
Setelah berbicara panjang lebar dengan Kinanti. Ian memutuskan mengajak Axton ke hotel terdekat. Menurutnya, tetap memaksakan diri hanya akan membuahkan hasil yang sia-sia. Lagi pula, mereka bisa-bisa tidak akan dibiarkan datang ke sana lagi, jika Axton membuat keributan kembali.
Ian dengan sigap menangkap tubuh Axton yang mendadak limbung saat mereka berjalan di koridor menuju kamar hotel. "Kau tak apa?" tanya Ian khawatir. Wajah Axton sudah sepucat kapas.
Axton melepaskan diri. "Tak apa."
"Perlu kutemani?"
Axton menggeleng.
Ian mengawasi Axton sampai masuk ke dalam kamar hotelnya sendiri, sebelum ia juga masuk ke dalam kamarnya yang berada tepat di sebelah.
"Jangan matikan ponselmu!"
"Hmm,"
Axton berjalan tertatih menuju kamar mandi. Pria itu menyalakan shower dan membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya yang masih berpakaian lengkap.
Tangannya terkepal. Perkataan Kinanti terngiang-ngiang jelas di ingatannya.
"Meski ia telah kehilangan orang-orang terpenting dalam hidupnya dan dibenci oleh orang-orang yang dicintainya, Mbak Anya tetap mampu tersenyum. Senyumnya ... cantik sekali."
"Mbak Anya mungkin terlihat baik-baik saja dari luar. Tetapi, siapa yang tahu bahwa ia ternyata memendam kesakitannya lebih dalam dari pada siapapun. Kendati tubuhnya mampu melakukan segala hal, namun hatinya jauh lebih rapuh dari sebongkah kaca."
Axton menjatuhkan diri ke lantai. Pria itu memeluk tubuhnya sendiri guna menyembunyikan wajah pucatnya. Guyuran air menyamarkan airmata yang keluar dari pelupuk matanya.
Sekelebat bayang-bayang silih berganti menghantam benaknya. Mereka seolah-olah datang untuk mengingatkannya. Mengejeknya juga menertawakan setiap airmata yang keluar dari dirinya. Tak lupa, mereka menghina penderitaannya yang jelas-jelas tak dapat dibandingkan dengan penderitaan Anya selama ini.
"Jangan pernah berharap bisa tidur seranjang denganku! Kau tidur di sana!"
"Sudah kubilang untuk tidak melakukan hal yang membuatku muak!"
"Dasar tolol!"
"Harga dirimu bahkan tak bisa dibandingkan dengan kertas-kertas itu!"
"Aku sungguh muak dengan segala tingkahmu akhir-akhir ini! Kau harusnya sadar diri, brengsek!"
"Berhenti membuatku makin jijik padamu!"
Axton mencengkram dadanya sekuat tenaga.
"Kak,"
"Tolong, lepaskan Mbak Anya. Biarkan dia merasakan hidup bahagia yang sebenar-benarnya."
"AAAAARRRRGGGHHH!" teriakan Axton menggema seantero kamar.
*
Ian menerima dua buah koper dari bellboy hotel.
"Terima kasih," ucap Ian sembari menyelipkan lembaran duaratus ribu di saku baju sang bellboy.
Mengetahui itu, pria muda tersebut mengucapkan terima kasih pada Ian berkali-kali sebelum beranjak pergi.
Ian meletakan koper miliknya terlebih dahulu di dalam kamar lalu kemudian mengantar koper Axton ke kamar sebelah.
"X, kopermu sudah datang." Ian mengetuk pintu kamar Axton.
Tak ada sahutan apapun dari dalam.
__ADS_1
"X? Kau sudah tidur?" Ian mengetuk pintu kamar Axton sekali lagi.
Hening. Tak ada suara apapun yang keluar dari dalam kamar Axton.
Tak ingin terjadi apa-apa, Ian bergegas pergi ke bagian resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Axton.
Sekembalinya dari bawah, Ian segera memutar kunci kamar Axton dan masuk ke dalam sana.
Dahinya mengernyit ketika melihat kamar tersebut dalam keadaan kosong. Tetapi ia mendengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi.
"X, kau di dalam?" tanya Ian sembari menggedor pintu kamar mandi.
Tak ada sahutan.
"X! Axton!" Ian terus berteriak memanggil nama Axton beberapa kali. Namun lagi-lagi tak ada sahutan dari dalam.
Tanpa pikir panjang, Ian segera mendobrak pintu kamar mandi.
"Sial!" umpatnya tatkala mendapati Axton dalam keadaan nyaris tak sadarkan. Ian segera memapah Axton keluar dari sana menuju tempat tidur.
Pria itu hendak menelepon ambulance untuk menjemput mereka, namun Axton melarangnya. Ia menjatuhkan ponsel yang Ian pegang.
"Kau harus ke Rumah Sakit! Lihat keadaanmu! Jangan seperti orang tolol!" hardik Ian.
Axton menggeleng. "Dingin." hanya itu yang sanggup ia katakan.
Mendengar itu, Ian segera mematikan AC kamar dan membantu Axton berganti pakaian. Setelah selesai, Ian langsung menyelimuti seluruh tubuh Axton. Ia bahkan menggunakan selimut di kamarnya supaya lebih tebal.
Ian terduduk lesu di kursi. Matanya memandang Axton yang kini sedang tertidur. Kendati tidur, bibir sahabatnya itu tak berhenti menyebut nama Anya.
Belasan tahun mengenal Axton, Ian tak pernah melihat pria itu sungguh-sungguh mencintai seorang wanita. Seingatnya, pada Hana pun, Axton tak akan sudi menghiba.
"Cepat sadar bodoh! Kau harus lebih berusaha lagi." Gumam Ian pelan.
...***...
Setelah lama menangis, Anya tertidur di pelukan Dania. Dibantu Jagat, wanita itu merebahkan tubuh Anya dengan sangat hati-hati.
Para Ibu yang sebelumnya menjenguk Anya sudah pamit pulang. Kejadian tadi membuat mereka bergegas pergi. Mereka tak ingin mencampuri urusan keluarga Anya.
Elang masuk ke dalam ruangan bersama Kinanti. Jejak-jejak airmata jelas terlihat di wajah gadis itu.
Dania segera menghampiri Kinanti dan memeluknya.
"Oh, anakku," ujar Dania sembari mengelus punggung Kinanti yang kembali menangis terisak.
Dania sudah mendengar sedikit cerita dari Jagat perihal rumah tangga Anya. Ia tak menyangka Anya harus menjalani perjodohan yang ditawarkan Maxim, teman lamanya.
Maxim dan Sigit merupakan sahabat semasa SMA. Sedangkan Dania adalah adik kelas mereka. Kedekatannya dengan Sigit membuat Dania mengenal Maxim.
Dania melepaskan pelukannya. Wanita itu menghapus jejak airmata Kinanti.
"Jagat, bawa Kakakmu pulang. Kalian sebaiknya beristirahat di rumah Mbak Anya, biar Bunda yang berjaga di sini." Kata Dania.
Jagat mengangguk. "Maaf merepotkan, Bu," ucap Jagat merasa tak enak.
"Bun," Dania mengoreksi ucapan Jagat.
"–Bun," ucap Jagat canggung. Dania tersenyum. Ia berpesan pada keduanya untuk berhati-hati.
Selepas kepergian kedua anak kembar tersebut, Dania menghampiri Elang yang tengah berdiam diri di depan jendela. Pria itu memandangi hamparan Kota dari balik kaca.
__ADS_1
Dania menyentuh lembut lengan kekar sang anak.
"Bun," ujar Elang.
"Ya, sayang," sahut Dania
"Aku ...," Elang menghentikan perkataannya.
Dania menatap Elang dari pantulan jendela. Rupanya Elang sedang berusaha tak menunjukan emosi apapun, padahal jelas-jelas matanya kini berkaca-kaca.
"M–maafkan aku," ucapnya terbata.
Dania tersenyum haru. Wanita itu mendekap tubuh sang anak yang jauh lebih tinggi. "Kau tahu bukan, siapa yang seharusnya mendapat permintaan maafmu?"
Elang menganggukan kepalanya. Helaan napas pria itu terdengar bergetar.
...***...
Satu minggu kemudian.
Perawat membuka tirai layar ranjang Anya. Ia baru saja membantu Anya berganti pakaian sekaligus memeriksa kondisinya.
"Pendarahan Bu Anya sudah berhenti, jadi Bu Anya tidak perlu lagi memakai pembalut. Tetapi untuk lebih memastikan, dokter Maya akan melakukan pemeriksaan lebih mendalam. Beliau sedang visit, mungkin sebentar lagi sampai." Dania dan Kinanti memekik senang. Mereka mengucapkan terima kasih pada sang perawat hampir bersamaan.
Sembari tersenyum ramah, perawat tersebut mengangguk lalu undur diri. "Jangan bangun dulu ya, Bu," pesannya pada Anya.
Anya mengangguk.
Jagat dan Elang masuk ke dalam ruangan. Dania segera memberitahu kedua pria tersebut. Raut kelegaan segera terpancar dari wajah mereka.
Kinanti menghampiri Anya, "Sekarang, jangan pikirkan hal apapun ya, Mbak," titahnya.
"Iya." Anya mengelus pipi Kinanti. Matanya menatap teduh sang adik.
Drrt.. Drrt..
Elang mengambil ponselnya dari dalam saku.
Matanya menatap malas ke layar ponsel.
Bedebah calling.
Ini sudah kali keenam Axton menelepon dirinya demi menanyakan kondisi Anya. Dua hari setelah pertemuan mereka, entah bagaimana Axton datang menemui Elang di Kantor. Axton pasti mencari tahu soal dirinya, sebab ia memohon ijin padanya agar dapat dipertemukan dengan Anya.
Elang menolak mentah-mentah permohonan Axton. Dia bahkan menendang dan menyeret Iparnya tersebut keluar dari Kantor. Axton hampir saja membuat keributan besar di sana jika Ian dan beberapa pengawal yang mendampinginya tak segera menahan.
Axton marah. Pria itu menyuruh mereka datang untuk membantunya mengacak-acak Kantor Elang, bukannya malah membantu Elang menghalangi dirinya.
Namun, seperti tak kehabisan akal, Axton tahu-tahu sudah mendapatkan nomor telepon pribadinya.
"Keluarga Caldwell memang brengsek!" umpat Elang kala itu.
Alhasil, Axton menerornya hampir setiap dua jam sekali, setiap hari. Kendati Elang menghardik dan mengancam akan membunuhnya, Axton sama sekali tidak gentar.
Dan Elang, mau tak mau harus meladeni telepon pria itu.
"Aku keluar sebentar," ujar Elang pada Ibu dan adik-adiknya.
"Siapa yang menelepon, sayang?" tanya Dania.
"Manusia tolol tak tahu diri." Jawaban Elang membuat ketiga orang di dalam sana mengernyitkan dahi.
__ADS_1