
"Savanna," sapa seseorang ketika ia tengah memberikan paket yang lumayan besar pada salah seorang satpam di sana.
"Mas Daffa, mau bertemu adikmu?" tanya Anya.
"Mengirim paket?" Daffa mengalihkan pembicaraan dengan bertanya balik. Dia tidak mungkin menjawab, bahwa dia ke sana bukan untuk bertemu Rini.
"Ahh, iya, aku mengirim baju-baju untuk Kinanti dan Jagat." Jawab Anya sumringah.
Daffa menawarkan diri untuk mengajak Anya sarapan pagi. Anya menimbang-nimbang, sebab dia masih harus merawat dan mengawasi Axton yang sedang sakit.
"Sebentar saja, apa tidak bisa? Atau mau aku ijinkan pada Suamimu?" tawar Daffa yang langsung ditolak halus oleh Anya.
Kebetulan dia memang belum mengisi perutnya sejak semalam karena sibuk mengurus Axton. Anya baru bisa bernapas lega setelah Axton tidur pagi ini, sehabis menghabiskan sarapan dan obatnya.
"Baiklah, ayo," Anya menerima tawaran Daffa senang hati.
Mereka memilih kedai bubur ayam sederhana di pinggir jalan untuk mengisi perut yang lapar. Anya sejak lama ingin makan di sana. Ia sangat penasaran, sebab setiap kali melewati tempat itu, selalu saja ramai pengunjung. Tidak terkecuali hari ini.
"Kupikir, seleramu sudah berubah setelah tinggal di sana," seloroh Daffa sembari mengerling pada sebuah bangunan Apartemen yang tak jauh dari sana.
Anya mencibir lalu tertawa. "Perutku masih menyukai nasi uduk semur jengkol dari pada makanan western." Jawaban Anya membuat Daffa tergelak.
Mereka menghabiskan sarapan sembari mengobrol ringan.
Setelah sarapan Daffa menawarkan diri untuk mengantar Anya sampai ke depan pintu Apartemennya, tetapi Anya menolak. Dia tak ingin banyak merepotkan pria itu.
"Baiklah, terima kasih untuk waktunya, ya?"
"Aku yang berterima kasih karena traktiran Mas,"
"Tak usah sungkan padaku. Ahh, semoga Suamimu lekas sembuh,"
Anya mengangguk, mereka berpisah di lantai 15. Anya melambaikan tangannya pada Daffa begitu pula sebaliknya.
Anya sampai di dalam rumah. Bi Rahmi terlihat sedang membuatkan makanan untuk Axton dan dirinya. Anya memang meminta tolong Bi Rahmi untuk datang setiap hari selama Axton sakit, sebab dia tahu, Axton tidak akan sudi memakan masakannya. Untunglah wanita baik hati itu tidak keberatan.
"Sarapan dulu, Bu?" tawar Bi Rahmi sembari membawa beberapa makanan ke atas meja makan.
"Aku sudah sarapan bubur tadi, Bi."
"Ahh, begitu."
__ADS_1
"Bibi jangan lupa sarapan, ya? Aku akan ke atas," Anya mengusap lengan Bi Rahmi penuh sayang.
"Iya, Bu." Senyum Bi Rahmi mengembang. Wanita itu bahagia mengetahui akhir-akhir ini Anya terlihat lebih segar dan lebih banyak tersenyum. Ia juga senang majikan mudanya itu tidak lagi tidur di fitting room dan juga tidak lagi diperlakukan kasar secara fisik oleh Axton. Mungkin karena memang keadaan Axton yang sedang sakit, tetapi boleh jadi, rumah tangga mereka bisa berjalan normal seperti kebanyakan orang.
Ia sangat berharap.
Anya membuka gorden agar kamar mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Axton sempat menggeliat tak nyaman saat sinar matahari menerpa wajahnya. Gadis itu kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lupa membawa baju ganti ke sana.
Anya mendengar suara ketukan ketika dia keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Bi?" tanya Anya keheranan.
"Anu, Bu, ada Mbak Hana di bawah. Aku sudah melarangnya masuk tetapi dia bersikeras ingin bertemu dengan Bapak."
Bersamaan dengan itu, Hana datang dengan langkah terburu-buru. Gadis itu bahkan mendorong keras tubuh Anya yang menghalangi pintu kamar. Anya hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada daun pintu.
"Biarkan saja, Bi. Jangan bilang pada Callista, ya?"
"Baik, Bu."
Hana berlari memeluk Axton seraya menangis tersedu-sedu, membuat Axton mau tak mau membuka matanya.
"Ya Tuhan, Sayang, kenapa kau enggan memberitahu aku kalau sedang sakit? Jika aku tidak mengancam Ian, dia pasti tidak akan mau memberitahuku!" pekim Hana panjang lebar. Gadis itu beringsut berbaring di samping Axton.
Tak ingin melihat adegan menjijikan itu, Anya memilih untuk pergi dari sana.
Mata Axton bergulir mengikuti kemana Anya pergi. Entah kenapa ada rasa tak nyaman melihat Anya bersikap demikian.
"Kak? Sayang?" suara Hana menginterupsi lamunan Axton.
Demi mengusir kebosanan Anya mengajak Bi Rahmi untuk menata dan membersihkan semua pakaian, sepatu serta aksesoris Axton. Biasanya tugas ini dilakukannya Anya seminggu sekali, dan lusa adalah jadwal seharusnya. Namun demi mengisi kesibukan, ia memilih melakukannya hari ini.
Anya dan Bi Rahmi baru selesai membersihkan fitting room saat jam makan siang.
Hana dan Axton turun dari atas saat Anya keluar dari ruangan fitting room.
"Kakak kenapa turun? Sudah baikan?" tanya Anya khawatir. Bukannya menjawab, Axton malah melengos begitu saja menuju ruang makan. Hana tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak usah sok perhatian kau! Tak usah berlagak seperti Nyonya besar, karena akulah Nyonya besar yang sebenarnya di sini, dasar Perempuan ******!"
"Aku sedang tak ingin bertengkar Hana." Kata Anya sembari meninggalkan Hana menuju ruang makan. Demi Tuhan, dia tidak ingin membuang-buang tenaganya untuk meladeni Hana, gadis itu sedang benar-benar kelelahan dan kelaparan.
__ADS_1
"Hari ini aku ingin makan makanan biasa." Kata Axton saat duduk dan menatap bubur yang Bi Rahmi buat untuknya.
"Tapi, Pak–" tatapan tajam Axton seketika membungkam mulut Bi Rahmi. Wanita itu sangat takut jika Tuannya sudah menatapnya demikian.
Bi Rahmi mengerling menatap Anya, Anya mengangguk pelan. Setelah mendapat persetujuan dari Anya, Bi Rahmi segera mengambilkan piring untuk Hana dan Axton.
"Ibu, tidak makan juga?" tanya Bi Rahmi melihat Anya membantunya mengambilkan piring untuk mereka.
"Tidak selera, Bi." Jawab Anya singkat saat melihat Hana secara terang-terangan mengecup bibir Axton di meja makan. Untung saja Bi Rahmi tidak melihat.
Dari raut wajah Anya, Bi Rahmi bisa mengerti bahwa majikan mudanya itu sedang menahan kekesalannya.
Anya datang membawa dua piring besar dan meletakannya di depan Axton dan Hana.
"Kau itu memang cocok jadi pembantu!" seru Hana sembari tertawa sini.
Anya hanya terdiam.
Melihat Anya tidak terpancing, Hana mengepalkan tangannya. Gadis itu benar-benar lebih tegar sekarang, padahal dulu dia akan gampang sekali menangis meski hanya dengan sebuah bentakan.
Hana tak suka melihat ketegaran hati Anya. Yang lebih tidak dia suka, Axton mulai bersikap lunak pada gadis itu.
Anya sedang sibuk menuangkan nasi di atas piring Axton beserta potongan daging dan sayur.
Hana tersenyum miring, tiba-tiba dia merangkul manja pria itu. "Cepat sembuh sayang. Akuntak sabar menunggu kepulanganmu di Apartemen kita. Aku rindu sekali padamu. Rumah yang kau belikan untukku terasa sepi jika tidak ada dirimu,"
Mendengar perkataan Hana membuat Anya berhenti menuangkan sayur di atas piring Axton.
Axton membelalakan matanya, dia menatap tajam Hana yang berpura-pura tidak melihatnya.
"Ups! Apa Mbak Anya tidak tahu, kalau Kak X membelikanku Apartemen tidak jauh dari sini, agar kita dapat menghabiskan waktu bersama?" tanyanya dengan suara manja. Ia pura-pura memasang ekspresi terkejut.
Tangan Anya bergetar, sekuat tenaga ia tetap menuangkan makanan ke atas piring Axton. Setelah selesai, Anya bersiap pergi dari sana.
"Sebentar lagi kalian akan bercerai, aku begitu tak sabar menjadi bagian dari keluarga Caldwell setelah ini. Karena aku lah Nyonya Axton Delano Caldwell yang sesungguhnya,"
Anya melangkah cepat menuju lantai atas. Setengah mati dia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan mereka. Dia tak ingin Hana merasa menang. Dia tak ingin Hana melihatnya tak berdaya seperti dulu.
Gadis itu mengunci pintu kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Dia membiarkan shower terus menyala untuk menyamarkan suara tangisannya.
Ya, Anya harus sadar diri, bahwa pernikahan mereka hanya akan berusia satu tahun sesuai surat perjanjian. Tepat setelah mereka bercerai, Axton akan langsung menikahi Hana. Yang berarti, tidak akan ada lagi kesempatan untuk mereka bersama.
__ADS_1