
Anya menatap puas pada dua piring nasi goreng yang berada di atas meja. Hari ini dia libur dari segala kegiatan rumah, karena ada asisten rumah tangga Axton yang datang ke sana seminggu sekali.
Sejak hasil pengumuman tidak lulus wawancara kerjanya keluar, Anya hanya menghabiskan waktunya seharian di rumah saja. Kadang ia juga pergi berbelanja ditemani oleh Bi Rahmi. Untuk sementara gadis itu tidak memiliki keinginan untuk mengajukan lamaran pekerjaan lagi.
"Jangan sungkan untuk menghubungi saya jika butuh bantuan ya, Bu? Besok saya akan datang sepagi mungkin," ujar Bi Rahmi sembari bersiap-siap pulang.
"Iya, Bi, terima kasih atas bantuannya hari ini," Anya menatap ramah wanita paruh baya tersebut, sedikit mengingatkannya pada sang Ibu angkat, Rastini.
"Iya, Bu, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." Sepeninggal Bi Rahmi, Anya segera menutup makanan tersebut lalu kemudian membersihkan diri. Meski sudah tahu Axton pasti akan marah dan menolak makanannya kembali, dia akan tetap melakukannya. Anya tidak bisa mengabaikan nasihat sang Ibu untuk melayani segala macam kebutuhan suaminya dengan baik.
Maka dari itu, Anya mulai belajar menghafal hampir semua kebutuhan Axton secara diam-diam dari Delia, Asisten Pribadi pria itu.
Meski berulang kali ditolak dan dibentak, Anya tetap tidak menyerah. Entahlah, untuk apa gadis itu melakukan semua ini? Hanya sekedar menuruti nasihat sang Ibunda atau memang perasaannya pada Axton ketika masih remaja, masih tersisa hingga kini?
Anya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Bersamaan dengan itu langkah Axton yang berjalan masuk ke dalam rumah tertangkap indera pendengarannya. Gadis itu buru-buru menghampiri Axton dan membantunya membuka sepatu.
Axton yang sudah lelah, membiarkan saja apa yang dilakukan Anya. Anya
sama sekali tidak takut akan ancaman karena telah lancang menyentuh dan mengurusi hal-hal pribadinya.
"Kakak sudah makan? Aku sudah membuatkan makan malam untuk Kakak," kata Anya selepas membantu Axton melepas jaketnya. Gadis itu meninggalkan Axton sebentar untuk menaruh jaket pria itu di laundry room lalu kembali menghampiri Axton.
"Sudah kubilang untuk tidak melakukan hal-hal yang membuatku muak!" gerutu Axton.
Anya pura-pura tidak mendengar perkataan Axton. Dia malah menarik salah satu kursi dan menyuruh Axton untuk duduk di sana. "Makan dulu, Kak. Kakak pasti belum sempat makan, kan?"
Tanpa mendengar jawaban Axton, Anya mengambil lengan pria itu lembut dan membawanya ke meja makan.
Axton menatap Anya sinis. Kentara sekali pria itu tengah menahan emosinya. "Sepertinya, aku memang tidak boleh menurunkan amarahku. Karena itu hanya akan membuat gadis sepertimu jadi kelewat kurang ajar!"
Setelah berkata demikian Axton menghentakan tangannya hingga terlepas dari genggaman Anya. Dengan langkah malas pria itu mengambil salah satu piring yang ada di meja makan, lalu melempar piring tersebut ke wajah Anya.
Gadis itu memekik kesakitan saat beberapa butir nasi masuk ke dalam matanya. Rasa pedas dan panas menjalar ke seluruh bagian wajahnya.
Axton tidak peduli. Pria itu sekarang mengambil segenggam nasi goreng di atas piring yang lain, lalu menjejalkannya makanan tersebut ke mulut Anya secara paksa.
Anya memberontak. Gadis itu bahkan mencoba memukul tangan Axton yang sibuk memasukan nasi goremg tersebut. Ia kontan terbatuk-batuk, sebab harus menelan paksa nasi goreng yang masih panas itu.
"Aku benar-benar muak dengan segala tingkah lakumu akhir-akhir ini! Kau harusnya sadar diri, brengsek!" hardik Axton. Suaranya lantang, memekakan telinga.
__ADS_1
"Berhenti membuatku semakin jijik padamu! Berhenti seolah-olah kau adalah istri yang aku inginkan!" lanjut pria itu.
Anya terduduk di lantai sembari menangis sesenggukan. Mendengar tangisan Anya, Axton malah semakin terlihat marah. "Kau pikir, air matamu akan membuatku iba? Jangan bermimpi ******!"
Pria itu tanpa belas kasihan menjambak rambut Anya dan menyeretnya melewati ruang tamu, menuju balkon Apartemen. "Sampah sepertimu memang harus diberi pelajaran!" kata Axton dengan wajah penuh kebencian.
"Aaaargghh! Kak, amp–pun!" teriak Anya kesakitan. Rasa pusing menjalar memenuhi kepalanya.
Bukannya mengurangi, Axton malah menambah kekuatannya. "Kak, tolong lepask– aarrgh!" Anya kontan semakin berteriak sembari memukul-mukul tangan Axton. Namun Axton sama sekali bergeming.
"Ampun, Kak–" lirih Anya yang mulai kehabisan tenaga.
Axton membuka pintu balkon dan mendorong Anya keluar. Angin dingin seketika menerpa tubuh kurus Anya.
Tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung mengunci pintu balkon rapat-rapat. Ia membiarkan gorden terbuka lebih dulu guna menyaksikan penderitaan gadis tersebut.
Tahu bahwa dia akan ditinggalkan di tempat itu, Anya segera berdiri. Gadis itu lantas menggedor-gedor pintu balkon, memohon pada Axton agar membiarkannya masuk ke dalam. Anya bahkan sampai mencoba membuka pintu balkon dengan cara mencakar-cakarnya, walau tahu itu tidak akan berhasil.
Axton hanya menatap dingin Anya selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutup gorden dan masuk ke dalam rumah.
Anya menjatuhkan dirinya. Angin malam yang dingin membuat tubuhnya menggigil hebat, sebab ia hanya memakai piyama pendek. Anya menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak-teriak memanggil nama Axton berulang kali, berharap pria itu mau kembali dan membiarkannya masuk.
Namun, hingga suaranya nyaris habis pun, Axton tidak juga menampakan dirinya.
Pikiran Anya hanya satu: Apa sefatal itukah kesalahannya kali ini? Anya hanya mencoba menjalani perannya sebagai seorang istri yang patuh pada suaminya Jika Axton memang tidak mau menganggapnya demikian, maka pria itu boleh saja menganggapnya sama seperti Bi Rahmi, bukan malah menyiksanya seperti ini.
Hatinya pun semakin teriris tatkala mengingat, bahwa Axton tidak pernah sekalipu menolak apapun makanan dari Bi Rahmi.
Air mata kembali mengalir membasahi pipi Anya.
...***...
Axton baru saja selesai membasuh dirinya. Pria itu menatap kosong pada cermin yang tepat berada di hadapannya. Hatinya terasa sangat gelisah, namun ia tak tahu apa penyebab kegelisahannya tersebut.
Sekilas, ingatannya berkelana saat Anya dengan lembut membukakan sepatu tadi. Akhir-akhir ini, Anya memang selalu bersikap aneh dan itu membuat Axton sangat muak.
Setiap hari ketika dia ada di rumah, Anya akan dengan sigap menyiapkan segala kebutuhannya. Mulai dari pakaian, sepatu, makanan, hingga perlengkapan syuting yang entah dia pelajari dari siapa.
Meski berulang kali ditolak, Anya akan tetap melakukan hal yang sama di hari berikutnya. Tidak terlihat sedikitpun raut kesedihan di wajah cantik gadis itu.
"Mungkin dia pintar menyembunyikannya, atau memang dia adalah seorang gadis yang tidak tahu malu." Batin Axton.
__ADS_1
Axton seketika sadar dari lamunannya, tatkala sebuah pelukan mendarat di tubuhnya. Siapa lagi yang berani melakukan hal tersebut kalau bukan Hana?
"Apa yang terjadi? Aku melihat makan berserakan di ruang makan. Mau aku bereskan?" tanya Hana.
"Tidak perlu." Jawaban singkat Axton langsung dipahami Hana, bahwa dia tak ingin membicarakan hal tersebut lebih jauh.
"Aku rindu," ucap Hana manja. Axton merangkul Hana dan mencium bibirnya mesra.
"Tetap seperti ini dulu." Hana memeluk Axton yang masih bertelanjang dada selama beberapa saat. Tangannya mengusap lembut bekas sayatan yang terdapat di perut sebelah kanan tubuh pria itu.
"Bekas operasi ini menambah keseksianmu, Sayang," ungkapnya.
Axton tersenyum kecil lalu melepaskan pelukan Hana, guna menuju lemari pakaiannya untuk berganti baju. Hana mengekori langkah Axton. Wanita itu membantu Axton memilihkan pakaian.
"Oh iya, aku belum melihat Mbak Anya sama sekali, apa dia sudah tidur?" tanya Hana.
Mendengar nama Anya disebut, Axton memasang wajah dingin. "Jangan sebut nama wanita itu malam ini, aku muak!"
Hana menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Sebenarnya, dia juga sudah muak bersikap baik pada Anya. Meski dia tahu Axton sangat membenci Anya, namun tetap saja status Anya membuat Hana cemburu.
Namun, melihat reaksi yang ditunjukan Axton kali ini, benar-benar menumbuhkan keyakinan Hana untuk tidak lagi berpura-pura baik pada gadis kampungan itu. Ia sudah menang telak.
...***...
Anya membuka matanya perlahan ketika merasa betisnya di tendang-tendang lumayan keras. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat tidur di lantai yang dingin, Anya segera duduk saat tahu Hana sudah berdiri di depannya.
"Ahh, Hana, terima kasih telah menolongku," ucap Anya tulus yang dibalas tawa sinis Hana.
Anya mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang ingin menolongmu? Aku hanya tak ingin ada mayat di Apartemen milik kekasihku," katanya sembari berjongkok di hadapan Anya.
Gadis itu lalu mencengkram pipi Anya kuat-kuat, hingga Anya memekik kesakitan. "Aku sudah muak bersikap baik padamu. Mulai sekarang, kau bisa berhenti mencari perhatian Kak X, atau aku akan membuatmu angkat kaki dari sini!"
Hana melepaskan cengkramannya kasar, sampai Anya kembali terjatuh. Wanita itu lalu menghampiri Axton yang ternyata tengah memerhatikan mereka berdua. Dengan manja, Hana merangkul tangan Axton dan pergi meninggalkan Apartemen.
Anya mencengkram dadanya sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak menyangka, ternyata Hana hanya berpura-pura baik padanya selama ini. Hatinya semakin nyeri bukan main, saat mengetahui bahwa Axton tidak mempermasalahkan sikap Hana padanya.
"Hahaha, bodoh sekali kau, Anya!" pekik Anya disertai tawa sumbang.
"Hahaha! Seharusnya, sejak awal kau tahu, tidak ada wanita yang rela berbaik hati pada istri kekasihnya." Anya mengeraskan tawanya sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.
__ADS_1
"Sadarlah, tidak ada satupun orang yang peduli padamu, Anya tolol! Tidak ada!"
Meski tertawa, air mata kian deras membasahi kedua pipi gadis itu.