
Hari ini Anya dan Bi Rahmi bersiap untuk berbelanja bahan makanan. Seperti biasa, setiap minggu mereka akan berbelanja bahan makanan yang telah habis.
"Aku saja antar. Bi Rahmi istirahat saja di rumah," Axton menyusul keduanya yang sudah berada di ambang pintu depan. Pria itu telah berpakaian lengkap, tak lupa dengan topi dan masker hitamnya.
"Tak perlu, aku hanya sebentar," Anya menolak tawaran Axton. Wanita itu meminta persetujuan Bi Rahmi, tetapi tak disangka, wanita paruh baya itu malah mengijinkan Axton pergi menemani Anya.
"Kalau begitu, ini daftar belanjaannya, Bu," Bi Rahmi menyerahkan secarik kertas pada Anya lalu pamit pulang.
Axton meminta kertas tersebut dan menaruhnya ke dalam tas kecil yang ia bawa.
***
Anya lagi-lagi mendesah malas. Berbelanja dengan pria benar-benar hal yang sangat menyebalkan.
Axton melewati hampir setiap rak makanan tanpa menoleh, padahal dia yang membawa trolly. Alhasil, Anya harus rela berlari-lari kecil menyusul Axton.
"Ahh, maaf," ujar Axton kesekian kalinya.
"Sini, biar aku saja!" Anya berkata ketus seraya mengambil trolly tersebut. Axton menahannya dan berjanji akan menyamakan langkah mereka.
Anya memilih mempercayai perkataan pria itu. Tidak pantas rasanya jika sampai bertengkar perkara hal kecil seperti ini.
Mereka kembali berjalan, kali ini menuju tempat buah.
Mata Anya sontak terpikat pada seonggok Semangka Kuning yang hanya tinggal satu-satunya di salah satu rak. Setelah memastikan tak ada yang mengambil buah tersebut, Anya bergegas menghampirinya.
Hanya tinggal satu langkah lagi sebelum seorang Pria mengambil Semangka Kuning yang ia inginkan dan memasukannya ke dalam trolly.
Anya hendak protes, namun ia segera mengurungkan niatnya ketika melihat seorang wanita hamil menghampiri pria itu.
"Ahh, ini punya Mbak, ya?" tanya Pria itu tak enak hati. "Ini Mbak, silahkan," ia hendak mengambil kembali Semangka tersebut dan memberikannya pada Anya.
Tak lama, Axton datang menghampiri Anya.
"Tidak apa, Pak, silahkan. Masih ada Semangka Merah di sini." Anya berkata ramah.
Si pria dan sang istri berterima kasih sebanyak-banyaknya pada Anya. "Kebetulan, saya ngidam sekali makan Semangka Kuning." jelas si wanita.
Keduanya lalu pamit meninggalkan Anya dan Axton.
Hati Anya mendadak pilu. Sepasang suami istri tersebut terlihat begitu saling menyayangi. Keduanya tertawa begitu lepas sambil sesekali si suami memegang perut istrinya yang sudah mulai membesar.
Ia juga ingin seperti mereka.
Ia juga ingin tertawa lepas bersama suaminya.
Dan ia .. juga ingin Semangka Kuning tersebut.
Axton terkejut kala melihat tiba-tiba Anya menangis tersedu-sedu.
"Ada apa?" tanyanya khawatir. Anya menggeleng keras-keras.
__ADS_1
Axton memandang tumpukan buah di sekitar mereka. Tak ada lagi Semangka Kuning. Pria itu lantas berinisiatif mengambil Semangka Merah dan memasukannya ke dalam trolly.
"Ini saja, rasanya sama."
Sambil masih menangis, Anya menganggukan kepalanya.
Yang ia ingin hanya Semangka Kuning itu.
***
"Aku turun di lobby," ujar Anya ketika sampai di depan gedung apartemen mereka. Axton menuruti. Ia menurunkan Anya di lobby lalu pergi memarkirkan mobilnya.
Axton tak mengerti, mengapa setelah insiden Semangka tersebut, Anya mendadak jadi dingin padanya.
***
"Tak perlu mengantar sampai ke atas," Kata Rini pada Daffa, Kakaknya, seraya mendorong stroller berisi sang anak yang tengah tertidur pulas. Mereka baru saja sampai di apartemen Rini. Daffa sengaja mengajak adik dan keponakannya itu makan siang di luar.
"Kuantar sampai lift." Daffa berujar.
Tak perlu menunggu waktu lama, pintu lift terbuka. "Hati-hati di jalan, Mas," pesan Rini sambil berlalu masuk ke dalam lift. Wanita itu melambaikan tangannya pada Daffa.
Daffa mengangguk. "Sampaikan salamku pada Chriss," ucapnya yang langsung diiyakan Rini.
Setelah pintu lift tertutup, Daffa masih enggan pergi dari sana. Matanya sejenak terpaku pada lift, sementara isi kepalanya menerawang kemana-mana.
Anya.
Daffa merindukannya.
Ia tak puas hanya dengan melihat Anya dari jauh. Dia ingin berbicara berdua dengannya. Ingin mendengar sendiri kabar wanita itu langsung dari mulutnya.
Tapi Daffa tak dapat berbuat banyak. Selain dia tidak bisa lagi menginjakan kakinya di lantai 16, dia juga tidak bisa menghubungi Anya. Setiap kali dia mencoba menelepon, Anya selalu menolak panggilannya.
Awalnya. Daffa berniat membeli salah satu unit di lantai 16, tetapi Rini menghalangi niatnya. Wanita itu memang enggan tinggal satu wilayah dengan keluarganya. Rasanya percuma tinggal jauh dari mereka kalau salah seorang dari keluarganya tiba-tiba datang dan memutuskan tinggal di tempat yang sama dengannya.
Meski kesal dengan alasan konyol Rini, Daffa mau tak mau menuruti kemauan sang adik.
Tak ingin berlama-lama di tempat itu, Daffa memutuskan pergi dari sana. Baru saja ia berbalik badan, matanya sudah bertemu pandang dengan seseorang yang sejak tadi ia pikirkan.
Anya panik, matanya melirik ke segala arah.
"Apa kabar Anya?" Daffa mengulurkan tangannya.
Anya dengan ragu-ragu menyambut uluran tangan Daffa. "Dari tempat Rini ya, Mas?" tanya Anya. Meski takut, ia berusaha terlihat biasa.
Anya sudah tahu bahwa adik Daffa juga tinggal di apartemen ini.
"Iya. aku baru saja mengantarnya pulang dari makan siang." Jawab Daffa ramah. "Kau dari mana? Sendirian?" Daffa bertanya balik.
Baru saja Anya hendak menjawab, suara dari seorang pria terdengar di belakangnya. "Dia tidak sendiri."
__ADS_1
Axton memandang dingin tangan Daffa yang masih enggan melepas tangan sang istri.
Menyadari tatapan Axton, Daffa melepas santai genggaman tangan Anya. Ia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan pria itu.
"Kukira ia sendirian, baru saja aku akan mengajaknya menikmati secangkir kopi. Atau ... bolehkah?" Daffa sengaja memancing emosi Axton. Dan benar saja, Axton kontan menarik kerah kemeja Daffa.
"Persetan dengan kontrak kita! Kau mengusikku lebih dulu!" desis Axton.
Anya mencoba melerai keduanya. "Kak, tolong ... malu dilihat orang-orang."
Daffa menyeringai. "Santai, bro," ucapnya seraya melepaskan tangan Axton dari kerah kemejanya. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Anya lagi. "Lain kali, aku akan menemuimu lagi," Setelah berkata demikian, Daffa berjalan melewati mereka.
Dugh!
Bahunya dengan sengaja bersenggolan dengan bahu Axton.
Axton mengepalkan tangannya. Dengan kasar, pria tersebut menarik pergelangan tangan Anya untuk masuk ke dalam lift.
Axton baru melepaskan Anya ketika mereka telah sampai di dalam unit apartemen mereka.
Sedetik, pria itu memperlihatkan raut kekecewaannya atas sikap Anya yang masih saja ramah pada mantan kekasihnya tersebut.
Anya meringis kesakitan sembari mengelus pergelangan tangannya yang kini memerah.
"Seberat itukah menghindarinya?" Axton membuka suara.
"Aku tak mungkin menghindarinya. Kami tak sengaja berpapasan. Dia ada di sana saat aku hendak menuju lift." Anya menjelaskan situasinya. Ia tak ingin Axtin salah paham lagi.
"Aku tahu. Kau hanya perlu berpura-pura tidak mengenalnya ketika kalian berpapasan." Axton menahan diri untuk tidak menghardik Anya. "Semudah itu." lanjutnya.
"Aku memang sudah menghindarinya, tapi tidak mungkin jika kami berpapasan." Anya membela diri.
"Apanya yang membuatmu ragu menghindari pria brengsek itu?" Matanya menatap tajam sang istri.
"Aku sudah lama mengenalnya." Anya berusaha tidak terintimidasi, walau kenyataannya, ia sangat ketakutan sekarang.
"Kaupun sudah lama mengenalku!" Axton meninggikan suaranya seketika. Anya sontak terperanjat.
Wanita itu terdiam sesaat. "Dia selalu ada untukku ketika dulu hidupku tertatih ... aku tidak bisa begitu saja memusuhi dirinya."
Pernyataan Anya kontan menghantam telak benak Axton. Pria itu lantas menendang kursi makannya dan pergi meninggalkan Anya.
"Awww!" Anya nyaris saja terjerembab jika tak langsung bersandar pada dinding, kala Axton menabrak lengannya.
BRAKK!
Suara pintu terbanting cukup keras.
Anya menangis tanpa suara.
Anya memang sengaja mengatakan hal demikian. Ia sudah berjanji dalam hati untuk membuat Axton kembali membencinya, dan dia baru saja berhasil melakukannya.
__ADS_1
Tetapi ... mengapa rasanya begitu menyakitkan?