
Anya kontan menarik napasnya dalam-dalam setiap kali merasa akan menangis. Ia tak boleh bersedih. Ia harus mengenyahkan pikiran-pikiran negatif di kepalanya. Axton pasti baik-baik saja.
Tangan Anya tak berhenti mengelus perutnya. "Ayahmu baik-baik saja, Ayahmu pasti baik-baik saja," ucapnya berkali-kali dalam hati.
Mereka tiba di depan ruang UGD. Jagat dan Kinanti segera turun. Keduanya membantu Anya duduk di kursi roda dan mendorongnya ke dalam.
Pintu otomatis ruang UGD terbuka. Terlihat ada dua orang polisi sedang berbicara dengan seorang perawat di sana. Mereka pasti polisi yang tadi menelepon Jagat. Jagat bergegas menghampiri kedua petugas itu.
"Pak, kami keluarga Axton."
Kedua polisi itu menoleh. "Ahh, Mas Jagat ya?"
Jagat mengangguk. "Bagaimana keadaan Kakak saya dan temannya, Sus?" ia beralih pada seorang perawat yang berdiri bersama mereka.
"Keduanya baik-baik saja. Bapak Axton dan Pak Ian hanya mengalami luka ringan." Ungkap perawat tersebut.
"Ha?" Jagat mengerutkan keningnya.
"Jagat," panggil seseorang.
Jagat reflek menoleh ke sumber suara.
Di depannya, terlihat Axton berjalan gagah sembari sibuk menggulung lengan kemejanya hingga siku. Jagat menatap Axton dari atas sampai bawah. Hanya ada luka lecet di lengan kanan Axton dan di dahinya. Lebih dari itu? Tidak ada. Pria itu tampak baik-baik saja.
Jagat memiringkan kepalanya ke samping, guna melihat seseorang yang berada di belakang Axton.
Ian sedang duduk di atas bed. Tangan kirinya memakai arm sling. Sepertinya, dibanding Axton, kondisi Ian terlihat lebih menyedihkan.
"Kak X. Kau baik-baik saja?" tanya Jagat. Dari pada khawatir, nada bicara Jagat malah lebih terdengar kecewa.
Axton mengangkat alisnya.
"Kak," suara merdu seseorang yang Axton rindukan terdengar. Dia menoleh. Anya sampai tepat di depannya. Duduk di atas kursi roda dengan Kinanti yang membantu mendorongnya.
Deg!
Jantung Axton berdegup tak karuan.
"Baiklah Pak, kami akan segera mengabari. Kalau begitu kami permisi." Suara salah seorang petugas Polisi menginterupsi.
"Ahh, baik, terima kasih, Pak," Axton bersalaman dengan mereka.
Setelah kedua Polisi itu pergi, Jagat dan Kinanti memberondong Axton dengan berbagai pertanyaan. Axton menggaruk belakang kepalanya canggung.
"Kami tidak apa-apa. Hanya menabrak tiang saat akan menepikan mobil. Karena itu adalah mobil sewaan, jadi aku harus bertanggung jawab mengganti kerugiannya. Kebetulan mobil itu tidak di asuransikan." Jelas Axton panjang lebar.
"Polisi tadi sempat menyita ponselku sebentar. Aku tak tahu jika mereka malah menelepon kalian, alih-alih Elang." ungkapnya.
Kinanti mencibir ketus sedangkan Jagat sedikit mengumpat.
"Kalian mau ke mana?" tanya Axton bingung. Setahunya, Anya masih harus bedrest di rumah.
Tanpa menjawab, Anya segera berbalik dan menggerakan kursi rodanya sendiri, keluar dari ruang UGD.
Jagat meninju punggung Axton.
"Aww!" pekiknya.
"Kejar sana, Kakak Ipar bodoh!" umpat Kinanti.
*
Sesampainya di luar, Anya menangis terisak-isak. Ia menutupi wajahnya agar tidak terlihat orang-orang yang berlalu lalang di sana.
"Bodoh!" gumam wanita itu.
Sepasang tangan menggenggam lembut tangan Anya. Memaksa Anya menunjukan wajahnya. "Siapa yang bodoh?" tanya Axton tersenyum.
__ADS_1
"Kau!" sahut Anya ketus.
Axton menghapus airmata di pipi Anya. "Iya, maaf," pria itu mendekap Anya erat.
Rasanya bagaikan mimpi bisa melihat Anya kembali, apa lagi sampai memeluknya. Dan jika ini memang benar-benar hanya mimpi, ia rela tidak terbangun sampai kapanpun.
"Bagaimana jika kau benar-benar mati, bodoh!" seru Anya disela-sela tangisannya.
"Kau bisa hidup bahagia dengan pria lain." sahut Axton lembut.
Mendengar jawaban asal Axton, Anya malah mengeraskan tangisannya.
"Ssshhh, ssshh," Axton mengelus punggung Anya guna menenangkannya.
Beberapa saat kemudian Ian sudah diperbolehkan pulang. Beruntung, pergelangan tangan Ian hanya sedikit terkilir, jadi tidak sampai mengganggu aktifitasnya. Meski begitu ia tak boleh banyak menggunakan tangan kirinya dulu.
Anya mengajak mereka berdua pulang bersama ke rumahnya. Sebagai ucapan terima kasih, Axton menawarkan diri untuk menyetir mobil. Anya duduk di sebelahnya.
Di sepanjang perjalanan, Kinanti dan Jagat sibuk meluapkan emosi mereka. Mereka menyalahkan petugas Polisi tersebut yang tidak menjelaskan secara detail.
Ian hanya menanggapi dengan tawa garing.
...***...
Axton memarkirkan mobil Bu Ida di depan rumah Anya.
"Sebentar, aku ambil kursi roda dulu," Kinanti keluar dari mobil diikuti Axton dan yang lainnya.
"Tidak usah." Axton membuka pintu mobil bagian Anya. Dengan sigap pria itu menggendong Anya keluar. Kinanti beralih membuka pintu rumah.
Axton, Anya, Kinanti dan Ian masuk ke dalam rumah, sedangkan Jagat mengembalikan mobil Bu Ida.
Ian duduk di sofa ruang tamu. Axton langsung membawa Anya ke kamarnya.
"Terima kasih," ucap Anya malu-malu.
Axton tersenyum. Matanya beralih pada perut buncit Anya.
Kinanti melongok ke dalam kamar Anya. Perlahan ia menutup pintu kamar tersebut guna memberi ruang privasi pada kedua Kakaknya. Pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan hanya berdua.
"Berapa usianya?" tanya Axton canggung.
"Masuk 22 minggu." Jawab Anya.
"Laki-laki atau Perempuan?" tanyanya lagi.
"Belum tahu. Ia pintar menyembunyikan diri." Jawab Anya bergurau. Axton tertawa kecil.
Suasana hening seketika.
"Kalian pasti tertinggal pesawat." Anya berinisiatif mengambil suara.
"Mau tak mau. Lagi pula, aku tak bisa kemana-mana sebelum mengganti rugi. Bisa-bisa mereka akan mengira aku kabur karena tak memiliki uang."
Mendengar Axton yang mencoba bergurau, Anya tertawa. Candaan memang bukan bakatnya.
"Boleh ... aku menyentuhnya?" pinta Axton.
Anya bergeming.
Melihat tak ada respon dari Anya, Axton salah tingkah. Mungkin ia salah bicara. "Ahh, maaf, aku tak bermaksud lancang."
Anya menggeleng. Wanita itu menepuk tepi ranjang, menyuruh Axton untuk duduk di sebelahnya.
Axton menurut.
Anya segera mengambil tangan kiri Axton dan meletakan tangan pria itu di atas perutnya.
__ADS_1
Jantung Axton lagi-lagi berdegup tak karuan. Ia merasa seperti ada sesuatu yang akan meledak keluar dari dadanya. Begitu menyenangkan. Dan Axton menyukai sensasi tersebut.
"Maafkan aku," ujar Axton sembari mengelus perut Anya dengan hati-hati.
"Aku tak tahu dia ada. Aku tetap bersikap kasar padahal kau tengah berjuang menjaganya. Aku tak tahu kebiasaanmu keluar tiap malam ternyata karena ada dia di sini. Aku tak tahu, kau bersusah payah mengunjungi dokter seorang diri ketika aku malah bersama wanita lain." Helaan napas Axton terdengar bergetar.
"Aku ...," Axton memberi jeda.
"Meski seumur hidup aku terus mengucapkan kata maaf, sepertinya itu tidak akan pernah cukup."
Netra birunya beralih pada Anya. Menatap wajah wanita itu dalam-dalam.
"Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk menyentuhnya. Setelah ini, aku tak akan menahanmu lagi. Kau bebas mencintai pria lain. Kau bisa bahagia bersama pria yang benar-benar memperlakukanmu dengan benar."
"Benarkah?" tanya Anya
Axton mengangguk mantap. Ia sudah sangat siap jika kini Anya ingin berpisah dengannya. Ia menunggu Anya mengatakannya sendiri, baru setelah itu ia akan pergi dari hidup wanita itu, selamanya.
Anya menyingkirkan tangan Axton dari perutnya. Axton tampak kecewa.
"Sejak dulu, aku tak pernah bebas mencintai pria lain. Sudah ada seseorang yang dengan kurang ajar menerobos masuk ke dalam hatiku. Aku berusaha mengusirnya. Tetapi semakin keras aku berusaha mengusir, semakin ia tak mau pergi."
"Aku ingin memberinya kesempatan. Aku yakin ia akan memperlakukanku dengan benar kali ini. Aku yakin kami bisa bahagia jika hidup bersama. Tapi sepertinya, dia tidak menginginkan hal itu."
Wanita itu mengelus perutnya sendiri.
"Kalau sudah begitu, terpaksa kami akan hidup berdua saja." Katanya sembari tertunduk, menatap sayang perutnya. "Hanya Ibu dan kamu, tanpa Ayah. Tidak apa-apa ya, Sayang?" seolah tak ada siapapun, Anya asik mengoceh sendiri dengan anaknya.
Axton menggigit bibirnya. Anya mengangkat kepalanya lalu tersenyum manis. Senyuman yang sangat menyejukan. Senyuman yang selalu Anya persembahkan padanya, tak peduli walau ia baru saja disakiti olehnya.
Senyuman yang selama ini ia rindukan.
Axton kontan memeluk Anya protektif. Menyembunyikan wajahnya di balik lekuk leher wanita itu. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang menguar dari tubuh sang istri.
Ia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi. Ia berjanji akan membahagiakan mereka.
"Aku mencintaimu, Savanna,"
"Aku mencintai kalian,"
"Aku mencintaimu,"
"Aku mencintai kalian berdua." Axton berkali-kali mengucapkan kalimat-kalimat itu tanpa henti.
"Aku juga." Batin Anya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.