akan aku buktikan sebejat apa diriku!"
Dengan beringas Axton melempar tubuh Anya ke ranjang mulai dan merobek pakaian gadis itu. Anya terkejut, ia mencoba menghentikan tindakan gila Axton. Gadis itu berteriak-teriak histeris meminta Axton berhenti.
"Berteriaklah sekeras mungkin. Kau tahu betul, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu itu." Axton menatap nyalang Anya yang menangis sesenggukan. Kedua tangannya yang ia gunakan untuk memukul Axton terasa sia-sia. Tenaga pria itu berkali-kali lipat lebih kuat darinya.
Axton mencium paksa bibir Anya, menyapu seluruh isi mulut Anya dengan lidahnya, sementara tangan satunya sibuk membuka simpul tali blouse Anya.
Anya bisa merasakan sisa-sisa alkohol masuk ke dalam mulutnya. Gadis itu memberontak sekuat tenaga ketika menyadari tangan Axton sudah merambat ke dadanya. Pria itu juga berusaha membuka kaitan celananya. Anya menendang-nendang udara. Ia harus melarikan diri.
Puas menjelajahi bibir Anya, Axton kemudian menyusuri lehernya. Dengan kasar ia menggigit leher dan telinga Anya, hingga Anya berteriak kesakitan. Tak peduli pada rasa anyir yang ia cecap, Axton terus menciumi Anya seraya memberi tanda pada tulang selangka gadis itu. Tangannya pun sibuk meremas setiap bagian tubuh Anya dengan kekuatan penuh.
BUAAGGH!
Anya berhasil menendang Axton, saat pria itu berhenti sejenak untuk mengambil oksigen.
Anya segera merangkak turun dari ranjang. Dia hampir saja berhasil turun dari sana, jika saja Axton tidak dengan cepat menarik kakinya dan menjambak rambut gadis itu, lalu melemparnya kembali di ranjang.
DUUUAGH!
Kepala Anya membentur dipan ranjang. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, kendati rasa pusing datang dan mulai mengaburkan pandangannya.
__ADS_1
"Siapapun, tolong aku," batin Anya.
Tubuhnya melemah seiring pandangannya yang mulai menggelap.