
"CUT! CUT! CUT!" lagi-lagi suara pak Steven, sang sutradara, menggelegar memekakan telinga orang-orang yang mendengarnya.
Pria tua itu membanting megaphone-nya seraya melangkah, menghampiri Axton yang tengah terduduk kelelahan.
"X! Ada apa denganmu? Ini sudah take yang ke empatpuluh delapan! Kita tidak mungkin menghabiskan waktu seharian, hanya untukmu seorang!" hardiknya penuh amarah.
Axton hanya terdiam. Matanya enggan menatap Steven. Dia sadar, hari ini dirinya benar-benar tidak profesional.
"Aku tahu ini adalah kali pertama kau berakting, tetapi kemarin-kemarin kau begitu luar biasa. Ada apa denganmu hari ini, hah?" tanya Steven dengan suara lebih rendah kali ini.
" ... Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Axton.
Steven menghela napasnya, "Jangan campur adukkan masalah pribadimu ke tempat kerja. Kosongkan pikiranmu dari hal-hal tersebut untuk sementara waktu. Kita akan mulai setengah jam lagi," sembari menepuk bahu Axton, pria itu pergi meninggalkannya. Beliau berteriak memberi pengumuman, bahwa mereka akan mengambil adegan yang lain terlebih dahulu.
Delia menghampiri Axton dan memberikan minuman dingin padanya, gadis itu juga membantu menghapus peluh yang membanjiri kening Axton.
Ian tidak berkata apapun, dia tahu Axton sedang memikirkan kejadian semalam. Persahabatan mereka yang sudah lebih dari 10 tahun membuat Axton tak canggung lagi menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi pada Ian.
Meski Axton telah berlaku jahat pada Anya, namun dia tetap menghormati Bu Rastini. Maka wajar saja rasanya, jika pria itu mengkhawatirkan kondisi sang Mertua, selepas kejadian tadi malam. Apa lagi Axton berkata, bahwa dia juga memerhatikan diam-diam, bagaimana Bu Rastini tidak bisa tidur dengan tenang di rumahnya. Wanita itu bahkan enggan tidur di kamarnya dan memilih tidur di karpet ruang televisi.
Melihat Axton menyuruh Delia pergi dari sana, Ian segera duduk di sampingnya.
"Keluarga Anya sudah pulang?" tanya Ian.
Axton mengangguk. Anya memang mengiriminya pesan tadi. Walaupun Axton tak pernah membalasnya, gadis itu tetap saja rajin mengiriminya beberapa pesan sederhana, seperti mengingatkannya untuk makan atau pulang ke rumah.
"Mau kuijinkan pulang?" tanya Ian lagi.
"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat sejenak." Jawabnya kalem.
Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan set.
Entah kenapa Axton merasa sedikit menyesal karena tidak melakukan apapun pada Bu Rastini. Hanya untuk sekedar mengeluarkan suara, membela beliau saja Axton tidak mampu.
__ADS_1
Meski sudah lama tidak bertemu dengan Bu Rastini, Axton tahu benar bagaimana Beliau. Jadi, ia tak akan mungkin melakukan hal memalukan seperti itu.
Axton benar-benar tidak bisa menyingkirkan kejadian tadi malam dari kepalanya. Terlebih saat bagaimana kedua gadis itu berusaha membela sang Ibu sampai harus bersimpuh. Ia dengan br4ngsek mengabaikan mereka semua.
Kegelisahan semakin kentara terasa saat mengkhawatirkan Anya.
...***...
"Wa'alaikumsalam, Pa," Anya menutup teleponnya. Maxim baru saja menghubungi Anya untuk menanyakan kabar keluarganya. Pria itu sedikit kecewa saat tahu keluarga Anya baru saja take off. Padahal ia berencana akan berangkat ke Apartemen Axton untuk menemui mereka.
Anya berkata bahwa dia akan menyusul sang Ibu saat lusa nanti. Maxim ingin sekali ikut Anya pulang ke kampung halamannya tetapi Anya melarang. Dia tidak ingin merepotkan Ayah Mertuanya, Anya berjanji akan langsung mengabari Maxim setibanya di sana nanti.
...***...
Anya memasukan beberapa helai pakaiannya ke dalam koper sembari berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam miliknya.
"Bujuk Ibu terus agar mau makan ya, Gat? Mbak akan mengambil penerbangan pertama besok pagi."
Ternyata Jagat menelepon Anya untuk memberitahu kondisi kesehatan Ibunya yang mulai menurun. Sejak pulang kemarin, Beliau sama sekali tidak mau makan dan hanya sedikit minum. Hal itu membuatnya tidak dapat bangun dari tempat tidur dalam waktu yang lama.
"Sendiri. Kakakmu sedang sibuk." kilah Anya.
"Aku benar-benar tak habis pikir dengan Ibu Mertuamu, Kak. Aku yakin dia pasti menjebak Ibu!" Kata Jagat emosi. Sejak awal menelepon, Jagat selalu berkata jika Ibunya pasti telah dijebak oleh Theresa guna mempermalukan mereka di depan Axton.
Anya langsung memarahi adiknya bungsunya itu. Theresa adalah wanita bermartabat, jadi tidak mungkin dia akan melakukan hal serendah itu, hanya untuk menunjukan seburuk apa keluarga Anya, supaya Maxim dan Axton membenci mereka.
"Sudah Mbak bilang, jangan lancang Jagat." Anya memperingati sang Adik. Terdengar nada tak suka keluar dari mulut Jagat.
"Ya sudah, telepon Mbak kalau ada apa-apa. Mbak titip Ibu, ya?"
"Iya, Mbak. Jangan lupa kabari kalau mau berangkat. Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Anya terdiam sejenak memikirkan kata-kata Jagat. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebenci apapun Theresa padanya, ia yakin wanita itu tidak akan sampai hati melibatkan keluarganya.
Selesai membereskan koper, Anya segera keluar dari kamar untuk membersihkan rumah. Ia melihat Axton baru saja turun dari lantai atas.
"Kakak sudah makan?" tanya Anya.
Axton hanya menjawab pertanyaan Anya dengan gumaman tak jelas. Pria itu duduk di sofa ruang televisi sambil membuka lembaran naskah.
Anya berjalan menuju dapur untuk membuatkannya minuman dan sedikit cemilan.
"Besok aku akan berangkat pagi-pagi sekali, Kak. Aku akan menemani Ibu selama beberapa hari di sana." Anya meletakan nampan dengan hati-hati di atas meja. Posisinya masih bersimpuh, menunggu jawaban dari Axton.
"Terserah." Jawab Axton tanpa melepas pandangannya dari naskah.
Suara derap langkah kaki menggema seiring kemudian. Hana berlari menghampiri Axton dan memeluk pria itu manja. Anya memalingkan wajahnya. Tak sudi melihat adegan menjijikan itu, ia memilih pergi dari sana.
Baru saja gadis itu akan melangkah meninggalkan mereka, Hana segera menghentikannya.
"Kudengar, Ibumu mencuri cincin Tante Theresa, ya?" tanyanya sinis. Jelas sekali ada nada ejekan keluar dari mulut kurang ajarnya.
Anya sudah dapat menebak dari mana Hana mendapat informasi itu. Siapa lagi kalau bukan dari Ibu Mertuanya sendiri?
"Bukan seperti itu kejadiannya." Jawab Anya kalem.
"Cih! Tidak ada maling yang suka rela mengaku." cibir Hana. "Ya wajar sih kalau beliau melakukan hal tersebut. Statusnya yang hanyalah seorang pembantu, tiba-tiba berubah jadi besan konglomerat. Siapa yang tidak tergoda? Mencuri satu cincin mungkin dipikirnya tidak akan ketahuan." tawa kecil keluar dari Hana. Wanita itu tengah menghina Ibunya.
Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya terasa panas mendengar hinaan wanita kurang ajar itu. "Tutup mulutmu dan jangan ikut campur!" desisnya dingin.
Hana membelalakan matanya. Ia terkejut juga mendapati Anya mampu membalas perkataannya. "Hei! sudah mulai berani kau, ya?" Spontan dia berdiri menghampiri Anya, tetapi suara Axton menginterupsi mereka.
"Hana, duduk dan temani aku. Aku butuh konsentrasi untuk besok."
"Kak ... dia lancang!" pekik Hana tak terima.
__ADS_1
Axton tidak mngeluarkan suaranya lagi. Mengerti akan sikap pria itu, Hana memilih kembali duduk di samping Axton, setelah sebelumnya mengancam Anya akan menghabisinya jika ia sekali lagi berani kurang ajar terhadap dirinya.